ISLAMRAMAH.CO, Khutbah merupakan salah satu rukun shalat Jumat yang harus dilaksanakan, karena tanpa khutbah, shalat Jumat bisa batal. Oleh karena itu, pesan dakwah yang disampaikan dalam khutbah harus membawa kesejukan dan optimisme umat, dan bukan justru provokasi dan caci maki. Begitu pula dengan takmir masjid, sudah seharusnya selektif memilih khatib Jumat yang berperilaku santun dan berpikiran moderat.

Pesan tersebut disampaikan oleh Rais Syuriah Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Ishomuddin atau yang akrab disapa Gus Ishom dalam menanggapi maraknya khutbah Jumat yang dijadikan sebagai ajang kampanye dan provokasi. Menurut Gus Ishom, pemilihan khatib Jumat secara selektif merupakan keniscayaan agar khutbah yang disampaikan sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang damai, dan bukan sebagai kampanye politik praktis.

Gus Ishom menekankan, sikap selektif tersebut bukan bermaksud berlebih-lebihan dalam beragama, namun dalam rangka mempertimbangkan madharat (kerusakan) yang akan timbul karena khutbah yang negatif. Menuru Gus Ishom, khutbah yang didengarkan oleh seluruh jamaah, dalam jangka panjang akan memengaruhi mereka untuk bertindak kasar dan radikal.

“Hendaklah dipilih khatib-khatib yang akhlaknya santun, moderat di dalam beragama Islam. Bukan berlebih-lebihan di dalam beragama asbab ucapan khatib bakal didengarkan dan perilakunya diikuti oleh ummat,” terang dosen syariah IAIN Raden Intan Lampung itu.

Kiai muda yang dikenal karena keramahannya tersebut menambahkan, takmir masjid juga harus hati-hati mengingat sekarang banyak bermunculan khatib yang memanfaatkan mimbar Jumat untuk kepentingan dunia, seperti nafsu politik yang di dalamnya rawan ditanami benih-benih kebencian dan perpecahan.

“Tidak sedikit di antara khatib Jumat itu yang sungguh belum memahami substansi agama. Agama Islam ini diturunkan guna menciptakan kemaslahatan dan menghindarkan seluruhnya mafsadat (kerusakan). Maka apa saja yang disampaikan bahkan apabila dapat mengakibatkan mafsadat  wajib dihindari,” jelasnya.

Namun jika sudah terlanjur menemui khatib yang menyampaikan khutbah provokatif tersebut Gus Ishom mengingatkan agar jamaah  tidak mengikuti ajakannya. Jamaah yang hadir pun tidak perlu meninggalkannya tetapi mencegah agar tidak khutbah lagi di kemudian harinya, karena ajakan kepada keburukan akan menghasilkan dosa.

“Jama’ah masjid dalam shalat Jumat tidak  perlu meninggalkan khatib dalam pengertian keluar dari masjid meninggalkan rukun ibadah Jumatnya. Ibadah Jumatnya tetap sah tapi khatib tersebut berdosa asbab menganjurkan perbuatan dosa dan menganjurkan sikap guna saling bermusuhan,” pungkas Gus Ishom.

%d blogger menyukai ini: