Buya Arrazy Hasyim: Mewaspadai Kalbu yang Lalai

BeritaBuya Arrazy Hasyim: Mewaspadai Kalbu yang Lalai

Hati manusia sangat mudah berubah. Kata kalbu merupakan serapan dari bahasa Arab, bermakna “terbolak-balik, terombang-ambing”. Mengindikasikan hakikat dasar dari hati itu sendiri yang rawan bergeser. Dengan demikian, semua orang pun sama-sama berpotensi lalai, termasuk ahli ibadah sekalipun.

Buya Arrazy dalam kajian rutin kitab ‘Awarifu al-Ma’arif menjelaskan sebuah hadis Nabi, “Apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan ada titik noda hitam di hatinya. (Baik itu dosa zahir maupun batin). Jika dia menarik diri dari maksiat, lalu minta ampun (mengaku) dan bertaubat (menyesali) maka ia dibersihkan. Apabila ia kembali bermaksiat maka nodanya bertambah sehingga menutupi kalbunya. (Di sinilah hati tak bisa membaca atau menemukan lintasan ketuhanan, karena terhijab maksiat)”, tutur Buya.

Noktah atau noda dosa yang paling berbahaya adalah lalai. Sebab, kelalaian bisa membuat siapapun terjerumus pada berbagai jurang maksiat. Satu yang paling berbahaya adalah jurang kesombongan (kibr), karena ini adalah dosa lama yang dilakukan iblis. Perasaan lebih besar atau lebih unggul daripada yang lain itu akan membinasakan diri sendiri.

Orang yang populer, berilmu seringkali gampang tergelincir pada kesombongan. “Tepatlah jika para syeikh kita terdahulu sering menasihati, Qabla an takuna masyhuran, fakun madfunan/masturan. (Sebelum kamu terkenal karena ilmu atau nikmat lain yang Allah titipkan, maka hendaklah kamu membenamkan dirimu) untuk menata diri dan kalbu”, lanjut Buya yang dikenal rendah hati itu.

Karena kita tak bisa menjamin bahwa besok tidak bermaksiat, maka niatkan tiap hari ingin bertobat kepada Allah. Apabila Rasulullah SAW yang dijamin suci saja rutin berdoa memohon ketetapan hati, maka kita jauh lebih ditekankan untuk hal itu. Beliau selalu membaca doa, Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Lalai bisa menjadi sumber noda-noda dosa yang menutup hati dari cahaya Ilahi. Hanya Rasulullah SAW manusia yang tak lalai, sebagaimana riwayat Sayyidah Aisyah, bahwa Rasulullah selalu mengingat Allah di setiap waktu. “Cara menutup atau mewaspadai kelalaian bisa dengan membaca laa haula walaa quwwata illa billah, kalau bisa pagi dan sore. Itulah gunanya kalimat tersebut. Karenanya, kalau ada azan jangan banyak bicara, dengarkan dengan seksama, terutama saat bacaan hayya ‘ala al-shalah hayya ‘ala al-falah”, pungkas Buya Arrazy.

Baca Juga  KH Said Aqil Siroj: Sikap Ramah Kunci Keberhasilan Dakwah
Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.