Indonesia Negeri Perdamaian Dunia

ISLAMRAMAH.CO, Indonesia adalah rumah bersama. Perbedaan yang bersumber dari agama, ras, maupun suku tidak menjadikannya terpecah-belah. Keadaan damai inilah yang seharusnya dipertahankan oleh masyarakat terutama generasi muda, sebagai pelanjut tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Segenap masyarakat Indonesia patut bersyukur, semua damai, semua nyaman.

Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Habib Husein Ja’far Al Haddar merasa bersyukur menjadi bagian dari warga Indonesia. Menurutnya, budaya masyarakat Indonesia adalah budaya cinta damai dan sopan-santun. “Kita hidup di Indonesia yang negeri terlampau damai, bukan damai, (melainkan) terlampau damai,” kata Habib Husein saat menjadi narasumber di acara Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) di Jeruk Purut, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Habib muda yang mempunyai ribuan jama’ah digital di kanal Youtube Jeda Nulis itu mencontohkan salah satu budaya di Nusantara yang mengedapankan kesopanan, yaitu ketika orang Jawa ataupun Sunda kakinya terinjak oleh kawannya, maka ia dengan halus memberi tahu sembari meminta kalau kakinya terinjak. Berbeda dengan kebanyakan orang Arab yang langsung mengucap laknat dan sumpah serapahnya. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Indonesia adalah budaya yang arif dan adiluhung. “Orang Sunda, orang Jawa itu kalau diinjak kakinya masih (bicara dengan dengan halus) ‘Nyuwun sewu, kaki saya keinjek’, kalau orang Arab kan terinjak (ngomong) ‘Hai, mal’un (terkutuk) ente, himar, keledai’,” papar Habib Husein.

Habib yang menempuh studinya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut memaparkan, kultur budaya Indonesia yang sedemikian damai menjadikan ciri khas Islam Indonesia menjadi sejuk dan ramah. Sehingga ketika ada dakwah yang bermuatan keras maka akan tertolak dengan sendirinya. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam keras bukanlah wajah Islam Indonesia.

“Makanya di Indonesia ya walau pun mau didakwahkan seperti apa, yang namanya kekerasan tidak akan laku sebagai basis budaya Indonesia. Ajaran itu (kekerasan yang puncaknya terorisme) mau dijejalkan seperti apa tidak akan laku,” pungkas Habib kelahiran Bondowoso, Jawa Timur tersebut.

Comments
Loading...