إنّ الحمد للّه، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ به من شرور أنفسنا، ومن سيّئات أعمالنا، من يهده اللّه فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلاّ اللّه وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمّدا عبده ورسوله. أللّهمّ صلّ على محمّد وعلى آل محمّد وأصحابه أجمعين. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أمّا بعد.

Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah Subhānahu Wata’ālā

Allah berfirman di dalam Al-Quran:

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan isinya, “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang (QS. An-Naml: 30).

Ayat di atas merupakan sebuah panggilan bagi kita semua agar senantiasa menerjemahkan kandungan basmalah dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah ungkapan yang sangat mulia, bismillahirrahmanirrahim (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang).

Imam Ar-Razi dalam tafsir Mafatih al-Ghayb berpendapat, bahwa pada suatu hari ratu Bilqis menerima surat yang dikirim Nabi Sulaiman alayhissalam. Surat tersebut dimulai dengan kalimat bismillahirrahmanirrahim. Hal ini membuktikan, bahwa Nabi-nabi umat terdahulu telah menjadikan basmalah sebagai landasan moral dan etis untuk membangun masyarakat yang harmonis dan toleran.

Basmalah merupakan ungkapan keagungan kasih-sayang Allah Subhanahu wata’ala kepada manusia dan alam semesta. Para Nabi terdahulu pun meyakini dan mempopulerkan basmalah.

Para ulama berpendapat, bahwa kalimat ini merupakan puncak dari syariat dan ketauhidan karena di dalamnya terdapat pengakuan atas Dzat Allah Subhanahu wata’ala. Pengakuan semacam ini merupakan prasyarat utama dalam Islam. Pengakuan atas Allah Subhanahu wata’ala harus diletakkan di urutan pertama, sehingga tidak ada pengakuan dan penghambaan kepada selain Allah.

Tapi amat disayangkan, karena dalam perjalanan sejarahnya, manusia seringkali menjadi hamba bagi manusia yang lainnya karena adanya kepentingan sebuah kelompok atas kelompok yang lain. Maka dari itu, Islam hadir untuk membuat pemahaman teologis yang lebih mendekati dan mempunyai kesesuaian dengan konsep tauhid. Dalam ayat lain Allah berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١)اللَّهُ الصَّمَدُ (٢)لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣)وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

(٤)

Katakanlah (Muhammad), Allah adalah yang Maha Esa, tempat bergantung dan memohon, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan Dia tidak mempunyai sekutu apa pun (QS. Al-Ikhlas: 1-4).

Bismillah (Atas nama Allah) merupakan salah satu bentuk penyerahan diri dan ketundukan total kepada Yang Maha Kuasa. “Atas nama Allah” bukanlah paham ketundukan kepada manusia yang dituhankan oleh orang lain atau mereka yang hendak menuhankan dirinya sendiri. Karena itu, kita tidak diperbolehkan menghamba kepada mereka yang mengaku dirinya Tuhan dan kepada mereka yang menghendaki agar diperlakukan sebagaimana Tuhan. Hanya kepada Allah-lah kita bersembah dan meminta pertolongan, iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.

Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah Subhanahu Wata’ala

Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat betapa hubungan antar-individu, kelompok dan bahkan antar agama ditandai dengan kecurigaan, bahkan kebencian. Bukan hanya berhenti pada tahapan tersebut, bahkan sebagian di antara kita menghalalkan segala cara untuk bertindak semana-mena dengan melakukan pengrusakan, konflik sosial, bahkan pembunuhan. Kita senantiasa memohon perlindungan dari Tuhan atas segala perbuatan tersebut (na’udzubillahi min dzaliki).

Sumber dari masalah yang tidak terpuji muncul dari kehendak untuk menguasai atas orang lain. Muncul semacam anggapan, bahwa hanya pihaknya-lah yang paling benar dan paling berkuasa atas kebenaran. Sedangkan orang lain dan kelompok lain dianggap tidak mempunyai otoritas dan hak untuk menentukan kebenaran.

Prof. Khaled Abou El Fadl menyebut perilaku tersebut sebagai “paham otoriter, tapi tanpa otoritas”. Artinya, mereka ingin menggunakan paham keagamaan sebagai cara untuk mengabsahkan tindakan politis dan kepeningan mereka, meskipun sebenarnya mereka telah melupakan hakikat dari Islam yang cinta perdamaian dan toleransi.

Dengan jubah dan klaim kebenaran, mereka berani melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak diperkenalkan oleh Islam, seperti menebar kecurigaan dan kebencian, melakukan pengrusakan dan melukai orang lain. Padahal jika dibaca dan dipahami dengan seksama, bahwa Islam adalah agama cinta-kasih (rahmatan lil ‘alamini). Islam adalah agama yang mendorong pada tumbuhnya saling pengertian dan dialog yang membangun.

Maka dari itu, dalam rangka mengembalikan ruh Islam yang menyejukkan tersebut, kita perlu menghidupkan kembali peradaban basmalah. Yaitu peradaban yang dibangun di atas fundamen kasih (ar-rahman) dan sayang (ar-raham).

Dalam sejumlah kitab tafsir disebutkan,  ar-rahmān merupakan sifat kasih yang khusus untuk Allah subhānahu wata’āla. Selain Allah tidak bisa disebut sebagai ar-rahmān. Dalam Al-Quran disebutkan:

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ

Katakanlah, hendaklah kalian memanggil Allah atau memanggil ar-Rahmān (Maha Kasih) (QS. Al-Isra’: 110).

Secara kebahasaan, ar-rahman berarti kasih yang terlampau banyak dan tak terhingga. Sedangkan yang mempunyai kasih yang tidak terhingga adalah Allah  subhanahu wata’ala. Dia adalah Yang Maha Kasih di antara penebar kasih (arham ar-rahimin). Karena kasih Allah terlampau banyak bagi hamba-Nya, maka Dialah yang patut disembah.

Dalam sebuah peristiwa, dikisahkan bahwa Musailamah pernah mengaku-ngaku sebagai rahma al-yamamah. Hal ini banyak ditentang oleh para sahabat sehingga Musailamah diberi gelar Al-Kadzdzab. Yaitu, pembohong dan pembual. Lalu namanya dikenal Musailamah Al-Kadzdzab karena seringkali membawa kabar bohong dan mengaku-ngaku dirinya sebagai rahman. Jadi, hanya Allah yang patut disebut sebagai ar-rahman, karena kasih-Nya yang begitu besar dan nyata bagi ciptaan-Nya.

Karena Allah disimbolisasikan sebagai ar-rahman, maka Allah harus senantiasa dijadikan cermin oleh setiap manusia agar meneteskan embun kasih-Nya di muka bumi. Allah  Subhanahu wata’ala pasti dan akan menurunkan kasih-Nya ke muka bumi karena kasih Allah sesungguhnya untuk makhluk-Nya.

Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah Subhanahu Wata’ala

Adapun hakikat dari ar-rahim (Sayang Allah), yaitu bahwa sayang Allah diperuntukkan bagi makhluk-Nya. Di dalam surat Al-Haj ayat 25 disebutkan, setiap orang memanggil Allah Maha Pengasih.

Yang dimaksud dengan ar-rahim adalah upaya pendakina menuju Allah Yang Maha Kasih. Karena ar-rahim untuk makhluk-Nya, maka Nabi Muhammad disebut juga sebagai ar-rahim. Beliau adalah Nabi pembawa kasih-sayang kepada umanya. Dalam sebuah hadis disebutkan:

إنّما أنا نبيّ الرّحمة

Saya adalah Nabi (penebar) kasih sayang (HR. Turmudzi).

Sifat ar-rahman dan ar-rahim merupakan sebuah kombinasi yang saling menyempurnakan. Artinya, bahwa kasih sayang adalah sifat yang tidak hanya melekat pada Allah semata, melainkan juga bisa dicapai oleh makhluk-Nya dengan proses-proses yang telah digariskan oleh agama sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.

Mereka yang membawa pesan kasih sayang adalah mereka yang sesungguhnya menempati sebagai ar-rahim. Dalam hal ini, setiap umat harus berusaha untuk menggali nilai-nilai kasih sayang, sebagaimana difirmakan Allah subhanahu wata’ala dalam al-Quran dan disabdakan Rasulullah SAW dalam Sunnah-nya.

Sifat ar-rahman dan ar-rahim juga dapat diartikan bahwa kasih Allah tidak hanya di langit, tetapi juga di bumi. Pendapat teologis seperti ini amat penting agar dilakukan upaya-upaya membumikan kasih sayang-Nya. Allah subhanahu wata’ala adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena itu wajib hukumnya bagi setiap makhluk-Nya untuk menebarkan kasih sayang-Nya di muka bumi.

Menurut Imam Ali karramallahu wahah, basmalah adalah obat bagi setiap penyakit dan pertolongan atas setiap orang. Ar-rahman adalah pertolongan bagi setiap orang yang beriman dan hanya Dialah yang berhak menyandang nama tersebut. Sedangkan ar-rahim adalah pertologan Allah subhanahu wata’ala kepada siapa saja yang mau bertaubat, beriman dan beramal saleh.

Artinya, amat dimungkinkan sekali bagi setiap manusia untuk menerima kasih-Nya dengan cara beriman dan bertaubat serta yang terpenting berbuat amal saleh kepada manusia yang lain. Karena itu, basmalah bukanlah pesan yang semata-mata diperuntukkan bagi Allah semata, melainkan juga diperuntukkan bagi manusia agar menerjemahkan kasih-Nya di muka bumi.

Secara eksplisit tersurat, basmalah membawa pesan cinta damai dan toleransi yang mesti dijadikan pedoman hidup oleh setiap umat Islam dengan cara meneladani Rasulullah SAW sebagai Nabi yang membawa ajaran kasih-sayang kepada umatnya.

Para ulama berpendapat, bahwa basmalah merupakan perintah yang redaksinya berbunyi, “Mulailah dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Karena bentuk redaksinya adalah perintah, maka tidak ada pilihan lain kecuali bahwa setiap umat Islam tidak hanya melafadzkannya, melainkan yang lebih krusial yaitu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Maka dari itu, sepanjang basmalah menjadi tindakan dan laku dalam rangka mengubah bentuk-bentuk pemahaman dan praktik keagamaan yag seringkali digambarkan sebagaimana agama yang menakutkan dan menyeramkan. Dengan basmalah, sebenarnya tersurat kesejatian untuk menjadikan kasih-sayang sebagai filosofi dalam ranah intra-agama dan antar-agama. Kita harus menebarkan kasih-sayang, baik kepada sesama muslim maupun kepada umat-umat yang lain.

Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah Subhanahu Wata’ala

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebenarnya peradaban basmalah dapat menjadi jembatan bagi terwujudnya solidaritas sosial yang berbasis agama-agama. Sebab, agama-agama pada umumnya mengajarkan kasih-sayang. Dalam hal ini dapat ditemukan jawabannya, kenapa para ulama terdahulu mempunyai peradaban yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan peradaban umat saat ini?

Jawaban yang sangat sederhana, karena mereka mampu menerjemahkan basmalah dalam konteks yang lebih tepat dalam rangka membangun kehidupan yang menabur dan menebar kasih-sayang. Perbedaan apapaun yang muncul dalam ilmu pengetahuan tidak digunakan untuk mewujudkan kekerasan dan konflik sosial, melainkan justru untuk memberikan pencerahan kepada umat. Para ulama terdahulu telah meletakkan sebuah keberagamaan yang bersumber dari ajaran kasih-sayang.

