Menyambut Era Interreligius

KolomMenyambut Era Interreligius

Kita semua tentu menyukai pidato Cinta Laura tentang moderasi beragama beberapa hari lalu. Pidato itu menarik karena memberikan visi yang jelas bagi moderasi beragama kaum muda. Tentunya, generasi Z dan Milenial ingin lepas dari era beragama yang otoritarian, yang pecah dalam beberapa tahun kebelakang. Kita sedang menyambut terbitnya era beragama yang memancarkan energi keratif, yang sebenarnya memiliki preseden yang kuat dari Islam sendiri. Energi itu kini menemukan momentumnya pada generasi muda kita.

Dampak globalisasi dan revolusi komunikasi telah membawa wacana pluralisme dan universalisme pesan agama keluar dari ruang akademis. Wacana itu kini mempengaruhi praktik kecil harian seperti pergaulan, pertemanan, dan relasi kerjasama. Hubungan antar agama semakin dipandang positif dan perlu didukung. Sebagaimana J.B Banawiratma, yang dalam pengantarnya di buku Ketika Umat Beragama Mencipta Tuhan menuliskan, “today, to be religious is to be interreligious”. Kini generasi muda saling berinteraksi dan membuktikan banyak orang-orang baik dari berbagai keyakinan yang layak diapresiasi.

Anak muda berhak menjadani proses beragama dengan cara yang kritis, dan terus berkembang. Doktrin agama adalah konstruksi, tafsir, dan rumusan manusiawi yang terbatas. Pada dasarnya, manusia tidak mungkin mampu memahami keutuhan Tuhan yang sejatinya jauh melebihi kapasitas bahasa maupun akal-pikiran. Walaupun begitu, otoritas agama tetaplah luar biasa dan berjasa dalam melayani kebutuhan umat manusia untuk bertuhan. Di sinilah kemudian berlaku kutipan paling popular dari ayat al-Quran, untukmu agamamu, dan untukku agamaku (QS. Al-Kafirun: 6), yaitu munculnya keberagaman aliran pemikiran, penghayatan, dan pengabdian dalam menyembah Tuhan. Keberagaman tersebut tidak lain merupakan hasil dari upaya manusia, yang menarik untuk didekati secara kritis.

Pada hakikatnya, Tuhan itu tidak terbatas, apalagi oleh satu agama atau madzhab saja. Tuhan yang terbungkus dalam suatu bahasa, didefinisikan sedemikian rupa, menjelma sebagai kendali sosial tertentu, merupakan suatu ideologi agama. Tidak jarang, anak muda meragukan Tuhan yang terbatas seperti itu. Bagaimana mungkin guru SMA kami yang sangat welas asih dan adil, tidak mendapat balasan atas kebaikannya itu, hanya karena tidak seagama dengan kami? bagaimana mungkin Tuhan melaknat kepemimpinan perempuan? Atau mengapa orang yang dianggap tidak menyembah Tuhan akan dicap buruk?

Baca Juga  Sejarah Damai Sunni-Syiah

Di era saat ini khususnya, kita sangat terbuka untuk kembali pada prinsip “Tuhan yang Maha Esa”.  Tuhan yang tunggal, tauhid, yang justru mengantarkan hati kita melampaui batas-batas bahasa, formulasi manusia, dan membiarkan Tuhan menjadi Tuhan yang tidak terbatas. Kita semua tentu amat tertarik dengan ide perdamaian dunia, yang merupakan misi dari setiap agama.

Baca Juga  Pentingnya Ridha Orang Tua bagi Anak

Dengan menuhankan Tuhan sebagai Tuhan bagi seluruh umat manusia dan semesta alam, tidak perlu ada lagi prasangka dan permusuhan antar umat yang berbeda agama. Orang-orang tidak perlu lagi menarik urat untuk menegaskan satu agama lebih tinggi dari agama lain. Penegasan semacam itu tidak penting, kuno, dan tidak jelas faedahnya. Sebab, keindahan umat beragama dinilai dari amal dan dedikasinya kepada sessama manusia. Bagaimanapun, implementasi dari kehendak dan nama tuhan yang paling mencolok terlihat pada kesejahteraan dan kemakmuran umat manusia.

Maka dari itu, sebenarnya kita tidak perlu ambil pusing pada hal-hal yang tidak terjangkau. Kita cukup berfokus pada hal-hal yang berada dalam kendali kita, yaitu ikhtiar untuk memperindah kehidupan. Singkatnya, Tuhan kita adalah tuhan seluruh alam, bukan satu agama saja. Allah SWT berfirman di dalam al-Quran, Tuhan kami dan Tuhan kamu satu, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri (QS. Al-Ankabut: 46). Bukankan ini yang dipancarkan oleh sila pertama Pancasila, sehingga berbagai agama dapat harmonis di negeri ini? Prinsip inilah yang memungkinkan kita untuk menerima perbedaaan dan keanekaragaman agama-agama yang ada sebagai sunnatullah, lazim dan alami.

Keragaman dan keberagamaan adalah modal sosial yang besar dalam penguatan moderasi beragama. Kita harus mengelola potensi ini sebaik-baiknya. Hubungan antar agama yang baik akan memberikan kita ikatan harmonis, yang akan membawa kita untuk lebih menghargai keimanan, baik itu iman sendiri maupun imannya orang lain.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.