Jejak Islam dalam Konsep Ahimsa

KolomJejak Islam dalam Konsep Ahimsa

Ahimsa adalah gagasan moral menentang segala kekerasan, penindasan, dan diskriminasi yang dijalankan melalui aksi nirkekerasan (non-violence). Konsep ini digagas oleh Mohandas Karamchand Gandhi, sang moralis dan pejuang anti-kekerasan asal India yang memiliki kepedulian besar pada kemanusiaan. Perjuangan nirkekerasan adalah alternatif solusi untuk menangani konflik kekerasan yang selama ini menghasilkan penderitaan maha dahsyat, di mana nyawa manusia ibarat barang obralan. Sejarah mencatat, gagasan anti-kekerasan dalam melawan ketidakadilan terbukti bekerja.

Jika diurai secara kebahasaan, kata himsa mengandung arti melukai, menghancurkan, atau membunuh. Ketika awalan “a” ditempatkan di depan istilah himsa, itu menghasilkan konsep negatif ganda, yang berarti positif. Dengan demikian konsep Ahimsa menunjukkan penolakan pada segala tindakan merusak.

Konsep ahimsa selaras dengan ajaran Islam yang mengecam kekerasan dan sangat mendorong pemeliharaan kehidupan. Bisa dibilang, Islam memang memiliki pengaruh dalam orkestrasi Ahimsa Gandhi. Identifikasi ini penting guna menarik perhatian Muslim khususnya dan manusia pada umumnya, agar berpihak pada tradisi nirkekerasan dalam menghadapi konflik demi menciptakan perdamaian.

Jejak Islam pada ajaran Gandhi bisa diawali dari identifikasi latar belakang keluargnya. Ghandi lahir dari penganut Hindu saleh yang eklektik. Ibunya adalah wanita yang sangat religius dan berperan besar dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan pada Gandhi. Yang menarik, Putlibai—ibunda Gandhi—berasal dari sekte Pranami. Di mana sekte ini mengambil inspirasi dari gagasan Islam. Mereka memberikan penghormatan pada al-Quran sebagaimana penghormatan untuk kitab sucinya, serta menyuarakan pula kerukunan beragama.

Dari sini, logis kiranya memperkirakan spirit Islam dalam konsep Ahimsa sang Mahatma. Ghandi menunjukkan perasaan hormat terhadap Islam. C. F. Andrews, seorang teman dekat Gandhi bahkan menyebutkan dalam karyanya, Mahatma Gandhi’s Ideas. Bahwa, dengan mengacu pada teladan Nabi Muhammad, Mahatma Gandhi tak pernah memisahkan unsur spiritual dari politik. Potret Nabi sebagai praktisi pembaharu berinsting agung, yang dikombinasi dengan keyakinan kuat pada kekuasaan dan kebenaran Tuhan, menjadi sumber kekuatan yang berkelanjutan bagi Gandhi dalam perjuangannya.

Secara lebih spesifik, disebutkan oleh Andrews, bahwa masa-masa awal Nabi mendakwahkan Islam berpegaruh besar pada Gandhi. Itu adalah sejarah ketika Nabi mendapatkan penolakan dan hinaan dari masyarakat Quraisy karena menawarkan keyakinan baru yang berbeda. Gandhi menemukan keselarasan konsep Ahimsanya dengan Islam, yakni pada titik di mana Nabi tak merespons segala bentuk pelecehan yang beliau terima dengan tindakan merusak.

Oleh Gandhi, Islam dijadikan sebagai salah satu sumber inspirasi. Ia sangat terkesan pada Nabi Muhammad. Chaiwat Satha-Anand mengutip William L. Shirer, seorang sejarawan Amerika, mengutarakan bahwa Gandhi membaca al-Quran untuk menggali inspirasi. Perjuangannya melawan kolonialisme Inggris dengan aksi damai pun mendapat dukungan besar dari umat Muslim. Hal tersebut dimungkinkan karena ajaran Islam memang mendukung aksi nirkekerasan, sehingga sejumlah Muslim secara alami condong pada Ahimsa, di samping adanya jejak Islam pada konsep tersebut.

Ahimsa tidak lahir dari ruang kosong. Semasa berkarir di Afrika Selatan, Gandhi mendapati berbagai persoalan rasial secara langsung. Ia pernah diminta pindah dari kursi penumpang kereta api kelas satu yang telah ia bayar, hanya karena Gandhi bukan seorang kulit putih. Selain kulit putih dianggap tak layak menempati kelas utama. Ketidakadilan tadi, konon menjadi salah satu kejadian yang membuat Gandhi selalu memperjuangkan keadilan. Ahimsa lahir mengiringi lipatan perjalanan Gandhi di benua hitam tersebut.

Gagasan Gandhi telah teruji oleh sejarah. Di India, ia menjadi aktor penting yang terlibat dalam gerakan kemerdekaan di sana. Ia menggandeng massa dan menyeru mereka untuk mogok kerja dan memboikot hasil produksi Inggris sebagai bentuk perlawanan pada penjajah. Pada gilirannya, gagasan Gandhi membuahkan hasil. Dunia internasional mendesak Inggris untuk meninggalkan India karena respons kejam mereka pada masyarakat yang melakukan aksi. Pada 1947 India pun merdeka.

Baca Juga  Jangan Ragu Menikmati Musik

Deklarasi perjuangan tanpa kekerasan lebih dulu ia kumandangkan saat hidup di Afrika. Pada 11 September 1906, Gandhi menjaring massa dan melakukan konsolidasi akbar bersama ribuan orang India untuk menentang undang-undang diskriminatif-rasialis yang menghapus hak-hak politik orang India, dikeluarkan oleh pemerintahan Transvaal di Afrika Selatan.

Baca Juga  Merawat Kebudayaan ala Bung Karno

Aksi nirkekerasan adalah gerakan non-kooperatif, menentang kebijakan yang zalim untuk mencapai kebenaran dan keadilan. Gerakan anti-kekerasan berlanjut. Gandhi dan gagasannya pun menjadi inspirasi perjuangan nirkekerasan masyarakat global di masa selanjutnya. Studi kontemporer yang dilakukan oleh Chenoweth dan Stephan (2011) menemukan fakta menarik, antara tahun 1900 hingga 2006, kampanye perlawanan nirkekerasan hampir dua kali lipat lebih berhasil ketimbang perlawanan berbasis kekerasan.

Aksi nirkekerasan adalah alat pertentangan yang kuat. Didasarkan pada penolakan untuk tunduk. Kurt Schock (2015) menyuguhkan analogi, bahwa kekerasan itu seperti palu, sementara nirkekerasan seperti tuas. Dengan tuas, mereka yang tertindas bisa mengalahkan lawan yang lebih kuat dan represif.

Anti-kekerasan tidak sama dengan bersikap pasif. Sebab, karakter Ahimsa berorientasi pada tindakan dan berani menghadapi kematian, dengan tujuan mencapai kebenaran (Tuhan). Dengan sendirinya, kematian pun akan dihadapi penuh suka cita karena mereka tengah menunaikan tugas kesatria yang muaranya adalah Tuhan.

Umat Muslim akan mudah terkoneksi dengan Ahimsa. Jejak Islam cukup kentara dalam konsep tersebut. Dalam hubungannya dengan kematian, bagi Muslim mati adalah jalan kembali menuju Allah, mengingat kita semua adalah milik-Nya dan akan pulang kepada-Nya. Kecenderungan pada tindakan untuk berjuang menyudahi kekacauan dengan motivasi ilahiah (lillahi ta’ala) juga merupakan ajaran yang ditekankan Islam. Apabila wafat pun, mereka yakin akan mati di jalan Tuhan.

Tindakan nirkekerasan merupakan modus perjuangan yang diperintahkan Islam. Upaya ini bertolak dari perintah kuat Islam untuk memelihara kehidupan. Nyawa makhluk Tuhan adalah keramat yang tak boleh diremehkan. Penghargaan tinggi itu digambarkan oleh Al-Quran, betapa nyawa seorang manusia disetarakan dengan nyawa seluruh umat manusia. Tercantum dalam QS. Al-Maidah [5]: 32.

Ahimsa bukan sekadar keyakinan intelektual, tapi juga keyakinan intuitif. Gagasan sosial politik Gandhi didasarkan pada dimensi spiritual. Di mana sasaran dari Ahimsa adalah kebenaran (Satyagraha), yang tak lain adalah Tuhan. Dan untuk meraih kebenaran itu tidak mungkin dilakukan dengan cara-cara yang mengarah pada kekejaman dan kehancuran. Konsekuensinya, Ahimsa adalah jalan tunggal untuk berjuang mencapai Tuhan.

Dunia ini telah dipenuhi panorama kekejian dan perang yang mengorbankan banyak manusia tak berdosa. Penting bagi umat Islam untuk mendalami dan menjadi praktisi ajaran nirkekerasan. Ini menjadi upaya penting untuk memulihkan Islam yang kini terjebak dalam citra keji, biadab, dianggap agama teror karena ulah sejumlah penganutnya yang manipulatif. Lebih dari itu, sudah semestinya kita terlibat secara kreatif dalam membentuk sejarah dunia dengan cara yang beradab.

Adanya keserasian Islam dengan konsep Ahimsa yang telah diadu sejarah, diharapkan menggerakkan umat Muslim untuk mengeksplorasi dan mengedepankan aksi nirkekerasan sebagai alternatif perjuangan sosial-politik. Tak lain demi menyelamatkan nyawa umat manusia dari kematian yang tak perlu. Ini saatnya peran agama dalam menyokong perdamaian kembali ditekankan dan ditampilkan. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.