ISLAMRAMAH.CO – Dalam setiap khutbah Jum’at, biasanya seorang khatib selalu berpesan kepada para jamaah sholat Jum’at agar senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT. Namun demikian, masyarakat belum tentu paham akan makna takwa itu sendiri. KH Mustofa Bisri atau yang biasa disapa Gus Mus dalam salah satu ceramahnya di Youtube menjelaskan secara luas tentang makna taqwa.

Kiai yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Raudhlatut Thalibin, Rembang tersebut memaparkan makna takwa dalam dua definisi besar. Pertama, takwa ibarat orang yang tinggal di sebuah lingkungan yang penuh dengan duri. Karena itu, diperlukan kehati-hatian agar seseorang jangan sampai terkena duri tersebut. Hal itu sama dengan makna taqwa, di mana takwa bisa dimaknai dengan sifat kehati-hatian, jangan sampai seseorang melanggar segala bentuk perintah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Yang kedua, takwa dipahami sebagai suatu sikap untuk menjalankan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan yang sudah termaktub dalam al-Quran maupun hadis. Makna taqwa ini sesuai dengan definisi taqwa yang biasanya disyi’arkan oleh para muballig yaitu “meninggalkan segala bentuk larangan Allah, dan menjalankan segala bentuk perintah yang telah Allah tetapkan kepada umat Islam.”

“Setidaknya takwa memiliki dua makna, yang pertama kita jangan sampai melanggar batas perintah Allah, yang kedua melaksanakan semua perintah dan menghindari semua larangan Allah,” Ujar Kiai yang juga dikenal sebagai budayawan tersebut.

Kiai yang juga dikenal melalui puisi-puisinya tersebut menjelaskan tentang kesalahan masyarakat yang masih menganggap bahwa larangan Allah hanya musyrik, mencuri, maupun berzina. Padahal perbuatan-perbuatan seperti menggunjing kejelekan orang lain juga bisa menurunkan kadar ketakwaan seseorang terhadap Allah SWT. Karena itu, perbuatan yang sifatnya dapat mencerminkan kotornya hati seperti menggosip, menggunjing dan menebar kebencian, merupakan bentuk dari perbuatan yang dapat merusak ketaqwaan seorang muslim.

“Biasanya orang terpaku bahwa larangan Allah hanya musyrik, mencuri, dan berzina, padahal bergosip dan menyebarkan kejelekan orang lain akan menurunkan kadar ketakwaan seseorang,” pungkas Mustasyar PBNU tersebut.

Editor: Akhmad Khan

%d blogger menyukai ini: