Hijrah Moralitas di Tahun Baru Hijriah

BeritaHijrah Moralitas di Tahun Baru Hijriah

Memperingati momentum Muharram, sudah barang tentu umat Muslim bersuka ria menyambut kedatangannya. Tak lupa pula diiringi doa khusus memohon ampunan dan berikhtiar dalam memperbaiki diri. Demikian ucapan selamat dan kemuliaan bulan Muharram yang tersebar di jagat siber menjadi awal hijrah untuk menghiasi media sosial dengan kegiatan positif dan membangun. Mari kita refleksikan keutamaan Muharram ini sebagai momentum untuk hijrah moralitas yang lebih terpuji.

Dalam momentum tahun baru hijriah Muharram 1443, tak sedikit umat Islam membagikan pesan bermanfaat tentang keutamaan dan kemuliaan Muharram di jagat siber. Momentum Muharam seperti ini, ruang siber kerasan menenangkan dan damai. Pasalnya, baik whatsapp, facebook, youtube, dan instagram, hampir dipenuhi informasi yang bermanfaat, hingga jauh dari kesan kontradiktif dan isu panas lainnya. Semua umat Islam bersatu.

Sebagaimana kemuliaan dan keutamaan bulan Muharam, dalam kesempatan ini kita bisa jadikan sebagai momentum hijrah moral. Kenapa tidak? Muharam sendiri mempunyai arti diharamkan. Haram di sini kata Abu ‘Amr ibn Al-‘Alaa (68 H/154 H), memiliki arti larangan berperang (jihad) dalam bulan tersebut (Muharam). Meski jihad bagian dari syariat, Islam tetap melarang berperang pada bulan tersebut, berikut perbuatan lain yang tidak bermoral.

Kendati berperang terkesan perbuatan yang tidak bermoral karena saling membunuh. Namun, pada masa Rasulullah berjihad itu penting untuk menampik serangan kaum kafir. Oleh karena itu adanya bulan larangan berjihad ini, justru mengurangi peperangan di masanya. Demikian kita dapat melihat, bahwa Rasulullah adalah pembawa agama Islam yang mengupayakan kedamaian dan sumber teladan yang sempurna, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik. (QS. Al-Ahzab ayat 21).

Berbicara mengenai moral (akhlak), Rasulullah adalah pengemban akhlak yang sempurna.  Meski Rasulullah telah lama wafat, tetapi namanya masih sangat harum hingga kini. Pada era digital sekarang, syiar dakwah tentang akhlak Rasulullah tersiar luas di media siber. Tak sedikit orang yang loyal berbagi ilmu, sembari mengemas syiar dakwahnya dengan menarik dan menyentuh. Hal demikian tidak lain, sekadar mengamalkan ilmu dan berbagi manfaat dengan menampilkan konten yang positif.

Baca Juga  Memfungsikan Masjid sebagai Pemberdaya Umat
Baca Juga  Memfungsikan Masjid sebagai Pemberdaya Umat

Kita sebagai penikmat kecanggihan teknologi, hendaknya, bisa mengambil hikmah dari media sosial. Belajar melalui media siber dari sumber yang valid,  sama takarannya seperti mendatangi majelis ilmu pada umumnya.

Sekian banyak yang menyemai manfaat dan nasihat kehidupan agar lebih baik, mestinya kita ikut termotivasi mengambil hikmah dari konten yang positif, walau harus melalui media siber. Jika kita dapat menyimak secara seksama atas apa yang dilihat dan dengar, sudah pasti membawa kebaikan pula. Mengubah kebiasaan tentu tidak mudah, karenanya harus bertahap dan rutin belajar walaupun melalui ruang siber.

Hemat penulis, apa yang sering kita lihat walaupun melalui media sosial pasti memiliki pengaruh. Jika media siber yang digunakan dengan niat agar memperoleh hikmah dan mengubah akhlak atau moral kita, niscaya akan turut berubah pula. Sehebat apapun manusia, jika tak memiliki akhlak tiada guna. Sebab itu Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya. (HR. al-Bukhari, 10/378, dan Muslim, no. 2321). Saatnya kita hijrah menuju moralitas yang terpuji di media sosial.

Artikel Populer
Artikel Terkait