ISLAMRAMAH.CO, Derap laju teknologi di era informasi ini mengakibatkan geliat pertukaran informasi dan literasi digital tak bisa dihentikan. Men-update, men-share, dan men-upload informasi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat kita. Arus informasi yang mengalir deras tersebut membuka keran hoaks atau kabar bohong yang berpotensi menimbulkan polemik di masyarakat. Oleh karena itu, setiap masyarakat harus bijak dalam menggunakan media sosial.

Pesan tersebut disampaikan oleh Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nadhlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Anwar Manshur dalam suatu ceramahnya yang diunggah di Youtube untuk menanggapi maraknya hoaks yang beredar di media sosial. Menurut kiai Anwar, prinsip tabayyun atau klarifikasi harus dikedepankan untuk membendung arus hoaks yang dinilai sangat berbahaya dampaknya bagi persatuan masyarakat.

“Kalau kita mendengar sesuatu yang belum jelas, jangan langsung disebarkan. Jika datang seorang fasiq membawa berita maka telitilah,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo tersebut.

Menurut Kiai Anwar Manshur, orang yang gemar mengadu domba dan membicarakan aibnya kepada orang lain adalah orang yang fasik. Karena itu masyarakat harus berhati-hati agar tidak menjadi golongan orang yang fasik, yaitu orang yang gemar melakukan adu domba melalui berita-berita bohong yang ia sebarkan.

Dalam pandangan Kiai Anwar Manshur, Tabayyun sangat penting dilakukan agar setiap informasi yang beredar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Dampak bagi orang yang menyebarkan hoaks juga sangat berat sesuai dengan hadis Nabi SAW yang menyatakan laa yadkulul jannata nammamun, tidak masuk surga bagi seseorang pengadu domba.

“Perilaku orang fasik itu selalu membuat kebohongan dan adu domba, jadi siapa saja yang hobinya mengadu domba dan suka membicarakan aib orang lain ke setiap orang itulah namanya orang fasik. Kalau ada orang yang seperti ini, jangan dipercaya maka harus tabayyun (klarifikasi) kalau sebelumnya kamu tidak mau bertabayyun, maka yang rugi itu dirimu sendiri,” pungkas Kiai Manshur.

%d blogger menyukai ini: