Habib Husein: Makna Perumpamaan Lebih Luas dari Sekadar Terjemahan Al-Quran

BeritaHabib Husein: Makna Perumpamaan Lebih Luas dari Sekadar Terjemahan Al-Quran

Dalam al-Quran sering kali kita menemukan kalimat-kalimat perumpamaan. Perumpamaan ini ditujukan untuk memberi penjelasan makna yang lebih luas cakupannya, sehingga tidak terbatas arti yang tekstualis. Itu sebabnya pula, al-Quran kurang tepat dipahami jika hanya mengandalkan interpretasi dari terjemahan sebab ada banyak peristiwa di balik setiap turunnya ayat. Jadi membaca tafsir itu penting untuk bisa memahami al-Quran secara baik dan benar.

Dalam Al-Quran disebutkan, laa yamassuhu illal muththahharuun, tidak bisa menyentuh al-Quran kecuali orang-orang yang bersuci. Menurut Habib Husein Ja’far al-Hadar, ayat tersebut memberi pernyataan, bahwa puncak untuk bisa memahami al-Quran yakni dengan cara bersuci. Secara ritual yaitu dengan berwudhu, akan tetapi kalangan tasawuf mendefinisikan bersuci dalam pengertian lain adalah makna al-Quran itu tidak akan sampai sebelum seseorang bisa mensucikan hati dan pikirannya.

Lebih lanjut, penulis buku Ada Tuhan di Hatimu mengutarakan, bahwa perumpamaan itu cara terbaik untuk bisa merangkum pesan al-Quran yang begitu luas. “Itu juga yang membuat Karen Amstrong mengapa pujian kepada Nabi Muhammad SAW itu banyak dalam bentuk syair untuk menggambarkan besarnya keagungan beliau,” ujar Habib Husein dalam youtube The Soleh Solihun Interview: Husein Ja’far pada Senin (30/05/2022).

Kata-kata atau tulisan yang ada di dalam biografi itu tak akan bisa merangkum sosok Nabi Muhammad SAW. Jadi yang lebih mungkin bisa merangkum, meskipun pada ujungnya sosok beliau tidak bisa dirangkum baik oleh kata-kata, itu adalah dengan syair. Sebagaimana Al-Busyiri mendeskripsikan tentang nabi Muhammad melalui syairnya, bukan dengan catatan biografi.

Pendakwah milenial juga menambahkan, disebabkan al-Quran itu bahasa Tuhan dan Tuhan itu berbicara dengan bahasa hati. Syahdan, kata-kata itu tidak cukup merangkum apa yang disampaikan Tuhan. Walhasil, mengutip kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, memahami al-Quran itu seperti halnya mengupas bawang, saat dibukanya lapisan pertama akan ada lapisan kedua, bedanya lapisan ini tiada akhirnya. “Semakin kamu kaji ilmu al-Quran, semakin kamu mendapat ilmu baru, itulah kemukjizatan al-Quran,” jelasnya.

Baca Juga  Kiai Said Aqil Siroj: Manusia Diberi Amanah Membangun Kehidupan Harmonis

Ibarat al-Quran itu mutiara, jika dilihat dari arah manapun ada cahayanya tersendiri dari setiap sudut yang tampilkan. Itu bahasa al-Quran. Adapun bahasa Arab itu tidak lain medium saja, yang makna sesungguhnya al-Quran merupakan bahasa cahaya yang masuk pada hati dan pikiran yang suci. “Itu sebabnya kita percayakan al-Quran itu bukan hanya pada ahli bahasa, tetapi dihadirkan pula kepada para ulama yang hati dan pimikirannya bersih,” pungkasnya.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.