Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, ampunan, dan kasih sayang. Di mana setiap dari kita lebih rajin meningkatkan ibadah untuk menjadi hamba yang bertakwa. Di mana dari setiap kita lebih mudah untuk memaafkan orang untuk mendapat ampunan Tuhan. Di mana setiap dari kita lebih ringan untuk saling berbagi dan memberi agar mendapat berkah dari ilahi. Semua itu, adalah wujud dari bulan Ramadhan sebagai momentum untuk mempererat tali persaudaraan di antara kita.

Persaudaraan merupakan fundamen penting dalam membangun kemanjuan bangsa dan negara. Tanpa adanya rasa persaudaraan, mustahil kebersamaan bisa dirajut. Tanpa adanya kebersamaan, tak mungkin kemajuan dapat kita rebut. Sebab itulah, di bulan Ramadhan ini rasa pesaudaraan perlu kita perkuat untuk memupuk kebersamaan demi kemajuan bangsa dan negara.

Islam pun mengajarkan pentingnya menjaga persaudaraan di antara umat manusia. Pasalnya, persaudaraan menjadi penyangga tatanan kehidupan yang kokoh dalam sebuah masyarakat. Tidak akan terbentuk sebuah masyarakat dan bangsa yang maju, bila di dalamnya tidak ada spirit persaudaraan. Al-Quran menegaskan agar umat manusia selalu membangun tali persaudaraan di antara mereka (QS. al-Nisa [4]: 1).

Ayat di atas, secara eksplisit menyeru kepada setiap manusia, tidak hanya umat Muslim saja, tetapi seluruh umat manusia tanpa terkecuali untuk membangun tali persaudaraan. Artinya, al-Quran tidak hanya memerintahkan untuk membangun ukhuwwah Islamiyyah saja, tetapi juga ukhuwwah basyariyyah dan ukhuwwah wathaniyyah.

Dalam konteks ini, bulan Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk mempererat tali persaudaraan, khususnya persaudaraan antarsesama umat Muslim. Bulan Ramadhan bisa dijadikan momentum untuk saling bersilaturahim guna memperkuat tali persaudaraan tersebut. Setidaknya, ada beberapa alasan yang mendasarinya.

Pertama, bulan Ramadhan adalah sarana memupuk kebersamaan umat Muslim. Kebersamaan di bulan ramadhan terasa kental sekali jika kita lihat berbagai macam ritual ibadah dan tradisi yang dilaksanakan. Shalat tarawih, tadarus al-Quran, kultum Subuh hingga buka bersama adalah aktivitas ritual ibadah yang sarat kebersamaan di bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan umat Muslim berbondong-bondong ke Masjid untuk melaksanakan ibadah tersebut guna mencapai derajat Muslim yang bertakwa.

Shalat tarawih misalnya, masjid selalu terisi penuh oleh jemaah. Kalau pada hari biasa orang-orang cenderung sibuk dengan urusan dan pekerjaan masing-masing, tetapi di bulan Ramadhan mereka selalu berusaha menghentikan kesibukan mereka sedari sore menjelang magrib. Mereka bersiap memfokuskan segala aktivitasnya di malam hari untuk merebut pahala shalat tarawih berjamaah di masjid. Di sinilah kebersamaan umat Islam terasa lebih kuat. Dan karena kebersamaan itu, tali persaudaraan pun terasa lebih erat pula.

Kedua, budaya bersedekah, saling berbagi dan memberi di bulan puasa. Kita temui di bulan Ramadhan banyak sekali orang-orang, lembaga masyarakat, DKM masjid, hingga organisasi pergerakan mahasiswa yang dengan suka rela berbagi takjil, makanan buka puasa hingga sembako. Budaya saling berbagi dan memberi ini hampir rata kita saksikan di seluruh penjuru Tanah Air.

Saya menyaksikan sendiri, betapa terenyuhnya hati saya ketika melihat sekelompok organisasi mahasiswa membagikan takjil dan makanan buka puasa kepada pada sopir angkot, tukang ojek online, hingga pengendara umum di jalanan menjelang magrib. Mahasiswa, yang mungkin secara ekonomi masih terhitung belum mapan, tetapi faktanya di bulang Ramadhan ini mereka tetap bisa berbagi kepada sesama anak bangsa.

Begitu pula pembagian takjil dan makanan buka puasa di masjid. Orang-orang yang datang duduk melingkar, menghadap sajian buka puasa, menunggu beduk Magrib ditabuh, untuk kemudian menyantap makanan yang tersedia bersama-sama. Bagi saya, semua itu merupakan sebuah budaya di bulan Ramadhan yang kian mempererat rasa persaudaraan kita.

Sudah selayaknya budaya bersedekah, berbagi, dan memberi seperti ini terus dilestarikan dan dikembangkan. Tidak saja hanya dilakukan di bulan Ramadhan tetapi juga di hari-hari biasa. Kenyataannya, masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan kita untuk sekadar makan dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Saya yakin, jika hal ini dapat dilakukan, rasa persaudaraan kita, bahkan rasa persaudaraan nasional dapat segera dicapai. Dan pada akhirnya, kemajuan bangsa pun akan diraih.

Akhir kata, bulan Ramadhan pada intinya telah mengajari kita tentang apa arti kebersamaan, saling berbagi, juga saling memberi. Dengan kebersamaan, berbagi, dan memberi di bulan Ramadhan rasa persaudaraan kita tumbuh. Walhasil, tidak salah kalau kita menyebut bulan Ramadhan adalah momentum untuk mempererat tali persaudaraan, khususnya persaudaraan sesama Muslim. Semoga bulan Ramadhan ini, tali persaudaraan kita semakin erat dan mesra.

%d blogger menyukai ini: