Hadis Peringatan bagi Orang yang Memusuhi Kekasih Allah SWT

KhazanahHadisHadis Peringatan bagi Orang yang Memusuhi Kekasih Allah SWT

Pada dasarnya semua makhluk bisa menjadi kekasih bagi penciptanya. Selagi mereka berupaya untuk terus mendekat dan bertawakal dengan segala ketetapan-Nya, Allah SWT tidak pernah pilih kasih kepada hambanya untuk dijadikan kekasih. Manusia yang pernah berlumur dosa pun ketika sudah memutuskan untuk taubat nasuha, maka jangan sekali-kali memushi mereka karena Allah sendiri yang akan menyelesaikan persoalannya. Tak ada kriteria pasti untuk menjadi kekasih, tetapi hendaknya kita harus muhasabah diri apakah sudah layak berperan sebagai kekasih Tuhan?

Dalam hadis Arbain karya Imam Nawawi, diriwayatkan Imam al-Bukhari, paling sedikitnya seorang hamba yang ingin menjadi kekasih Allah bisa dilihat dalam hadis berikut sekaligus hikmah apa yang didapatnya.

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: ‘Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku (wali-Ku), maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai (sukai) daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Senantiasa hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya.

Apabila Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang dia gunakan untuk memegang dan Aku menjadi kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Jika dia meminta kepada–Ku pasti Aku memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepada–Ku pasti Aku akan melindunginya.”

Berdasarkan hadis di atas, kita tentu mengetahui betapa agungnya manusia yang menjadi kekasih Allah. Mereka adalah orang-orang yang taat dalam melakukan amalan wajib maupun sunnah, saleh secara ritual maupun sosial. Keistikamahan dalam beribadah menunjukkan, bahwa ibadah yang dilakukannya bukan karena musiman. Namun, ibadah tersebut bagian dari aktualisasi kecintaannya pada yang disembah.

Baca Juga  Pernikahan Masa Jahiliyah yang Dihapus Islam

Ketika ibadahnya sudah terbiasa istikamah, maka saat ia meninggalkan rutinitas tersebut bahkan dalam situasi yang dimafhumi syara’, ia khawatir membuat jarak dengan Tuhannya. Sifat ketergantungan pada Allah sangat lekat dalam kesehariannya. Satu-satunya kemarahan yang ditakuti adalah kemurkaan Tuhan, mereka takut dihukum atas kelalaian, kekhawatiran yang tak terpikirkan seorang hamba yang shaleh, yaitu ketakutan kalau iman pada diri mereka itu pinjaman, karena seorang salik menyadari tanpa adanya rahmat Tuhan dunia akan hancur berkeping-keping dalam sekejap.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab Fathur Rabbani, bila kedekatan seorang hamba sudah benar, ia akan dianugerahinya kewalian dan kewakilan. Seluruh isi perbendaharaan ditawarkan kepadanya serta langit dan bumi beserta para penghuninya keduanya pun meminta syafaat kepadanya, karena kedudukannya di sisi Sang Raja serta karena kemurnian batin, sir, dan cahaya hatinya.

Penganugerahan kewalian dan kewakilan, seperti yang tersebut oleh pemilik gelar sulthanul awliya itu senada dengan hadis yang tertera. Maka berhati-hatilah bagi orang yang memusuhi kekasih Tuhan, jangan sampai kita menjadi musuh Tuhan karena memusuhi kekasih-Nya. Hidup ini tidak akan berarti apa-apa dan terasa gersang jika tidak ada kecintaan terhadap Allah SWT. Kalbu tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki, kegelisahan ini akan menyengsarakan hati manusia yang tidak mendapat cinta dari Tuhannya.

Ibarat melempar batu pada lumpur, yang justru lumpur itu berbalik mengotori badan orang yang melemparkan bebatuan tersebut. Maka jangan pernah membenci siapapun, kecuali yang dilarang. Sebab, kalau tanpa sepengetahuan yang dimusuhi merupakan kekasih Allah SWT, tentu orang itu sendiri yang akan merugi.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.