Nabi Muhammad Saw merupakan pribadi yang memuliakan perempuan. Ketika kondisi sosial masyarakat pada zaman Rasul hidup, masyarakat kerapkali memperlakukan perempuan dengan sewenang-wenang, Rasulullah justru menampilkan sikap ramah dan lembut terhadap perempuan. Ketika perempuan dianggap memiliki kedudukan lebih rendah daripada laki-laki, justru Nabi mengangkat derajat perempuan melalui sikap dan tindakannya menghormati perempuan.

Rasulullah Saw mengumpamakan perempuan dengan kaca sebagai pertanda kelemahan yang harus dilindungi dan diperlakukan secara lemah lembut. Anas bin Malik meriwayatkan, Ummu Sulaim terlihat membawa barang bawaan, sementara Anjasyah, budak Rasulullah dituntunnya, Nabi Bersabda, “Wahai Anjasyah, hati-hatilah kendalimu atas para kaca (perempuan). Maksud daripada lemah lembut terhadap perempuan adalah sebagaimana disabdakan Nabi, “Orang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”

Pesan Rasulullah agar memuliakan, menyayangi dan melindungi perempuan bukan sekedar wacana, melainkan dipraktikannya dalam kehidupan nyata. Kata-kata itu bukan hanyaa menyenangkan perasaan perempuan atau kata-kata tanpa makna, melainkan diaplikasikan setiap hari dan setiap saat, baik ketika di rumah maupun di rumah para sahabat-sahabatnya.

Pernah suatu ketika, Abu Bakar meminta izin untuk datang ke rumah Nabi Muhammad Saw. Namun, setibanya di rumah Rasul, ia mendengar suara tinggi Aisyah. Karena itu Abu Bakar meraih Aisyah hendak menamparnya seraya berkata, “Aku mendengarmu membentak Rasulullah Saw.” Meskipun demikian, niatnya segera dihalangi Rasulullah. Selama beberapa hari Abu Bakar tak bicara dengan Aisyah sampai kembali meminta izin Rasulullah. Abu Bakar lantas berujar kepadsa keduanya, “Bawalah aku dalam kedamaian kalian berdua.”

Perlindungan Rasulullah terhadap perempuan juga begitu jelas sewaktu istrinya cemburu. Rasul mengakui bahwa cemburu adalah salah satu sifat alamiah seorang perempuan. Seringkali para istri Rasul melakukan kesalahan dan dilakukan di dahadapan banyak orang hingga sering menyulitkan Rasul. Namun, Rasul tetap menghargai sikap para istrinya, menyayangi kelemahan dan memaafkan kesalahan mereka, serta tidak tersinggung karenanya.

Anas bin Malik meriwayatkan, suatu hari Rasulullah Saw tengah berada di rumah salah satu istrinya. Seorang utusan dari istri lain datang mengirim wadah berisi makanan. Karena cemburu, istri Rasul memukul rangan utusan itu hingga pecah wadah yang dibawanya. Meskipun demikian, Rasul memungut kedua pecahan wadah itu lalu menggabungkannya dan menaruh kembali makanan di atasnya.

Rasul bersabda, “Ibu kalian sedang cemburu, silahkan dinikmati makanannya.” Mereka pun menyantapnya, sementara Rasul tetap memegang wadah pecahan tersebut sampai diganti dengan yang baru. Rasul kemudian menyerahkan wadah baru kepada sang pengirim dan membiarkan wadah yang pecah di rumah istri yang memecahkannya.

Demikian lemah lembutnya Rasulullah menyikapi perempuan. Rasul bukan hanya pribadi yang menyayangi perempuan melalui keramahan dan akhlakul karimahnya, melainkan juga memuliakan perempuan melalui martabat dan dan sikap lembutnya.

%d blogger menyukai ini: