Cara Mendatangkan Cinta Tuhan dan Manusia

KhazanahHadisCara Mendatangkan Cinta Tuhan dan Manusia

Manusia itu senang dicintai. Tak ada yang nyaman dengan paparan emosi kebencian dari siapapun terhadap dirinya. Selaku makhluk sosial sekaligus spiritual, manusia pada akhirnya akan berpikir bagaimana agar ia bisa dicintai, baik oleh sesama, lebih-lebih Tuhannya. Cinta Tuhan adalah karunia agung bagi yang tersadar dan berakal. Sedangkan kecintaan manusia pada diri kita merupakan energi kuat yang menghangatkan.

Nabi memberikan pesan bagaimana agar kita dicintai manusia dan Allah pun berkenan atas kita. Hal tersebut bermula dari pertanyaan seorang lelaki. Diceritakan oleh Sahl bin Sa’d al-Sa’idi dalam hadis, Di mana ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal, jika aku lakukan maka aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia? Beliau bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah dengan apa yang ada di tangan manusia, maka manusia akan mencintaimu” (HR. Ibnu Majah).

Secara sederhana, zuhud itu berpaling dari sesuatu karena kefanaannya. Seorang zahid berarti menyadari konsep dunia yang sebentar dan akhirat yang kekal. Zuhud pada dunia artinya meninggalkan apa yang tak dibutuhkan dari dunia, meskipun hal itu halal. Zuhud bukan secara fatal menolak perkara duniawi dan hanya fokus pada akhirat sebagaimana yang dipersepsikan kebanyakan. Tapi, zuhud merujuk pada bagaimana kita memperlakukan dunia secara bijak, membatasinya agar tak menjadi orientasi hidup yang bercokol dalam hati, melainkan menempatkannya sebagai sarana untuk kelengkapan bekal di akhirat nanti.

Demikianlah, Allah mencintai mereka yang terjaga ingatannya pada akhirat serta mampu mengelola kecenderungan duniawinya. Orang zuhud termasuk golongan manusia paling bijak. Karena mereka suka pada apa yang disukai Allah dan meninggalkan apa yang tak Allah suka dari orientasi berlebih pada dunia. Rasulullah pernah berpesan kepada para sahabatnya, agar hidup di dunia ini layaknya orang asing yang pasti akan kembali ke kampung halaman akhirat. Atau bayangkan kita hidup seperti musafir yang berteduh di bawah pohon lalu pergi meninggalkan pohon (dunia) itu. Manusia hanya berkepentingan sejenak di dunia. Tapi yang sebentar ini adalah penentu bagi kehidupan yang kekal nanti.

Baca Juga  Cerdas Hidup dengan Berliterasi

Sedangkan zuhud pada apa yang dipunyai orang lain berkaitan erat dengan naluriah kita sebagai manusia. Tabiat manusia tak suka diusik. Zuhud di sini bermakna tidak merecoki apa-apa yang menjadi milik orang lain. Zuhud bekerja dengan mekanisme kesadaran tentang konsep fana dan  keberpalingan hati dari sesuatu yang bukan milik kita. Saat tahu batasan ini, seseorang tidak akan tertarik untuk mengganggu hak orang lain.

Poin kedua yang disampaikan Nabi ini mengajarkan aturan hidup dalam dimensi horizontal. Artinya, berusaha cakap sosial dan bermuamalah yang baik dengan sesama adalah jalan mencapai cinta manusia. Seorang yang zuhud pada milik orang lain, ia pun akan dihormati karena adab itu. Abu Ayyub al-Sakhtiyani mengatakan, seseorang tak akan mulia sampai ia memiliki dua kualitas, yakni, menjaga diri dari apa yang ada di tangan orang, serta melebihkan dari apa yang ada di genggaman mereka. Perbesar spirit untuk memberi, bukan mengambil.

Pada prinisipnya zuhud adalah tahu batasan dan mau membatasi. Sufyan al-Tsauri menuturkan, zuhud bermakna memendekkan harapan (pada dunia). Tidak dengan ketat dalam hal makan (seperti tak mau makan sesuatu yang enak), tidak pula dengan berpakaian jubah (ibarat pertapa yang hanya menekuni sisi rohani semata). Zuhud itu, tidak memasukkan dunia di hati meskipun jelas kemewahan, harta benda, dan unsur-unsur duniawi lainnya di genggaman kita.

Beragam cara bisa dilakukan untuk mendatangkan cinta Tuhan dan manusia. Dua cinta ini tak bisa didapat hanya dengan berangan-angan, tapi kesungguhan. Imam Nawawi meminang hadis ini dan memasukkannya dalam karya populernya, al-Arba’in al-Nawawiyah. Sebagaimana mafhum, kitab tersebut menghimpun hadis-hadis yang prinsip dalam Islam. Dengan kata lain, wejangan Rasulullah tersebut merupakan salah satu orbit Islam. Yang jika ditempuh, kita akan beredar di salah satu jalan yang diridhai-Nya. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.