ISLAMRAMAH.CO, Islam Nusantara kini mulai dikenal dunia, bahkan banyak negara-negara di dunia tertarik menjadikan Islam Nusantara sebagai contoh keberislaman masa depan. Hal itu bukan buaian semata, faktanya Islam Nusantara dengan corak keberislaman yang moderat, ramah dan toleran terbukti mampu mendamaikan segala bentuk perbedaan yang ada. Tak hanya itu, Islam Nusantara juga mampu menyatukan agama dan nasionalisme.

Berbeda dengan banyak negara yang memiliki penduduk mayoritas sebagai muslim, khususnya di Timur Tengah, Islam di Indonesia relatif lebih stabil secara politik, ekonomi dan budaya. Menurut Kiai Said Aqil Siroj, kesuksesan Islam ala Indonesia ini tak lepas dari peran besar pendiri Nahdlatul Ulama, yakni Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari atau yang dikenal Mbah Hasyim.

Mbah Hasyim dinilai sebagai inisiator dan pencetus Islam Nusantara. Kecerdasannya melihat kondisi sosial politik tatanan dunia yang begitu kompleks membuatnya berijtihad untuk mengonsolidasikan para ulama untuk menjaga nilai-nilai dan tradisi Islam di Indonesia untuk merespon perkembangan sosial-politik dunia yang makin kompleks. Bahkan menurut Kiai Said, jauh sebelum Indonesia merdeka, Mbah Hasyim telah memiliki gagasan kebangsaan dan keagamaan yang melampaui zamannya.

“Puncaknya Islam Nusantara adalah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Pada tahun 1914 jauh sebelum lahir NKRI, NU belum ada, Kiai Hasyim sudah punya gagasan, visi misi, cita-cita ingin menyatukan antara Islam dan Nasionalisme,” jelas Kiai Said dalam salah satu ceramahnya yang diunggah di Youtube.

Dalam pandangan Kiai Said, tidak ada ulama di dunia ketika itu yang berani mengatakan mencintai Tanah Air merupakan manifestasi dari iman, kecuali Mbah Hasyim. Menurut Kiai Said, di berbagai belahan dunia para ulama dikenal tidak nasionalis, dan seorang nasionalis bukan ulama, sehingga antara aspek kebangsaan dan keislaman selalu bentrok.

Oleh karena itu, Mbah Hasyim bersama Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Bisri Syansuri merumuskan kesesuaian antara aspek nasionalisme dan agama. Berkat ijitihad Mbah Hasyim dan ulama-ulama Nusantara yang lain, maka umat Islam Indonesia mampu menerima nasionalisme sekaligus agama. rumusan itu melahirkan adagium hubbul wathan minal iman, antara agama dan nasionalisme tidak bertentangan, justru keduanya saling melengkapi.

“Tidak ada ulama sedunia yang mengatakan hubbul wathan minal iman, sedunia hanya Mbah Hasyim yang mengatakan. Di Timur Tengah, ulama tidak nasionalis, nasionalis tidak ulama.  Di Indonesia, KH Hasyim Asy’ari Ulama nasionalis, Kiai Wahhab, Kiai Bisri Syanshuri juga ulama nasionalis,” pungkas Kiai Said.

%d blogger menyukai ini: