Bersuara dengan Menulis

KolomBersuara dengan Menulis

Penggunaan aksara kali pertama ditemukan dalam peradaban Nusantara pada abad ke-5 M. sebelumnya, alat komunikasi masih terbatas pada lisan atau gambar. Dengan munculnya aksara, peradaban kini menjadi lebih bertumbuh. Segala kritik dan harapan yang tak sempat terucap dapat tersalurkan melalui tulisan, karena sejatinya menulis itu berujar, berbicara, dan berkata-kata tanpa suara.

Saya teringat pesan guru yang kali pertama mengajarkan cara menulis, hingga saya dapat menulis seperti ini. Dalam pesannya ia mengatakan, “Menulislah dengan baik, karena menulis itu mengubah pemikiran dan peradaban manusia.” Budaya tulis menulis mengajak kita untuk terus berpikir tanpa henti, bukan sekadar berkata tanpa melakukan apa-apa.

Para pemikir kritis, mereka bisa demikian tak lepas dari aktivitas membaca. Tulisan seperti ini yang mampu mengubah pemikiran, lantas memerhatikan lingkungan sosial, syahdan terbesit dorongan untuk mengubah situasi menjadi lebih baik. Budaya literasi tersebut terlihat nyata untuk mengubah peradaban.

Tak sedikit mendengar kisah beberapa jurnalis yang berani mengurai kata dalam tulisannya dibelenggu dan diwaspadai. Di Indonesia, kita pernah memiliki sastrawan melegenda memiliki banyak karya yang diterjemahkan, hingga 42 bahasa, yakni sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Pada masanya, beberapa karyanya yang menggelitik dilarang pemerintah orde baru untuk diedarkan. Dalam karyanya yang bergenre novelis itu, faktanya mampu mengajak pembacanya berpikir kritis melalui sentuhan kata-kata ajaibnya.

Pada masa Dinasti Abbasiyah Islam mengalami puncak kejayaan yang dipimpin oleh Harun al-Rasyid (789-803 M). Kepeduliannya terhadap ilmu pengetahuan dan mengangkat para pejabat, ulama, intelektual cakap untuk menjalankan roda pemerintahan menuai hasil yang memukau. Saat meniti peradaban, langkah awal semasa kepemimpinannya budaya literasi ditingkatkan dengan kegiatan penerjemahan buku-buku bahasa asing dialihbahasan ke dalam bahasa Arab.

Tulisan pada akhirnya menjadi instrumen dasar dari peradaban itu sendiri. Semakin berkualitas karya tulis yang dibaca, ibarat imun, selain menambah wawasan, pikiran tercerahkan, solusi dari persoalan pun didapat. Al-Quran pun demikian, ia bacaan yang berkualitas. Hendaknya saat membaca, hati dan pikiran kita dilepaskan dari pengetahuan yang ada agar tidak terburu-buru menghakimi apa yang tertulis, tetapi biarkan ilmu itu berkelindan adanya lantas mengoreksi setelahnya.

Namun, pada era digital sekarang dengan adanya media sosial tulisan seperti kehilangan esensinya sebagai senjata untuk menyampaikan aspirasi. Lebih banyak keruh, ketimbang memberikan solusi. Semua orang dapat menuliskan apapun di internet tanpa berpikir Panjang apa dampaknya. Sastra sejak kehadirannya, sangat selektif dalam memilah kata-kata. Ini yang menyebabkan peradaban sastra menjadi tinggi dan sarat akan makna.

Baca Juga  Gus Mus:  Dakwah Yang Keras Bertentangan Dengan Dakwah Nabi

Suara tanpa tulisan itu kehampaan. Untuk mereka yang tersendat dalam bersuara, menulis menjadi alternatif penyampaian kata yang jauh lebih detail. Kendati tulisan tidak bisa menerjemahkan semua suara, ia bisa memberi pengertian kepada pembacanya. Menulis itu membutuhkan keahlian sama halnya dengan berbicara. Komunikasi tidak akan bisa dimengerti jika bahasanya tidak ditata dengan baik.

Menulis itu merangsang nalar kognitif dan melatih cara berpikir yang terstruktur atau runut. Dengan menulis, kita juga seperti merasa melepas beban yang menumpuk. Mengutarakan apa yang ada dalam pikiran membantu psikis lebih rileks, saat tak ada orang yang tidak bisa diajak berkeluh kesah atau berdiskusi. Sebab kita sedang berbicara pada diri sendiri maka menulis mengajarkan kejujuran hal apa yang sebenarnya dipikirkan.

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Membaca di sini utamanya adalah sumber buku-buku, kemudian membaca situasi dengan terjun kelapangan, mengumpulkan data, dan jujur terhadap fakta. Cara demikian membantu tulisan menjadi renyah untuk dibaca lagi kaya akan informasi.

Kadangkala menulis itu tidak melulu bercerita tentang diri pribadi, tetapi munculnya keprihatinan terhadap orang lain. Masyarakat kecil membutuhkan penyambung lidah untuk mengutarakan isi hatinya agar didengar, karena mereka kurang bisa berkata-kata dan terbatas dalam menulis. Maka dari itu, menulis juga dapat membantu orang lain yang tengah berada dalam ketidakadilan, penderitaan, kemiskinan, dan sebagainya.

Senada dengan yang dikatakan Sindunata dalam Belajar Jurnalistik dari Humanisme Harian Kompas (2019), masyarakat bawah itu adalah masyarakat diam. Seorang komunikator harus lebih aktif dan menolong, karena sering-sering mereka tidak tahu apakah sebenarnya permasalahan mereka dan kalau tahu belum tentu dapat mengutarakannya. Sebab itu, menulis sebagai instrument komunikator yang membantu mengatasi permasalahan, turut merasakan kesedihan dan kesukaran orang lain dengan landasan humanisme.

Dengan demikian, bersuara dengan menulis tak kalah signifikan perannya dengan suara lisan. Keduanya memiliki ketajaman yang sama, jika yang disampaikan berdasarkan akal budi melihat persoalan. Betapa beruntungnya peradaban yang kita wariskan dari para sastrawan dan intelektual yang meninggalkan jejak karyanya yang bisa kita baca saat ini.

Mereka telah tiada, tapi karyanya kekal karena pemikirannya terus menyokong peradaban menjadi kehidupan yang dinamis ini. Usia manusia memang terbatas, tetapi menulis mengajarkan agar kita menjadi manusia abadi. Sebuah nama patut dikenang abadi sebagai apresiasi bagi mereka yang telah menuliskan karya yang bermanfaat. Suara tulisan lebih panjang umurnya, ketimbang suara lisan. Jadi sudahkah tertarik untuk mulai menulis?

Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.