Berpulangnya tokoh cendekiawan muslim Dr, KH. Jalaludin Rahmat (Kang Jalal) membuat masyarakat yang mengenali merasa kehilangan. Berbagai kalangan turut mengantarkan keperistirahatan terakhir, dengan mengenang berbagai kebaikan serta ilmu-ilmu yang membebaskan fikiran pembaca.

Di ranah publik sebagian orang mengenal Kang Jalal sebagai seorang politisi ataupun seorang kader partai. Namun, jauh sebelum menekuni kiprahnya sebagai politisi yang membela hak minoritas seperti kelompok-kelompok syiah ataupun kelompok keagamaan lainnya, ia merupakan tokoh muslim yang memiliki pengaruh besar. Kedekatan ia dengan kelompok tradisional seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah membuat Kang Jalal dipercaya sebagai tokoh muslim berpengaruh di era Presiden Suharto.

Selain ketokohannya yang dikenal banyak kalangan di Indonesia, Kang Jalal yang bergelar Doktor merupakan seorang dosen yang mengajar bidang keilmuan komunikasi di Universitas Padjajaran, Jawa Barat. Tidak bisa dipungkiri pula bawa karya besarnya menjadi rujukan untuk mahasiswa serta peneliti di Indonesia tentunya berfokus dalam hal komunikasi publik seperti Buku Psikologi Komunikasi yang ditulis tahun 1985 dan beberapa karya lainnya.

Dengan menguasai ilmu komunikasi dan multidisiplin ilmu lainnya seperti keislaman dan lainnya, membuat ia dekat dengan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan kader-kader dari ormas Islam tertua di Indonesia ini. Banyak sekali cerita menarik dipaparkan oleh murid-muridnya seperti kecintaan akan budaya membaca dan keilmuan sehingga membuat tertegun untuk didengarkan apalagi cerita-cerita lainnya.

Penguasaan keilmuan dan ketokohan mendorong Kang Jalal beserta beberapa tokoh muslim lainnya seperti DR. Ir. Dimitri Mahayana, M.Eng mendirikan organisasi kemasyarakatan yang berbasis keIslaman dengan menitik beratkan kepada menghimpun para pencinta keluarga suci Nabi Muhamad SAW, tidak terbatas kepada apapun mazhabnya. Ormas yang diberi nama Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) merupakan ormas yang tak jauh berbeda dengan yang lainnya sehingga sangat mudah diterima oleh masyarakat.

Kedekatannya dengan kelompok minor membuat nama Kang Jalal dan IJABI melambung tinggi, dimana akhirnya tetap saja pada dasarnya kebencian menjadi pemenang. Beberapa tokoh pentolan ITJ dan FPI, membenci Kang Jalal yang notabene sebagai tokoh Syiah Indonesia yang membawakan komunikasi sebagai ekspresi kebebasan beragama. Begitulah fakta yang ada saat itu, dan relevan untuk menjadi pertimbangan saat ini apalagi melihat keruhnya suasana keberagaman agama dan mazhab. Sejauh ini, Islam di Indonesia masih berkutat dalam ruang lingkup internalnya sendiri terlebih tentang perbedaan mazhab dan tata cara peribadatan. Maka sangat wajar apabila syiah menjadi kambing hitam untuk melimpahkan kekesalan ataupun sekadar menyalahkan.

Saya sangat beruntung, bisa hidup dimana agama Islam dijadikan sebagai keyakinan yang tidak terlibat dalam organisasi manapun. Selain itu, tidak pernah mempermasalahkan tata cara ataupun ritual yang digunakan oleh ormas lain, dalam melakukan peribadatan sehingga egoisme dalam beragama tidak muncul dan tidak mudah menyalahi kehendak yang lain. Namun, tentunya pandangan saya ini akan bertolak belakang dengan kelompok-kelompok Islam garis keras, dengan menganggap bahwa Islam haruslah kaffah (utuh) atau bisa menganggap sesat.

Seperti yang kita lihat saat Kang Jalal menghembuskan nafas terakhir dan tersebar pemberitaannya dimana-mana. Terdapat dua kelompok yang vokal dengan perbedaan persepsi dimana satunya mendoakan dengan hal-hal yang baik disatunya bersyukur atas berpulangnya Kang Jalal. Walaupun dikecam kerana sebagai tokoh Syiah di Indonesia oleh beberapa kelompok, Kang Jalal mendapatkan penghormatan setinggi-tingginya dari kalangan NU dan juga Muhammadiah, dimana kedua ormas ini merupakan tulang punggungnya Islam di Indonesia.

Singkatnya, Kang Jalal merupakan representasi orang-orang yang berfikir bahwa agama merupakan kaidah perdamaian. Walaupun demikian, sebagai negarawan ia meletakkan jiwa nasionalisme sebagai wujud kewajiban pemeluk agama serta wujud keyakinan yang hakiki dalam bernegara dengan mengabdikan sebagai politisi yang membela hak-hak minoriti dan kebebasan beragama. 

%d blogger menyukai ini: