ISLAMRAMAH.CO, Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Magelang KH Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf dalam suatu ceramah di Haul Gus Dur ke 7 di Magelang , menyampaikan keprihatinannya melihat ruang interaksi di media sosial yang dipenuhi ujaran kebencian dan adu domba antar pengguna medsos lainnya.

Menurut Gus Yusuf, keberadaan medos yang digunakan untuk ajang saling menjelekkan tersebut mengubah fungsi medsos yang awalnya membawa anugerah berubah menjadi musibah. Berbagai ujaran kebencian, caci maki dan konten negatif bisa dengan mudah bisa ditemui di medsos. Karena itu, jika medsos lebih banyak diwarnai konten negatif daripada konten positif, maka medsos bisa menjadi musibah.

“Keberadaan media sosial saat ini, tidak lagi sebagai anugerah, tetapi musibah. Pasalnya  isi yang terkandung  dalam media sosial itu saling hujat, mencaci, dan saling menjelekkan,” ujar Gus Yusuf

Gus Yusuf menyampaikan bahwa adanya media sosial hendaknya digunakan untuk hal yang positif dan membangun spirit persatuan, dan bukan justru dijadikan media untuk memecah-belah. Menurut Gus Yusuf, medsos ibarat pisau bermata dua, yaitu membawa anugerah sekaligus musibah jika tidak dikelola dengan baik.

“Media sosial sebenaranya anugerah kalau dimanfaatkan dengan baik, tetapi media sosial juga bisa menjadi musibah ketika tidak dikelola dengan baik,” terang kiai alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri tersebut.

Ulama kelahiran Magelang tersebut berpesan agar setiap individu atau kelompok yang menggunakan media sosial untuk bersikap zuhud. Sikap zuhud harus diterapkan agar setiap pihak bisa menahan diri dari sikap saling memfitnah dan menjelekkan. Keberadaan media sosial hendaknya membawa spirit persatuan dan bukan alat pemecah belah.

“Zuhud artinya menahan diri, jadi kita bermain media sosial oke, tetapi tetap dengan pikiran waras dan kontrol diri,” pungkas Gus Yusuf.

%d blogger menyukai ini: