Belajar Menyikapi Pandemi dari Suku Baduy

BeritaBelajar Menyikapi Pandemi dari Suku Baduy

Hampir satu setengah tahun pandemi berlalu, masyarakat Suku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten masih nihil dari kasus positif Covid-19. Ini menjadi satu hal yang mengagumkan di tengah masifnya kasus positif yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia secara umum. Kemampuan masyarakat Baduy bertahan dari gelombang wabah ini tentu menyimpan hal-hal yang bisa kita telaah untuk kemudian diadopsi. Lantas, apa saja sekiranya rahasia ketahanan mereka?

Diketahui, begitu tersiar kabar tentang penyebaran virus ini, pemerintah desa setempat meresponsnya dengan cepat. Karantina wilayah segera diterapkan di area komunitas Baduy. Mobilisasi warga sangat diminimalisir, termasuk pembatasan wisatawan atau orang luar untuk masuk ke desa. Sedangkan warga Baduy yang berada di perantauan diminta untuk segera pulang dan sebelum masuk desa harus menjalankan pengecekan kesehatan di Puskesmas setempat.

Kebijakan-kebijakan tersebut sejalan dengan instruksi Nabi apabila wabah melanda, Rasulullah SAW bersabda, Bila kamu mendengar wabah di suatu daerah, maka kalian jangan memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi di daerah kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu. (HR. Bukhari dan Muslim).

Selaku masyarakat yang memegang teguh tradisi leluhur, pemimpin adat pun juga menggelar ritual sebagai upaya penanganan. Tak lupa, ada juga gelaran doa bersama untuk meminta keselamatan serta dijauhkan dari malapetaka. Hal ini menunjukkan adanya upaya spiritual untuk mengimbangi ikhtiar fisik dan kebijakan pemerintah.

Yang tak kalah penting, masyarakat Baduy tidak begitu saja mengabaikan instruksi-instruksi negara sekalipun ada aturan adat yang dipegang kuat. Mereka tetap menerapkan protokol kesehatan sesuai aturan pemerintah. Agenda sosialisasi kebijakan terkait Covid-19 juga terus dilakukan secara intensif. Sinergi antara aturan adat dan pemerintah menjadi kekuatan penting dalam menanggulangi wabah ini.

Selain itu, warga setempat pun menerapkan gaya hidup sehat dengan rutin meminum obat tradisional, seperti ramuan dari kencur dan jahe merah. Pandemi ini memang mengajarkan kita untuk kembali pada alam. Bukankah banyak sekali anjuran untuk mengonsumsi racikan minuman herbal dari empon-empon, yang ternyata memang berkhasiat untuk kesehatan? Kehidupan warga Baduy yang dekat dengan alam dan dipenuh aktivitas fisik seperti berladang turut menekan risiko mereka untuk terpapar.

Baca Juga  Warisan Intelektual Prof. Huzaemah Bagi Perempuan

Mereka sadar, bahwa kalau bukan kita sendiri yang mencegah, maka tak akan bisa. Untuk itu, harus ada upaya aktif dan disiplin dari manusia yang bersangkutan. Suku Baduy memegang teguh apa yang disebut dengan pikukuh, yakni semacam aturan yang dijadikan sebagai pedoman hidup bagi aktivitas masyarakat. Dalam konteks pandemi ini, pikukuh yang dipedomani ialah bahwa tiap penyakit pasti ada obatnya. Menyiratkan spirit optimisme, tidak pasrah begitu saja pada keadaan.

Baca Juga  Gus Sholah: Sampaikan Kepada Siapapun Agar Menjaga Indonesia

Secara umum, masyarakat adat memiliki memori pahit akan wabah. Di antaranya ialah saat Flu Spanyol menyerang Suku Toraja hingga membuat sepertiga penduduknya meninggal dunia. Lokasi hidup mereka yang biasanya terpencil menyebabkan kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan. Bisa dibilang hal ini pula yang mendorong kesadaran serta sikap tanggap mereka saat dihantam gelombang virus. Karakter warga Baduy yang lebih memilih menjauhi perdebatan mempermudah terwujudnya kesepahaman, sehingga masyarakat relatif mudah diatur.

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari potret warga Baduy dalam menyikapi pandemi. Pertama, dari sisi pemerintahan. Kesigapan pemerintah adat dalam melakukan mitigasi kondisi darurat ini patut diteladani. Selain itu, untuk membantu negara, tokoh masyarakat yang berpengaruh harus turun tangan memanfaatkan pengaruhnya, seperti sinergi tokoh adat dan pemerintah dalam konteks Baduy.

Kedua, dari segi personal, yakni penguatan diri dengan konsumsi makanan sehat dan merutinkan aktivitas fisik, sebab kondisi badan adalah benteng utama untuk menangkal penyakit. Kepatuhan mereka terhadap otoritas yang berwenang adalah hal yang juga harus kita ikuti, tanpa menutup pintu kritik saat ada kebijakan yang minus. Terakhir, melengkapi usaha dengan doa.

Miris rasanya ketika membandingkan antara realitas masyarakat kita yang kerap viral karena sikap indisipliner dengan kenyataan warga Baduy. Mereka yang secara pendidikan relatif lebih rendah daripada warga Indonesia umumnya serta jauh dari jangkauan modernitas, ternyata lebih menunjukkan sikap berkesadaran, disiplin diri, dan komitmen. Faktor-faktor di ataslah yang dilanggengkan semasa pandemi, dan terbukti membuat mereka bertahan dengan nol kasus positif Covid-19. Kita bisa belajar dari siapapun, dan sikap hidup masyarakat Baduy layak untuk ditiru. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait