Nur Rofiah: Al-Quran Berbahasa Arab, Tapi Tidak Tunduk Pada Nilai Masyarakat Arab

BeritaNur Rofiah: Al-Quran Berbahasa Arab, Tapi Tidak Tunduk Pada Nilai Masyarakat Arab

Dalam Studium Generale yang diselenggarakan STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta (15/07), Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm. hadir menjadi narasumber utama. Dr. Nur memberikan pembelajaran umum bertema Tafsir Perspektif Keadilan Hakiki Perempuan. Dalam kesempatan ini, ulama perempuan di bidan tafsir ini kembali mengingatkan pentingnya membedakan antara al-Qur’an dan tafsirnya. al-Quran adalah firman Tuhan yang Maha Mengetahui, Maha Benar, dan Maha Adil, sehingga nilai-nilai di dalam al-Quran pasti adil. Namun, tafsir atau pemahaman manusia atas al-Quran tidak selalu benar dan adil.  “Pemahaman terhadap al-Qur’an yang melahirkan ketidakadilan itula yang sedang kita respon dalam perspektif ini” jelas Dr. Nur.

Dr. Nur Rofiah ada beberapa hal yang perlu diwaspadai dalam menafsirkan al-Quran agar tidak terjebak dalam pemahaman yang tidak adil. Salah satunya ialah dengan mengenali perbedaan sistem nilai dalam bahasa Arab dan sistem nilai yang dibawa Islam. Dr. Nur menjelaskan “Aal-Quran berbahasa arab. Maha Suci Allah dari salah memilih bahasa, nggak mungkin Allah salah memilih bahasa. Tapi begitu Allah memilih bahasa, penting bagi kita untuk mengenali karakter bahasa itu.”

Ulama perempuan sekaligus perempuan ulama ini, menjelaskan secara mendalam mengenai konsep gender, Mudzakar dan Muannats,  yang menjadi kunci dalam bahasa Arab dan melekat dalam setiap kata. Perlu dipahami bahwa, ada sistem nilai di dalam bahasa Arab, dan ada sistem nilai di dalam al-Quran. Hal inilah yang penting untuk dicermati. Dr. Nur menerangkan bahwa meskipun menggunakan bahasa arab, al-Quran itu tidak tunduk mutlak pada sistem nilai yang dimiliki oleh masyarakat arab.

Di dalam sistem bahasa Arab, kata berjenis Muannats (feminin/perempuan) hanya dibentuk dari kata Mudzakkar (maskulin/laki-laki) yang sudah ada, yaitu dengan menambahkan huruf ta. Sistem bahasa yang seperti ini menunjukkan bahwa sesuatu hal yang berjenis laki-laki bersifat primer, sedangkan perempuan sekunder. Mengutip Nasr Hamid Abu Zayd, Dr. Nur mengatakan “masyarakat Arab itu berpikir bahwa makhluk asal adalah laki-laki, perempuan itu makhluk kedua, tidak hanya penciptaannya, tetapi juga kelasnya”

Baca Juga  Syariat Bukan Ideologi Politik

Pandangan yang bias gender seperti itu, menurut Dr. Nur Rofiah, jelas berbeda dengan nilai-nilai yang dibawa oleh Islam. Di dalam al-Quran, semua orang laki-laki atau perempuan ditegaskan sebagai ‘hanya hamba Allah’ (QS. 55:56). Semua orang, laki-laki dan perempuan di dalam Islam punya amanah melekat sebagai khalifah fil ardh, yang tugasnya adalah mewujudkan kemaslahatan seluas-luasnya di muka bumi. 

“Jadi kalau dalam masyarakat arab, laki-laki primer dan perempuan sekunder. Di dalam Islam, laki-laki dan perempuan sama-sama primer karena menjadi khalifah fil ardh, dan sama sekunder karena hanya hamba Allah. Jadi dua-duanya punya status dan amanah yang sama.” Jelas wanita penggerak Ngaji Keadilan Gender Islam (Ngaji KGI) ini.

Dari sini, Dr. Nur menarik benang merah bahwa tafsir atau pemahaman terhadap al-Quran selalu berhadapan dengan sistem nilai dalam bahasa Arab, dan sistem nilai yang dibawa oleh Islam. Ia menambahkan, “jadi, meskipun menggunakan bahasa arab, al-Quran itu tidak tunduk mutlak pada sistem nilai yang dimiliki oleh masyarakat arab, bahkan menggerakkan perubahan besar-besaran yang bertentangan dengan sistem nilai masyarakat arab waktu itu, khususnya dalam relasi antara laki-laki dan perempuan” tegasnya.

Dr. Nur rofiah menyimpulkan bahwa berislam adalah bergerak dari kesadaran masyarakat Arab yang bias gender, menuju kesadaran Islam yang berbeda dengan itu. Di dalam al-Quran, laki-laki dan perempuan setara sebagai subjek utama dalam sistem kehidupan. Sama-sama wajib bertanggung jawab mewujudkan kemaslahatan, sekaligus menikmatinya. Dan mencegah kemungkaran sekaligus terlindungi darinya. “Berislam itu adalah proses terus menerus, bergerak dari sistem yang zalim menuju sistem yang adil” pungkas Dr. Nur.

Selvina Adistia
Redaktur Islamramah.co. | Pegiat literasi yang memiliki latar belakang studi di bidang Ilmu al-Quran dan Tafsir. Menuangkan perhatian besar pada masalah intoleransi, ekstremisme, politisasi agama, dan penafsiran agama yang bias gender.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.