Saat Surga Tampak Samar dari Kaki Ibu

KolomSaat Surga Tampak Samar dari Kaki Ibu

Manusia hari ini seperti saling berkejaran melakukan akrobat demoralisasi. Tak pandang siapa, statusnya apa, semua berlomba. Kita pun dibuat buntu pikir dan bisu lisan karena saking tercengangnya dengan perilaku niretika yang semakin mengganas. Berita memprihatinkan teranyar yang melesat di ruang maya adalah kasus perselingkuhan seorang laki-laki dengan ibu kandung dari istrinya sendiri. Betapa remuk hati sang perempuan yang mendapati orang terdekatnya mengkhianati dirinya secara bejat, baik suaminya terlebih sang ibu. Gambaran bahwa surga konon berada di bawah telapak kakinya menjadi tampak kabur dan meragukan. Apakah betul janji manis itu masih di sana?

Ungkapan “Surga ada di bawah telapak kaki ibu” yang dalam bahasa Arab berbunyi al-jannatu tahta aqdami al-ummahat, sebetulnya dinilai sebagai riwayat yang lemah kategori parah bahkan palsu oleh para ulama hadis. Namun demikian, ada hadis lain yang memiliki maksud hampir serupa dengan kualitas periwayatan yang lebih terpercaya. Denga kata lain, esensi tentang posisi utama seorang ibu tetaplah mendapat afirmasi dari tradisi agama.

Kita bisa lihat hadis berikut mengenai idealitas kemuliaan ibu yang dituturkan Nabi Muhammad SAW. Dalam sejumlah riwayat beliau menerangkan kedudukan luhur seorang ibu, yang digambarkan bahwa membaktikan diri kepadanya bahkan lebih mulia dari ikut serta berperang dengan Nabi di masa awal Islam dulu. “Diceritakan dari Muawiyah bin Jahimah al-Sulami, ia datang menemui Rasulullah SAW. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya ingin ikut berperang dan saya ingin meminta nasihatmu. Nabi SAW kemudian bersabda, ‘Kamu masih punya ibu?’ Muawiyah menjawab, ‘Ya, masih.’ Rasulullah SAW pun kembali menimpali, ‘Berbaktilah kepada ibumu (terlebih dahulu) karena sungguh ada surga di bawah kedua kakinya.’”

Di luar hadis tersebut, kita sering mendengar pula bahwa ibu adalah orang pertama yang berhak atas bakti anaknya, seperti jawaban Nabi untuk seorang pemuda yang bertanya kepada beliau. “‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Kembali lagi orang itu bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu’. Ia bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?’ Rasulullah pun mengatakan, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari).

Riwayat-riwayat di atas adalah keterangan terbuka tentang posisi mulia seorang ibu yang nyaris tak terbantahkan. Namun, bagaimana jadinya jika kemudian seorang ibu berperilaku jauh di luar kendali moral hingga menyakiti anaknya? Apakah surga masih terpatri di bawah kakinya? Situasi semacam itu persis seperti jebakan yang membingungkan nalar dan naluri kita sebagai manusia, sebagai anak khususnya. 

Baca Juga  Belajar Memahami Kebhinekaan Ala Gus Dur

Kebijakan-kebijakan tradisi agama serta kesepakatan sosial jelas memperhitungkan posisi ibu dalam level yang utama dan sangat terhormat. Pengorbanan, kepayahan, dan perjuangan besar selaku perantara yang membawa anak manusia mencapai muka bumi tentu menjadi kalkulasi utama yang membuat seorang ibu sangat istimewa dan berjasa. Belum lagi ibu juga dikenal menyandang naluri kasih untuk sang anak yang sulit dikalkusi secara matematis. 

Ketika idealitas itu dicoreng sikap rendahan, saat itu saya pribadi mempertanyakan, surga seperti apa yang ada di bawah kakinya kemudian. Dengan cara bagaimana anak yang tersakiti itu tetap bisa meraih surga dari kaki ibunya tanpa menyisihkan perhatian terhadap sisi manusiawi berupa perasaan sakit yang diterimanya karena perilaku sang bunda. Narasi tentang keberadaan surga di bawah kakinya sering dianggap menjadi formula sapu jagat untuk memaklumi apapun perilaku ibu, atau minimal membuat segan menyematkan predikat zalim, salah, dosa, dan semisalnya pada seorang ibu yang memang berbuat demikian. Seolah ibu tak bisa durhaka.

Saya kira, dari contoh kasus perselingkuhan di atas bisa disimpulkan, bahwa sang ibu tetap berhak diperlakukan sebagaimana mestinya dalam batas-batas kemanusiaan. Artinya, sikap baik sebagai manusia terhadap manusia lain tetap harus dipertahankan sang anak dan siapa pun. Tidak membalas keburukan seseorang dengan keburukan atau kejahatan yang lain sudah merupakan kebaikan itu sendiri. Bukankah setidaknya kita tidak menyakiti orang lain jika memang tidak bisa berperilaku manis kepadanya, sekalipun ia melukai kita? Tentu kita tak bisa menyisihkan perasaan anak perempuan yang runtuh atau hilangnya kepercayaan dia terhadap sang ibu. Rasa kecewa, sakit hati, bahkan kebal rasa terhadap sang ibu sangatlah wajar dan harus diakui.  Oleh karena itu, si anak berhak merespons bagaimanapun kepada ibunya selagi tetap memegang nilai moral dan kemanusiaan dalam tanggapannya.

Ini adalah posisi netral yang bagi saya menjadi tawaran tengahan untuk mengakomodir mandat bakti pada orang tua sekaligus cara agar apa yang dirasakan korban pengkhianatan tetap diakui dan terhargai. Surga adalah gambaran kenikmatan yang diganjarkan kepada hamba Tuhan yang beriman, bermoral, dan beramal saleh. Manakala surga di kaki sang ibu tampak samar akibat sikap zalimnya, maka boleh jadi sang anak tetap dapat masuk surga melalui pintu kreatif, yakni pintu berbakti pada ibu dengan cara tidak membalas kezalimannya dengan kezaliman serupa. Menurut saya itulah pola bakti yang baru bagi pihak anak. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.