Shalawat, Bacaan yang Tak Akan Tertolak

KhazanahHikmahShalawat, Bacaan yang Tak Akan Tertolak

Shalawat adalah bacaan istimewa. Tidak seperti ibadah lain yang berpotensi ditolak, membaca shalawat akan selalu diterima. Umumnya, amal ibadah yang dikerjakan umat Muslim mesti memenuhi syarat-syarat tertentu baik lahir maupun batin seperti ikhlas, suci dari kotoran, bebas dari rasa sombong, atau ketentuan normatif lainnya. Namun, tidak demikian dengan shalawat.

Membaca shalawat akan selalu menghasilkan banyak kebaikan, sebagaimana sabda Nabi, Barang siapa bershalawat padaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, dan dihapus darinya sepuluh kesalahan, serta diangkat baginya sepuluh derajat (HR. Muslim). Imam Abdul Wahab al-Sya’roni dalam kitabnya al-Thabaqat al-Kubra menyebutkan, bahwa Abu al-Mawahib al-Syadzili bercerita tentang mimpinya bertemu dengan Rasulullah SAW.

Syekh Al-Mawahib adalah seorang waliyullah. Ia pun berkisah, Aku bermimpi melihat Rasulullah SAW dan aku berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, Allah bershalawat sepuluh kali kepada orang yang membaca shalawat untukmu satu kali. Apakah itu bagi orang yang menghadirkan hati (khusyu’) dan perasaannya (ta’dzim)?” Beliau menjawab: “Tidak. Itu berlaku bagi siapa saja yang membaca shalawat untukku, bahkan ia dalam keadaan lalai sekalipun. Allah akan memberinya anugerah sebesar dan sebanyak gunung-gunung tinggi, yakni para malaikat akan berdoa serta memohonkan ampun untuknya. Adapun bagi yang membacanya dengan kehadiran hati, maka nilai pahala itu tak ada yang tahu kecuali Allah.

Perihal tersebut kemudian digubah menjadi sebuah syair:

أَدِمِ الصَّلاَةَ عَلَى مُحَمَّدٍ    فَقَبُوْلُهَا حَتْمًا بِغَيْرِ تَرَدُّدٍ

أَعْمَالُنَا بَيْنَ الْقَبُوْلِ وَرَدِّهَا  اِلاَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

“Istikamahlah dalam membaca shalawat atas Nabi Muhammad, karena shalawat pasti diterima tanpa keraguan. Status amal kita antara diterima dan ditolak, kecuali shalawat kepada Nabi Muhammad pasti diterima.”

Diterimanya bacaan shalawat tanpa syarat merupakan wujud penghormatan kepada Rasulullah SAW karena derajat beliau yang amat mulia. Hal ini sebagaimana dituturkan Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha al-Dimyathi dalam kitab Kifayatu al-Atqiya. Dengan demikian, sekalipun kita membaca shalawat dalam kondisi lalai, itu akan tetap bernilai dan membawa kebaikan. Namun, bershalawat dengan disertai kehadiran hati serta mentadaburi maknanya tentu lebih utama.

Baca Juga  Akhiri Kekerasan atas Nama Agama

Bacaan shalawat itu memiliki banyak rahasia (sir). Dibaca untuk tujuan tertentu, bahkan riya’ sekalipun masih tetap mengandung kebaikan yang Allah karuniakan bagi pembacanya. Ketika seseorang membaca shalawat untuk tujuan riya’ misalkan, dan sir dari shalawat itu diberikan saat di dunia, maka di akhirat ia tak lagi mendapatkan sir. Hal ini mengukuhkan, bahwa membaca shalawat tak akan pernah sia-sia dan selalu menyimpan rahasia, bagaimanapun kondisi kita saat membacanya.

Baca Juga  Ramadhan dan Introspeksi Dakwah

Shalat kita yang nampaknya jauh dari khusyu’ itu, bisa diterima oleh Allah dengan segala keringanan (rukhsah) tersebab bacaan shalawat di dalamnya. Mengingat, shalawat itu lebih tua dari ibadah shalat. Allah telah lebih dahulu bershalawat atas Nabi Muhammad sebelum adanya praktik shalat. Karenanya, kita perlu berupaya untuk menghadirkan hati saat membaca shalawat agar terbentuk koneksi dengan Nabi, dan ibadah shalat kita bisa kian bermakna.

Bershalawat merupakan bagian dari ibadah. Tidak hanya warga bumi, warga langit seperti malaikat pun bershalawat kepada Nabi. Allah juga membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW. Seperti tertera dalam surat al-Ahzab [33]: 56, Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.

Shalawat adalah suatu ungkapan pujian kepada sosok terpilih, utusan yang telah menuntun manusia dari kegelapan menuju jalan terang. Kemuliaan beliau memercikkan berbagai berkah bagi semua makhluk. Adanya Rasulullah adalah penyebab segala yang berwujud saat ini. Beliau adalah rahmat dan anugerah bagi semesta. Kedudukan yang sangat agung ini, menjadikan segala hal terkait Nabi mustahil sia-sia. Karenanya, shalawat pun menjadi bacaan yang kuat dan canggih dengan cara kerja yang sangat istimewa. Bagaimanapun kondisi hati kita saat membacanya, Allah akan tetap melimpahkan karunia, sebagai wujud penghormatan pada kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW al-musthafa. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.