Tantangan yang dihadapi peradaban basmalah pada zaman modern ini, tatkala pemahaman terhadap basmalah belum dikaji secara mendalam dan matang. Wajah Allah hanya dipahami sebatas sebagai “atas nama Tuhan”. Sedangkan “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” seringkali tidak menjadi perhatian utama dalam menyelesaikan berbagai macam problem keumatan dan kemanusiaan pada umumnya. Walhasil, pemahaman keagamaan digerakkan untuk membela Allah subhanahu wata’ala. Tapi amat disayangkan, karena hal tersebut hanya dimaknai dalam rangka membela Allah yang disimbolisasikan dengan pedang dan gertakan.

Fenomena semacam ini menjadi tantangan serius, karena pada umumnya pemahaman keagamaan hanya berhenti pada ranah “atas Nama Tuhan”. Pemahaman seperti ini baik, tetapi kurang sempurna. Bahkan bila tidak hati-hati, tidak bisa dielakkan akan menimbulkan bahaya (mafsadah), karena kemudian dijadikan sebagai justifikasi untuk menghalalkan darah dan kekerasan. Dalam masyarakat yang terpuruk dan kehilangan percaya diri, seringkali klaim atas nama Allah mudah disulut untuk melakukan kekerasan.

Maka dari itu, dalam peradaban basmalah di atas ditemukan jawabannya, yaitu pemahaman atas Dzat Allah subhanahu wata’ala juga disertai dan disempurnakan dengan pemahaman atas sifat-sifat-Nya, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kedua sifat Allah tersebut harus mampu membangun peradaban dan keadaban umat Islam dalam rangka menyongsong kehidupan yang pluralistik dan kompetitif.

Peradaban basmalah diharapkan dapat mendongkrak kesadaran kolektif umat Islam untuk menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan yang paling otentik dalam kehidupan sosial. Tidak pada tempatnya bila Islam hanya dipahami sebagai justifikasi kekerasan. Islam harus dijadikan sebagai landasan moral untuk membangun toleransi sesuai dengan misi umatnya. Dalam hal ini, membaca basmalah kapan dan di mana pun harus disertai dengan tekad bulat untuk menebarkan kasih-sayang.

Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah Subhanahu Wata’ala

Allamah At-Thabathaba’i dalam Tafsir Al-Mizan memberikan penggambaran yang menarik perihal basmalah. Menurut dia, memulai setiap pekerjaan dengan basmalah bertujuan untuk mendapat berkah dari Allah subhanahu wata’ala. Tetapi yang terpenting dari itu semua, yaitu agar setiap pekerjaan senantiasa mempunyai ikatan kuat dengan kasih-sayang Allah subhanahu wata’ala. Dengan kasih-sayang-Nya, manusia bisa selamat dari pelbagai petaka.

Di sini, basmalah harus dapat dijadikan sebagai upaya memperbarui niat dari keseluruhan tingkah laku sehari-hari. Setidaknya, kandungan dan pesan yang tersimpan dalam basmalah dapat membangun kehidupan cinta damai dan toleransi.

Dengan demikian, basmalah dapat dijadikan spirit untuk menghidupakn kembali kerukan di antara umat beragama. Ada hikmah yang mesti diambil, tatkala setiap surat al-Quran dimulai dengan Basmalah, yaitu agar toleransi dan kedamaian senantiasa bersemi hingga akhir masa nanti di tengah sinaran kasih-sayang. Mengubah pemandangan dunia yang diselimuti dengan kekerasan menjadi toleransi merupakan sebuah keniscayaan bagi umat Islam, karena basmalah secara eksplisit telah mengabarkan sifat Allah yang paling esensial adalah kasih-sayang. Betapa indahnya hidup damai dan toleran, karena Allah subhānahu wata’ālā adalah sumber kasih-sayang.

بارك اللّه لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإيّاكم بما فيه من الآيات والذّكر الحكيم وتقبّل منّي ومنكم تلاوته إنّه هو السّميع العليم.

 

%d blogger menyukai ini: