Buya Husein: Nalar Moderat Menciptakan Relasi Damai

BeritaBuya Husein: Nalar Moderat Menciptakan Relasi Damai

Pola pikir ekstrem baik kanan maupun kiri, kerap kali memicu kekacauan di tengah masyarakat. Ujaran kebencian, sikap intoleran, ataupun radikalisme atas nama agama adalah sederet ekspresi dari nalar sempit dan berat sebelah. Biasanya diawali dari penolakan pada keragaman. Padahal, pluralitas merupakan keniscayaan yang menempati bagian dunia manapun. Keseimbangan sosial hanya bisa ditempuh dengan cara pandang tengahan dan terbuka.

“Yang paling mendasar untuk menciptakan relasi damai adalah mengembangkan nalar moderat. Firman Allah jelas menyebutkan, “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil (moderat) dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasulullah menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”, papar Buya Husein.

Menjadi manusia moderat adalah cara menciptakan kedamaian dan keadilan sosial. Nalar tengahan berfungsi sebagai pembimbing untuk mengarifi beragam perbedaan yang kerap menjadi sumber konflik. Sebab, masih banyak orang yang terganggu dan tak sudi menerima keragaman.

“Indonesia adalah bhineka, dan bhineka adalah Indonesia. Pancasila adalah kalimatun sawa (titik temu). Di dalamnya terkandung nilai-nilai tauhid, kemanusiaan, persatuan, musyawarah untuk mencapai cita-cita luhur keadilan sosial. Nilai-nilai dalam Pancasila itu sesuai dengan esensi dan misi Islam. Inilah yang dimaksud al-Quran sebagai nilai-nilai wasathy (moderat)”, lanjut kiai pendiri Fahmina Institute tersebut.

Dengan kata lain, Pancasila adalah formula yang tepat untuk membangun relasi damai bagi negeri ini. Bahkan bisa menjadi prinsip yang berlaku universal. Karenanya, segala upaya pihak yang ingin menggeser Pancasila dari posisi dasar negara mesti dihentikan.

Baca Juga  Indonesia Proklamirkan Kemerdekaan di Bulan Ramadhan

Menurut Buya Husein, nalar moderat adalah sikap untuk menghadapi pemikiran dan gerakan radikal-ekstrem. Ditegakkan melalui prinsip-prinsip kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, kemaslahatan, dan penghargaan terhadap HAM untuk menuju keseimbangan dan kedamaian sosial. Secara rincinya, ia merumuskan dalam tujuh butir penjelasan yang mengelaborasi prinsip-prinsip tadi.  Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.