Di Negeri ini, mayoritas penduduknya adalah agama Islam. Namun, sayangnya banyak Muslim di negeri ini yang membawa budaya keislaman asing masuk dan berkembang, contohnya seperti budaya Arab. Tentunya, kita sebagai Muslim Nusantara yang menyayangi budaya lokal, tidak mau kehilangan ciri khas Nusantara yang sesungguhnya. Untuk itu, kita harus menjaga identitas keislaman tersebut dengan budaya sendiri agar budaya Nusantara terjaga dan tumbuh subur, hingga lestari.

Memang Islam sendiri sudah lama masuk ke Indonesia, walaupun datangnya Islam di Nusantara tidak jelas waktunya. Menurut ahli sejarah M.C. Ricklefs, dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern menyebutkan, penyebaran Islam merupakan salah satu proses yang sangat penting dalam sejarah Indonesia, tapi juga yang paling tidak jelas. Hal tersebut senada dengan Jajat Burhanudin, dalam buku Islam dalam Arus Sejarah Indonesia yang mengatakan, masa-masa awal Islam di Nusantara kerap dianggap sebagai periode sejarah yang sangat kabur.

Di samping itu, ada banyak versi ketika dahulu waktu pertama kali orang-orang Arab atau keturunan Arab masuk ke negeri ini. Orang-orang tersebut saat masuk Negeri ini pasti juga membawa budaya mereka. Budaya yang mereka bawa pun sekarang sudah terakulturasi dan ada juga sebagian kecil yang ikut memperkaya budaya yang dimiliki oleh Indonesia.

Sementara itu, budaya Arab yang dibawa ke negeri ini salah satunya adalah busana atau cara berpakaian, perilaku, gaya, kuliner, tatanan hidup, dan bahasa. Walaupun agama Islam sendiri berasal dari Arab, tetapi hendaklah Muslim Nusantara melestarikan budaya yang telah diwariskan nenek moyang kita. Betapa Indahnya, jika kita memakai dan bangga dengan pakaian Nusantara, seperti songkok hitam (songkok Soekarno), baju batik, dan sarung. Untuk itu, saya menyarankan agar kita semua menggunakan pakaian-pakaian khas Nusantara tersebut.

Namun, tidak masalah juga apabila seseorang tidak mau mengganti cara berpakaian atau perilaku, dan gaya hidup. Sebab, hal tersebut merupakan hak pribadi yang tidak bisa diganggu orang lain. Walakin, melalui hal-hal kecil tersebut kita bisa meningkatkan rasa nasionalisme diri, dan itu dapat menjadi contoh bagi kehidupan di sekitar kita.

Perlu kita ketahui, Nusantara adalah bangsa yang sudah memiliki peradaban. Jika kita menanam Islam di Nusantara, maka jangan sampai melukai suku bangsa yang sudah ada. Maka dari itu, kita perlu berislam dengan budaya sendiri atau kita harus sesuaikan dengan budaya yang sudah ada. Di samping itu, karena kita berislam di negara yang berbineka, kita wajib menghargai saudara-saudara kita yang berbeda agama.

Kata Gus Muwafiq, dalam buku Nusantara tidak akan bubar menyebutkan, jika mau memperkenalkan kata “Gusti Allah”, di Nusantara sudah ada “Pangeran”. Mau mengenalkan kata salat, di Nusantara sudah kenal sembahyang. Mau memperkenalkan ustadz, di Nusantara sudah ada Kiai. Muridun dikenal sebagai santri. Shaum di Nusantara dikenal dengan uphawasa atau puasa. Oleh karena itu, apabila ingin tahu cara Islam diperkenalkan di Nusantara, datanglah ke pesantren tradisional. Jika ada orang di negeri ini yang belajar Islam tidak melalui pesantren, biasanya mereka cepat korslet, begitu kata Gus Muwafiq.

Namun, kita harus mengingat sejarah perjalanan Islam ketika disebarkan oleh Wali Songo. Dahulu para wali menyebarkan Islam menyesuaikan diri dengan keadaan melalui budaya Nusantara. Ketika zaman kerajaan Majapahit, budaya apapun yang digunakan pada masa itu, maka dipakai pula oleh para wali untuk menyebarkan Islam yang diajarkan Rasulullah SAW. Saat itu, Islam bersenyawa dengan budaya lokal. Kecerdikan para wali ketika itu, menjadikan Islam besar di Nusantara sampai sekarang.

Untuk itu, berislam dengan budaya sendiri menjadikan kita bangga akan kekayaan yang dimiliki Nusantara. Dengan membawa budaya Nusantara, ibadah yang kita lakukan akan lebih menyenangkan dan sempurna. Budaya asli Nusantara merupakan identitas asli orang pribumi. Oleh karena itu, kita harus bangga dengan budaya Nusantara, karena dengan berperilaku seperti itu, kita dapat mengenalkan budaya Nusantara ke negara lain. Hal tersebut akan menjadikan Muslim bumi pertiwi ini dikenal dunia.

Dengan demikian, kita harus mengembangkan ajaran para wali. Perlu kita ketahui, para kiai Nusantara saat ini adalah penerus Wali Songo, karena mereka berusaha melestarikan ajaran dan strategi dakwah para pendahulunya yang menyelaraskan Islam dengan budaya lokal. Apabila Muslim menunjukkan dan menyambungkan keislaman mereka dengan budaya, maka betapa indahnya kehidupan di Nusantara ini. Di sisi lain, berislam dengan budaya sendiri, tidak akan menghilangkan marwah dan ajaran asli Rasulullah SAW.

%d blogger menyukai ini: