ISLAMRAMAH.CO, Sebagian ulama menggambarkan syariat sebagai bahtera, tarekat sebagai lautan, dan hakikat sebagai mutiara. Seseorang tidak akan menemukan mutiara kecuali di dasar laut, dan dia tidak akan bisa sampai ke laut kecuali dengan bahtera. Ulama lain menggambarkan ketiganya sebagai buah kelapa; syariat ibarat kulit, tarekat ibarat biji, dan hakikat ibarat minyak yang terdsapat dalam biji. Seseorang tidak akan memperoleh minyak sebelum menumbuk bijinya, dan biji tidak bisa didapat sebelum mengupas kulitnya. Dengan ungkapan lain, syariat adalah ‘Ibadah, tarekat adalah ‘ubudiyah, dan hakikat adalah ‘abudah.

Abu ‘Ali ad-Daqqaq mengatakan, “ibadah adalah apa yang dilakukan orang awam, ‘ubudiyah adalah yang dilakukan oleh kaum khawash, dan ‘abudah bagi kaum khawas al-khawas.” Syaikhul Islam mengatakan bahwa orang yang bersabar dalam mewujudkan kehendak Allah adalah orang yang sanggup mengemban beban taklif (beban syariat) demi mengharap balasan dari Allah. Dengan harapan tersebut, ia akan mencapai maqam ‘Ibadah. Sedangkan orang yang ridha atau tenteram jiwanya dalam mewujudkan kehendak Allah berada pada tingkatan ‘ubudiyah, dan tingkatan ‘abudah ditempati orang-orang ‘arif.

Perhatikanlah wahai orang yang menghendaki kebajikan, aku akan menguraikan kepadamu melalui kitab Bidayah al-Hidayah untuk melatih jiwa dan menguji hatimu. Jika di dalam hatimu ada kesan yang melahirkan rasa suka cita, dan jika jiwa yang ada dalam hatimu cenderung secara sukarela kepada kitab ini, raihlah pendakian ini menuju puncak dalam menyelami lautan ilmu tentang rahasia-rahasia agama yang amat dalam.

Akan tetapi, jika hatimu merasa berat saat berhadapan dengan kitab Bidayah al-Hidayah ini, atau seolah-olah hatimu berkata, “Boleh jadi aku akan mengamalkan berdasarkan ilmu yang kudapat darinya”, atau engkau memutuskan untuk menunda-nunda apa yang seharusnya kau amalkan, ketahuilah wahai penuntut ilmu, jiwa yang mendorongmu untuk mencari ilmu dalam kondisi seperti ini adalah jiwa yang menyeru pada keburukan.

Ia adalah an-nafs al-ammarah bi as-su’i, atau jiwa angkara murka yang tunduk pada tipu muslihat setan yang memperdayaimu menuju jurang kehancuran. Setan bertujuan menimpakan keburukan atas dirimu dalam bentuk kebaikan sehingga engkau akan terjerumus dalam golongan manusia yang merugi. Mereka adalah orang-orang yang melakukan amal perbuatan dengan harapan memperoleh keutamaan, namun justru memperoleh kehancuran.

Amal perbuatan mereka di dunia menjadi sia-sia karena mereka menjadi pengikut setan. Mereka mengira telah berbuat kebajikan yang akan mendatangkan balasan baik karena mereka menganggap dirinya telah berada di atas jalan kebenaran. Allah Swt berfirman: “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Apakah (kamu mau mendengarkan kalau) Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatan-perbuatannya? (Yaitu) orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka dalam kehidupan dunia (akibat keingkaran dan ketiadaan iman kepada Allah), sedangkan mereka (selalu) menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 102-104).

%d blogger menyukai ini: