“Happening” dalam Tradisi Muslim Tanah Air

Khazanah"Happening" dalam Tradisi Muslim Tanah Air

Warga Muslim Nusantara dalam banyak kesempatan kerap mengadakan atau tergabung dalam agenda keagamaan yang bersifat sukarela. Mereka secara berjamaah misalnya menghadiri haul ulama besar atau pengajian tertentu atas inisiatif sendiri. Jangankan undangan resmi, mereka barangkali hanya mendengar dari mulut ke mulut atau membaca sekilas selebaran terkait acara keagamaan itu. Orang-orang dari berbagai penjuru wilayah datang dengan bekal makanan dan minuman masing-masing. Bermodal patungan mereka menyewa mobil pick up atau truk agar bisa menjangkau lokasi acara.

Di antara varian konkret fenomena itu adalah peringatan upaca kematian atau haul Sunan Bonang di Tuban. Undangan acara tersebut barangkali hanya untuk sekitar 300 orang saja. Namun, di luar itu puluhan ribu masyarakat berbondong-bondong datang, membawa serta camilan, air minum, juga koran bekas atau tikar sendiri untuk alas duduk. Orang-orang itu datang bermodal prakarsa pribadi, bukan undangan resmi.

Dalam Islamku, Islam Anda, Islam Kita, Gus Dur menceritakan pengalamannya ketika diundang oleh harian Memorandum untuk berceramah dalam peringatan Maulid Nabi. Dalam penuturan Gus Dur, para penampil  yang membacakan shalawat Nabi serta sajak Burdah di peringatan itu secara serempak menyatakan tidak dibayar setelah Gus Dur menanyai mereka, adakah para penampil itu dibayar. Dengan kata lain, mereka berlatih karena inisiatif sendiri, dibiayai oleh kemauan mengabdi untuk agamanya.

Gagasan inisiatif tanpa perintah atau paksaan itu yang oleh Marshall McLuhan dipotret sebagai sesuatu yang disebut happening. Happening itu tampil secara semarak dalam beragam wujud tradisi masyarakat di berbagai wilayah Tanah Air. Menurut pribadi penulis, pagelaran muktamar NU adalah salah satu amsal. Agenda permusyawaratan lima tahunan ormas Islam kawakan Nusantara itu hanya mengundang perwakilan secara terbatas sebagai peserta muktamar. Di luar kendali, para “romli” (rombongan liar) yang tak diundang, hadir secara sukarela dalam muktamar. Spirit solidaritas, tabarukan kepada para kiai, atau sekadar temu kangen menjadi motif kedatangan mereka.

Baca Juga  Perempuan Melawan Taliban

Di samping itu, Kenduri Cinta (KC), Maiyah yang dimotori oleh MH. Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun adalah format lain dari fenomena happening. Telah bertahun-tahun majelis ini digelar di berbagai daerah secara rutin, diikuti bermacam lapis masyarakat  yang datang karena kehendak pribadi mereka. Tak peduli jarak lokasi yang jauh, harus duduk dalam waktu berjam-jam, dikepung asap rokok, begadang hingga menjelang subuh, semua diikuti dengan rela hati.

Kenduri Cinta adalah panggung untuk sinau bareng (belajar bersama), mendengar Cak Nun dan para pengisi lain bertutur, sesekali tanya jawab, diselingi hiburan musik, lantunan shalawat, dilengkapi canda juga kebersamaan. Materi pembicaraan pun hampir tak terbatas, urusan keyakinan, akidah, perilaku sosial masyarakat, geopolitik, hingga kritik pada pemerintah. Di luar arena, biasanya para penjaja kacang rebus, kopi, pop mi, berjejer melayani jemaah KC yang mulai mengantuk atau hanya ingin meluruskan kaki.

Happening menunjukkan kekayaan kultural kelompok masyarakat Tanah Air, tanpa ada yang bisa melarangnya. Keberkahan Tuhan, solidaritas, wawasan keagamaan, hingga kebersamaan menjadi magnet-magnet yang menggerakkan para sukarelawan untuk turut serta menyemarakkan gelaran ataupun perayaan sosial keagamaan begitu saja. Pendek kata, kesukarelaan atas dasar motif keagamaan merupakan sesuatu yang menghidupi masyarakat kita.

Dalam harap Gus Dur, aspek inisiatif, keterbukaan, serta kesukarelaan dari sendi-sendi kultural itu bisa hidup dan berlaku pula dalam berbagai segmen kehidupan terutama politik. Sebab, politik yang dipenuhi pengingkaran pada asas sukarela, hanya akan membentuk sistem manipulatif yang memungkinkan pembohongan pada rakyat.  Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.