ISLAMRAMAH.CO, Dalam salah satu ceramahnya di depan ribuan jamaah Masjid Istiqlal, Jakarta, Prof Dr Quraish Shihab menegaskan, dalam konteks kebangsaan tidak ada istilah mayoritas dan minoritas. Semua warga negara melebur dalam kebangsaan yang sama dan memiliki hak dan kewajiban yang sama pula.

Meskipun dalam realitas kehidupan masyarakat terdiri dari beragam suku, tradisi, dan agama yang berbeda, namun itu semua tidak mengurangi sedikitpun status kebangsaan yang berbeda. Justru dari beragam perbedaan itu tercipta harmoni kebangsaan yang indah, di mana masing-masing perbedaan menjadi kekuatan yang kokoh untuk merajut persatuan dan kesatuan.

Menurut pakar tafsir terkemuka asal Indonesia itu, kebangsaan sejatinya manifestasi dari ketinggian tauhid seseorang. “Di pusat tauhid beredar kesatuan bangsa, kendati mereka berbeda agama dan suku, berbeda kepercayaan dan pandangan politik, namun semua mereka bersaudara sebangsa dan berkedudukan sama dari segi kebangsaan,” jelasnya.

Tokoh yang juga pendiri Pusat Studi Ilmu al-Quran itu menambahkan, sejatinya sejak masa Nabi Muhammad SAW, istilah kebangsaan sudah diperkenalkan. Di mana masing-masing kelompok tidak memiliki hak dan kewajiban yang istimewa daripada kelompok yang lain.

“Sejak masa Nabi Muhammad SAW, beliau telah memperkenalkan istilah dalam konteks kebangsaan ini lahum malana wa ‘alaihim ma alaina, mereka mempunyai hak dari segi kebangsaan sama dengan hak kita, dan mereka juga mempunyai kewajiban, sama dengan kewajiban itu,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dalam konteks kebangsaan, tidak ada istilah mayoritas dan minoritas. Semua melebur menjadi satu bangsa, satu Tanah Air dan seluruh masyarakat memiliki kedudukan dan kewajiban yang sama.

“Karena itu, dalam tinjauan kebangsaan dan kewarganegaraan negara, tidak ada istilah mayoritas dan minoritas. Karena semua telah sama dalam kewarganegaraan negara dan lebur dalam kebangsaan yang sama,” pungkas Quraish Shihab.

%d blogger menyukai ini: