Menghidupkan Keberagamaan Peka Perbedaan

KolomMenghidupkan Keberagamaan Peka Perbedaan

Harus diakui, orang yang menilai perbedaan sebagai hal yang mengganggu dan mengancam masih hadir di tengah kita. Ada saja pihak yang seenaknya menghakimi keyakinan atau sikap beragama orang lain, baik intra agama maupun antaragama. Bentuknya pun beragam, mulai dari kekerasan narasi, diskriminasi, bahkan kekerasan fisik. Penghakiman atas kepercayaan orang lain kerap kali dibarengi dengan klaim kebenaran tunggal serta nafsu untuk meniadakan yang tak sama. Sementara itu, perbedaan adalah realitas yang diidealkan Tuhan, yang dalam ungkapan agama disebut sunnatullah. Dengan sendirinya, sikap beragama yang anti terhadap perbedaan telah menyalahi pengaturan-Nya. Beragama peka perbedaan menjadi hal yang tak bisa ditawar di tengah keniscayaan hal-hal berbeda yang ditetapkan Tuhan.

Kehendak Tuhan atas pluralitas membawa misi supaya manusia mempunyai rasa tanggung jawab serta daya juang untuk berlomba memproduksi kebaikan, bukan saling meniadakan. Allah tidak terobsesi untuk menyeragamkan ciptaan-Nya. Dia jelas menegaskan dalam surat al-Maidah [5] ayat 48, bahwa “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat. Tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan”. Perbedaan merupakan perangkat uji dari Tuhan untuk mengukur sejauh mana hamba-Nya mampu mengelola dorongan dirinya menjadi amal-amal yang bajik.

Peka terhadap perbedaan tidak sebatas menginsafi eksistensi perbedaan. Lebih lanjut diperlukan sikap yang bersahabat, akomodatif, dan terbuka membuka pembicaraan sebagai jembatan untuk saling memahami serta menghormati satu sama lain. Kepekaan sendiri mengandung arti sikap tanggap yang didasari perpaduan antara perasaan dan rasionalitas. Manakala diterjemahkan ke area kehidupan, beragama peka perbedaan merupakan pengamalan ajaran agama yang dijiwai kesadaran, kepedulian, kemauan memahami hingga berdialog dengan mereka yang berbeda. Orang yang peka dalam menanggapi perbedaan keyakinan, mereka telah lebih dahulu paham akan ajaran agamanya sendiri, sehingga wawasan itu menjadi pedomannya dalam mengolah rasa dan rasionalitas dalam kaitannya menyikapi relasi antarumat beragama. Pada taraf ini, mereka akan lebih terkontrol dalam membangun persepsi terhadap umat lain keyakinan. Tidak akan mudah menuduh salah ataupun sesat pada yang berbeda.

Lebih lanjut, beragama peka perbedaan memandang perlunya mengenal ajaran agama lain, terlebih yang berkenaan dengan pandangan ajaran agama tersebut terhadap umat lintas iman. Ungkapan yang mungkin klise berikut memang benar adanya dan tepat untuk konteks ini, ‘Tak kenal maka tak sayang’. Melalui perkenalan, akan hadir pengetahuan tentang satu sama lain yang memungkinkan rasa kasih bisa tumbuh. Perasaan curiga di antara orang-orang yang berdiri di level saling mengenal lambat laun akan pupus. Sebab itu, kaum beragama yang pembelajar cenderung lebih toleran dan arif.

Puncaknya, kepekaan terhadap perbedaan dalam beragama tadi mendorong pencarian titik temu antarkeyakinan melalui dialog. Butuh kerja keras dan kerendahan hati untuk memasuki wilayah ini. Di mana dialog tersebut adalah usaha memahami keyakinan lain yang beragam dalam kacamata mereka dan menanggalkan tolok ukur keyakinan pribadi kita. Dialog lintas iman dalam upaya menjembatani perbedaan bukan berarti menyamakan atau menyatukan semua agama, tapi tidak pula mengabaikan apa yang disampaikan oleh agama lain. Tiap pemeluk agama justru harus tetap meneguhi keyakinannya, bukan mengorbankannya. Dialog ini pun tak mereduksi kesetiaan yang jujur atas iman personalnya, malah menguatkan.

Yang dicari bersama adalah titik temu (common platform) dan poin universal antaragama untuk konteks menciptakan kehidupan yang saling menghargai. Dari aspek eskatologis, semua manusia/umat beragama sama-sama mendamba keselamatan, sama-sama mengandaikan apa yang diyakininya adalah jalan menuju Yang Sakral. Islam merupakan agama yang ramah perbedaan, mengakui dan menghormati keberadaan agama-agama lain, memberikan kebebasan bagi para pemeluknya untuk menjalankan keyakinan mereka masing-masing, pun medorong relasi positif dan kerja sama dengan umat lain agama.

Baca Juga  Syeikh Khatib al-Minangkabawi: Imam Besar Masjidil Haram Pertama dari Indonesia

Tersebut misalnya dalam surat al-Baqarah [2]: 62, bahwa Allah mengakui dan mengganjar pahala bagi pelaku kebaikan yang beriman sekalipun dari selain penganut Islam, yaitu dari Yahudi, Nasrani, dan Shabiin. Sementara itu, mengacu pada firman Allah, bahwa “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah adalah Islam” (QS. 3: 19), maka penting diketahui bahwa ‘islam’ sendiri adalah titik temu setidaknya di antara agama-agama samawi; Yahudi, Nasrani, dan Islam yang hadir secara periodik di tengah peradaban manusia. Seperti gagasan inklusif yang disampaikan Cak Nur, islam sebagai titik temu di sini bukan Islam dalam arti organized religion (satu paket agama tertentu), melainkan makna esensial islam yakni sikap penyerahan diri dan tunduk pada Allah yang Maha Esa. Lahir dari rahim yang sama (Abrahamic religion) maka ketiganya memiliki kesempatan yang sama pula untuk dinyatakan benar dan selamat selagi mereka berislam secara autentik, selain itu juga mentauhidkan Allah, mengimani hari akhir, serta berbuat baik, seperti yang tercatat dalam QS. al-Baqarah ayat 62 di atas.

Adapun dari dimensi nilai, agama-agama mendorong pada cinta, perdamaian, keadilan, juga penghormatan kemanusiaan. Orang-orang yang menghayati ajaran agamanya masing-masing, mereka akan berjumpa di poros ini, menjalani keberagamaannya yang organik. Kiranya dengan berdialog, perasaan paling benar dan yang lain salah, bisa ditekan sehingga bisa melangkah maju menuju iklim kolaborasi antarumat beragama untuk memperjuangkan nilai-nilai tadi. Sasaran utama dari kerja sama tak lain adalah menuntaskan persoalan kehidupan yang riil dihadapi umat manusia dalam kerangka pembangunan peradaban.

Pluralitas adalah norma Tuhan yang tak bisa ditawar. Karena itu yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana kita menyikapinya. Sementara Tuhan memerintahkan manusia yang berbeda-beda untuk saling kenal juga gotong royong di muka bumi ini, maka penyikapan utama adalah dengan saling memahami dan berhubungan baik satu sama lain. Penghargaan yang timbal balik akan mencegah konflik serta mendorong terawatnya keadilan.

Agama-agama itu seperti halnya jalan-jalan yang berbeda menuju satu tujuan, Tuhan. Masing-masing mengajarkan penganutnya untuk beramal saleh. Tugas paling asasi bagi kita sebagai makhluk sosial adalah tidak menghakimi apa yang diyakini orang lain. Mengapa ini penting? Sebab, tidak ada di antara umat beragama yang rela dirinya dituduh sesat atau kafir. Masing-masing memiliki pandangan kebenarannya sendiri. Sebab itu, kesadaran untuk menghormati pemeluk keyakinan lain, minimalnya dibangun lewat perasaan sebagai manusia yang secara naluri menolak dianggap sesat. Untuk kemudian sadar bahwa tren tuduhan semacam itu sangat mudah memicu konflik horzontal. Terkait hal ini kita bisa meminjam istilah dalam kajian Arkoun yang disebut thinkable dan unthinkable, untuk menumbuhkan sikap akomodatif dan toleran dalam beragama.

Sederhananya, teori tersebut menggambarkan bahwa suatu kebenaran itu memiliki banyak sisi. Mari analogikan pada kubus yang memiliki enam wajah. Apa yang bisa dilihat oleh seseorang itulah thinkable. Sedang sisi lain yang tak dapat dilihat adalah unthinkable. Masing-masing orang menemukan kebenaran partikular dari kubus itu. Saat bergeser/bersikap terbuka, kita baru akan mendapati kebenaran partikular lainnya. Manusia beragama yang benar-benar memahami dan menjiwai ajaran yang diyakininya, ia akan tampil dengan ekspresi keberagamaan yang luhur nan peka perbedaan. Perbedaan bukan ancaman, melainkan mutlak kasih sayang Tuhan. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.