ISLAMRAMAH.CO, Kekerasan atas nama agama hingga kini masih menjadi fenomena yang mudah ditemui. Kekeliruan dalam memahami esensi ajaran agama menjadi salah satu faktor sebagian kelompok bersikap fanatik dan melegalkan kekerasan. Sikap fanatik yang berlebihan bisa membuat orang tidak mampu bersikap adil, sebagaimana cinta yang berlebihan akan membuat orang tidak bisa melihat kekeliruan darinya.

Pesan itulah yang disampaikan Rais Syuriah Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin atau Gus Ishom dalam menyikapi berbagai rentetan kekerasan yang berdalih menjalankan ajaran agama. Sikap kekerasan atas nama agama bukan hanya perilaku yang dikecam oleh agama, melainkan juga sikap mengotori kesucian agama itu sendiri.

Menurut Gus Ishom, orang yang mengaku beragama selayaknya mengedepankan semangat cinta dan kasih sayang. Perjuangan yang sejati dalam menegakkan agama sesungguhnya adalah perjuangan dengan jalan damai tanpa dibumbui dengan praktek kekerasan dan kebencian.

“Cinta itu universal, diajarkan oleh semua agama, namun ia membutuhkan ketulusan dalam praktik keberagamaan, sehingga tidak terbatasi oleh hal lahiriah semata,” terang Dosen UIN Raden Intan Lampung itu.

Gus Ishom menjelaskan kekakuan pada bunyi teks lahiriah semata akan melahirkan pemahaman yang sempit dan kaku. Lebih-lebih penafsiran yang hitam putih ini dijadikan alat untuk menghukumi orang lain yang berbeda dengan penafsirannya, maka pasti mengekpresikan sikap yang kaku pula. Sikap tersebut sejatinya sudah tercerabut dari ajaran agama yang memprioritaskan cinta dan kasih sayang. Muslim yang baik adalah yang menuntun ke surga bukan sibuk mengafirkan orang lain agar masuk neraka.

“Sehingga surga yang luas itu menjadi sempit, sedangkan seolah hanya dirinya sajalah pemegang kunci surga itu, dan ia pulalah yang bisa menentukan bahwa hanya golongannya saja yang mungkin menghuninya,” pungkas ulama muda kelahiran Lampung tersebut.

%d blogger menyukai ini: