Jangan Jadi ‘Layangan Putus’

KolomJangan Jadi 'Layangan Putus'

Serial drama Layangan Putus menjadi trending dalam beberapa pekan ini. Kisah tentang perselingkuhan suami dengan wanita muda, ditambah perjuangan istri untuk meraih keadilan, sangat relate dengan kehidupan masyarakat kita. Fenomena perselingkuhan ala Mas Aris dan Lidya banyak terjadi dan mengancam setiap rumah tangga. Isu perselingkuhan yang kerap kali dianggap private ini, nyatanya amat berbahaya bagi tatanan masyarakat. Di tengah maraknya isu pengkhianatan dan ketidaksetiaan, kita perlu meneguhkan kembali kesadaran tentang sakralnya ikatan pernikahan yang tidak setipis benang layangan.

Hubungan perkawinan, sebenarnya, adalah dasar dari kehidupan kolektif manusia. Kesejahteraan peradaban manusia tergantung pada kesejahteraan hubungan antara suami istri dalam struktur keluarga. Oleh karena itu, tidak ada yang lebih buruk daripada orang yang menyerang fondasi struktur masyarakat yang menopang setiap orang ini. Menghancurkan ikatan keluarga akan membuat trauma salah satu atau kedua pasangan dan anak-anaknya, yang dampaknya tidak main-main.

Hari ini saya merefleksikan sebuah ayat yang nampak terkait dengan isu ini. Dalam Surat al-Baqarah ayat 102 Allah SWT berfirman. …Keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah fitnah, sebab itu janganlah kafir.”  Maka mereka mempelajari dari keduanya, apa yang dapat memisahkan antara seorang suami dengan istrinya. (QS. Al-Baqarah: 102). Merusak rumah tangga, dalam ayat ini, digambarkan sebagai perbuatan keji yang berhubungan langsung dengan kekuatan jahat yang amat berbahaya.

Tidak dimungkiri lagi, merusak hubungan suami-istrinya adalah puncak kejahatan yang langsung mengarah pada kerusakan fondasi setiap peradaban dan mengacaukan masyarakat. Akibat maraknya kegagalan rumah tangga, orang-orang akan ragu dan kurang percaya dengan ikatan pernikahan, lalu memilih hubungan lain yang tidak sah yang memunculkan kejahatan dan penyakit sosial lainnya. Inilah bahaya lebih lanjut paling mencolok dari fenomena ‘Layangan Putus’ yang kerap terjadi, yakni membuat orang takut menikah serta memandang ikatan pernikahan sebagai sesuatu yang amat beresiko. Ibnu Asyur, dalam Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, menyebut bahwa ‘memisahkan antara seorang suami dengan istrinya’ di dalam QS. al-Baqarah: 102 adalah kiasan tentang efek paling ekstrem dari kekuatan jahat, yang dalam ayat tersebut adalah sihir. 

Sihir merupakan simbol dari kekuatan manipulatif, sama seperti yang kerap terjadi dalam kasus perselingkuhan. Al-Quran telah mengambil contoh paling relevan tentang motif penggunaan ilmu hitam yang berbahaya di masa lampau, yakni untuk merusak rumah tangga. Sampai sekarang pun, masih banyak orang yang mengandalkan ilmu hitam seperti pelet, jampi-jampi, dan guna-guna, hanya untuk merebut pasangan orang. Masalah semacam ini terus menjerumuskan umat manusia seiring perkembangan ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Sejak era sihir hingga era teknologi seperti sekarang ini.

Jelas sekali, praktik-praktik manipulatif yang merusak pikiran salah satu pasangan sampai dia menjauhi pasangannya, membuat rayuan, tipu daya, atau rumor yang dapat memisahkan mereka, saat ini tengah dimodernisasi oleh apa yang hari ini kita sebut sebagai ‘Pelakor’ dan ‘Pebinor’. Dalam praktik perselingkuhan, tindakan pengkhianatan, ketidak setiaan, dan nafsu terlarang dimanipulasi sebagai suatu cinta! hal demikian tidak lain adalah kebohongan yang dibuat-buat.

Baca Juga  Sunan Gunung Jati, Wali Keturunan Nabi

Apapun caranya, dengan bantuan sihir atau teknologi, merusak ikatan suami istri adalah perbuatan paling keji yang melawan Tuhan yang telah menyatukan mereka dengan ikatan kasih sayang, yakni mawaddah dan rahmah yang luar biasa (QS. Rum: 21). Pernikahan mengikat kemitraan spiritual kedua belah pasangan untuk saling membantu sukses dalam kehidupan ini dan di akhirat. Jadi, Layangan pernikahan, sejainya, diterbangkan dengan ikatan yang sakral dan kuat.

Ibn Asyur menafsirkan bagaimana Kebesaran Allah SWT dalam mengikat dua insan sebagai suami-istri, ia mengatakan “Mawaddah saja adalah hubungan kasih sayang yang besar, dan itu adalah ikatan intim dari persahabatan dan persaudaraan serta cabang-cabangnya.  Rahmah pun adalah ikatan yang mencakup hubungan perlindungan dan jalinan cinta. Jadi apa pendapatmu tentang ikatan yang menggabungkan dua hal ini?  Itulah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, dalam tingkat kesempurnaan yang paling tinggi.”

Maka dari itu, menyatukan dan memisahkan pasangan suami-istri bagaikan dua kekuatan paling kontras antara kebaikan Tuhan dan kejahatan para iblis dan setan.  Ada sebuah hadis yang menyatakan bahwa salah satu tujuan utama Setan dalam menyesatkan manusia ialah memecah keluarga. Nabi SAW bersabda, Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di laut kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan apa-apa”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkan orang ini hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh, engkau setan yang hebat” (HR. Muslim). 

Hadis di atas menunjukkan bahwa merusak ikatan pernikahan adalah perbuatan setan yang amat keji dalam menyesatkan manusia. Tampaknya, tidak ada lagi tingkat kemerosotan moral yang lebih rendah daripada ketika perzinahan mengalahkan pernikahan, dan ketika menjalin ikatan romantis dengan seseorang yang bukan pasangannya dilakukan tanpa perasaan bersalah. Tenggelam dalam perilaku semacam ini merupakan indeks pasti dari kemerosotan moral.

Setiap Muslim tentu wajib menyadari bahwa, Islam sangat menjunjung kesucian ikatan  pernikahan. Pernikahan adalah hubungan yang didasarkan pada cinta, kasih sayang, ketenangan, dan iman. Sucinya pernikahan adalah antitesis dari buruknya perzinahan dalam pandangan Islam.  Melampiaskan gairah seksual di luar nikah jauh lebih buruk jika terjadi konteks perselingkuhan, karena merupakan pengkhianatan terhadap ikatan pernikahan yang telah diciptakan oleh Allah SWT untuk menyatukan keduanya.

Singkatnya, integritas unit keluarga dan rumah tangga itu amat penting dalam Islam, seperti halnya untuk semua peradaban. Perselingkuhan menyebabkan melemahnya unit keluarga yang merupakan kunci dalam mempertahankan peradaban. Merusak dan mencederai ikatan pernikahan orang lain adalah perbuatan keji yang harus ditentang. Masyarakat kita perlu, sekali lagi, menjunjung tinggi nilai-nilai kesetiaan dan keharmonisan dalam rumah tangga. Intinya, jangan jadi layangan putus, karena hanya bersama uluran benangnya, layangan dapat terus terbang setinggi-tingginya. 

Selvina Adistia
Redaktur Islamramah.co. | Pegiat literasi yang memiliki latar belakang studi di bidang Ilmu al-Quran dan Tafsir. Menuangkan perhatian besar pada masalah intoleransi, ekstremisme, politisasi agama, dan penafsiran agama yang bias gender.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.