Keistimewaan Perempuan dalam Al-Quran

KolomKeistimewaan Perempuan dalam Al-Quran

Pada 15 abad yang lalu sebelum al-Qur’an turun, perempuan mempunyai kedudukan yang tidak setara dengan laki-laki, bahkan kelayakannya hidup sebagai manusia. Aristoteles (384-322 SM), seorang filsuf Barat menyatakan, bahwa perempuan sederajat dengan budak dan hamba sahaya. Sementara Plato (428-347 SM), memposisikan kedudukan kehormatan perempuan terletak pada kemampuannya melakukan pekerjaan sederhana, hina dengan terdiam tanpa bicara.

Sampai pada al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, untuk membangun peradaban manusia dan memberikan kemuliaan pada perempuan, serta kedudukan yang layak. Sebagai keistimewaannya dalam al-Quran antara lain: mempunyai ketetapan hak waris, perempuan yang hamil dan melahirkan setara dengan jihad, mempunyai kesetaraan dengan laki-laki, berhak mendapatkan mas kawin dan nafkah. Meski demikian, tidak sedikit ditemukannya pernyataan yang memarginalkan gerak perempuan dalam budaya patriarki.

Saat saya mengkaji buku Teori Sosiologi Modern oleh George Ritzer dan Douglas J. Goodman tentang perempuan di zaman dahulu, pertanyaan yang meresahkan adalah; Bagaimana bisa perempuan tidak dihargai, sedangkan ia berwujud nyata seperti manusia pada umumnya. Selagi ia seorang yang bernafas, berpikir dengan akal, berbicara dengan bahasa manusia, dan membangun generasi untuk kehidupan selanjutnya, maka ia layak mendapatkan hak yang sejajar dengan kedudukan laki-laki.

Sungguhpun, kehidupan tidak akan menjadi baik dan berarti tanpa perempuan, hingga ia bersinergi dalam menata kehidupan. Sebagaimana firman Allah SWT: “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisâ: 124)

Pada ayat di atas, antara laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama. Mereka yang berbuat amal baik, oleh syariat Islam akan terlindungi agama, kehormatan, akal, dan jiwanya. Kemudian, sebagai balasannya mereka berhak mendapatkan surga dan bebas dari kedzaliman.

Baca Juga  Kiai Husein Muhammad: Hijrah Bukan Ganti Busana

Sebenarnya, ada banyak ayat al-Quran dan hadis tentang memuliakan perempuan. Mengingat, beberapa bidang tertentu bisa lebih baik, jika menyertakan perempuan di dalamnya. Bahkan, saat ini ada banyak bidang yang didominasikan perempuan, misalnya pramugari, guru, sekretaris, perancang busana, dokter dan banyak lainnya.

Di sini terbukti, kalau perempuan mempunyai kapasitas dan patut diakui kemampuannya. Begitu indahnya ajaran Islam, mengistimewakan kedudukan perempuan. Dengan demikian, seharusnya tidak ada lagi pertanyaan; Apakah boleh wanita bekerja dan berkarir? Apakah wanita tidak usah berpendidikan tinggi? Serta sederet pertanyaan lain yang sekiranya menjadikan wanita tak berdaya.

Namun, bagi seseorang yang sudah membangun bahtera rumah tangga, hendaknya tetap ada kesepakatan atau musyawarah dalam menentukan pilihannya, agar tak terjadi kesalahpahaman atau egosentris di antara mereka. Perlu adanya pemahaman yang kompleks dalam menjalani perannya masing-masing.

Sebagai perempuan, percayalah bahwa dirimu berharga. Perempuan itu multi-peran, ia bisa menjadi seorang ibu dan istri untuk anak dan suaminya, menjadi anak untuk kedua orang tuanya, menjadi wujud cita-cita sebagaimana impiannya. Di sisi lain, ia harus tetap mengingat kodratnya sebagai perempuan, karena pada hakikatnya baik perempuan maupun laki-laki mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing, sehingga mereka saling melengkapi dan membutuhkan.

Artikel Populer
Artikel Terkait