ISLAMRAMAH.CO, Dalam suatu ceramahnya saat mengisi tausiyah di Pendopo Bupati Brebes, Jawa Tengah (21/03) lalu, Nyai Sinta Nuriyah Wahid mengingatkan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Menurut Nyai Sinta, semua elemen masyarakat mempunyai tugas yang sama untuk memajukan Indonesia kendati memiliki latar belakang yang berbeda.

Ibu Nyai Shinta mengibaratkan negara Indonesia sebagai taman bunga yang besar dan indah, di mana setiap bunga yang tumbuh akan memperkaya taman itu dan menciptakan harmoni yang indah. “Bunga-bunga itu tumbuh pada batangnya sendiri. Semuanya menghiasi taman bernama Indonesia,” ujar tokoh ulama perempuan Indonesia yang baru saja mendapat penghargaan sebagai 100 perempuan paling berparuh di dunia versi majalah Time tersebut.

Menurut Nyai Shinta, di dalam taman bunga tersebut, tidak bisa dipaksakan mawar agar bisa berubah menjadi anggrek ataupun sebaliknya, karena perbedaan yang ada bersifat mendasar. Penyeragaman terhadap perbedaan adalah menyalahi fitrah Ilahi. Karena itu, Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku, agama, dan budaya hanya bisa bersatu dengan mengedepankan sikap saling menghargai dan toleransi.

“Itulah cerminan negara Indonesia. Negara ini terdiri dari berbagai suku, bangsa, agama, etnis, dan bahasa. Tak bisa memaksakan suatu suku menjadi suku lain, dan lain sebagainya,” ungkap Nyai Shinta.

Ibu Nyai Shinta Wahid juga mengingatkan, sebagai saudara sebangsa dan setanah air sudah seharusnya hidup rukun berdampingan dan menjauhi saling bertengkar, hujatan dan caci maki. Keberagaman seharusnya memperkuat persatuan dan kesatuan, dan bukan justru merapuhkan persatuan. Karena persatuan dan kesatuan merupakan ajaran semua agama.

“Di Indonesia, agama dan suku bangsa manapun bisa hidup berdampingan tanpa harus mengganggu satu sama yang lain. Maka hargailah perbedaan,” ungkapnya.

Istri mendiang almarhum Gus Dur itu berpesan, agar Pancasila dan rukun Islam tidak sekedar menjadi hafalan, namun diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Nyai Shinta, tingginya hoaks dan fitnah merupakan bukti kedua komponen tersebut belum diamalkan. Karena itu jangan sampai berita bohong dan fitnah meruntuhkan persatuan yang sejak dulu kita bangun.

“Apa yang terjadi di masyarakat saat ini sangat miris. Fitnah dan hoaks merajalela. Ini menunjukkan masyarakat sudah kehilangan hati nurani. Tali persaudaraan kian longgar, gampang diputuskan oleh orang lain. Bila sudah putus, Indonesia berantakan oleh ulah tangan penghuninya sendiri,” pungkas tokoh kelahiran Jombang tersebut.

%d blogger menyukai ini: