Kelahiran Sayyidah Fatimah az-Zahra dari rahim suci Siti Khadijah—istri Nabi yang paling dicintai—Allah SWT menegaskan kedudukan seorang wanita yang teramat tinggi dalam Islam. Mengingat, sosio-kehidupan era jahiliyah Arab pra-Islam sudah tertancap budaya patriarki. Di mana masyarakat lebih memberikan nilai kepada laki-laki. Dewa mereka yang tertinggi, patung yang tegak berdiri di Ka’bah, bernama Hubal berjenis kelamin laki-laki. Adapun dewa-dewa yang disembah lainnya—al-Lat, al-Uzza, dan Manat—semua berjenis kelamin perempuan.

Tidak hanya itu, pemimpin suku-suku Badui dan kabilah-kabilah dipilih berdasarkan seorang laki-laki paling senior berjanggut putih yang bijak. Memiliki anak laki-laki merupakan kebanggaan sekaligus derajat tertinggi dalam keluarga. Sedangkan anak perempuan, hanya akan merendahkan martabat karena kelemahannya; kerapuhan seorang perempuan mendorongnya menjadi seorang budak di masa depan, dan tentu saja menyebabkan turunnya nilai kemanusiaan. Bahkan melahirkan anak perempuan dianggap sebagai aib dan menguburnya hidup-hidup akan lebih baik daripada harus menodai kehormatan ayah dan nenek moyangnya.

Tidak demikian dengan Nabi Muhammad SAW. yang segera bersimpuh dan membenamkan kepalanya ke bawah untuk bersujud kepada Allah SWT. sebagai bentuk rasa syukur yang tak terhingga. Nabi tahu bahwa dari Fatimahlah kelak anak cucu keturunannya akan lahir. Ia adalah anak yang paling disayangi Nabi. Ummu Salamah—istri Nabi yang cantik jelita—mengatakan, Ketika Nabi menikahiku, ia menyerahkan putrinya kepadaku. Akulah yang membesarkannya dan mendidiknya. Demi Allah! Dia lebih beradab dan terdidik dibanding aku; lebih tahu banyak hal (alim) daripada diriku.

Siti Khadijah telah melahirkan manusia agung, perempuan luar biasa suci dan disucikan. Tepat saat kelahirannya, baik dari barat maupun timur, selatan ataupun utara bumi, tidak ada yang memancarkan cahaya terang selain cahaya yang menyinarkan darinya. Allah SWT telah memberikan anugerah keturunan suci yang diberkati, wanita paling utama. Seolah-olah Allah SWT. ingin membuktikan kemampuan yang menakjubkan dalam menciptakan seorang perempuan sempurna yang memiliki bakat dan akhlak yang tak tertandingi.

Nama Fatimah, Nabi sendiri yang memberikannya yang berasal dari kata Qath’an atau Man’an. Kata itu berarti memotong, mumutuskan, atau mencegah. Ia dinamakan Fatimah karena Allah SWT akan mencegahnya dari api neraka. Salah satu nama Fatimah yang lain adalah Ash Shiddiqah yang berarti seorang perempuan tulus dan jujur. Al Mubarakah juga nama lain Fatimah yang berarti kebahagiaan dan keberlimpahan atau kemuliaan.

Salah satu nama lain Az-Zahra adalah Ath Thahirah yang memiliki arti suci dan murni, ditambah Az Zakiyyah yang berasal dari kata Tazkiyyah berarti menyucikan. Ar Radhiyyah juga nama lainnya yang berarti ridha dengan apapun yang ditetapkan Allah SWT. atas segala derita sejak lahir hingga kesyahidannya yang masih di usia muda sekaligus Al Mardhiyyah, yang berarti orang yang diridhoi.

Al Muhaditsah yang berarti orang yang mengagumi kata-kata dengan benar dan cermat ketika malaikat turun dari surga dan memanggilnya, sebagaimana malaikat juga memanggil Maryam binti Imran—Ibunda Nabi Isa AS—yang berkata, Wahai Fatimah! Allah telah memilihmu di atas perempuan segala bangsa.” Dan terakhir tentu saja Az-Zahra yang berasal dari Zahara, yazharu, zuhran dengan arti bercahaya dan harum semerbak (Abu Muhammad Ordoni, 2009: 89).

Bagaimana tidak, perempuan yang disebut sebagai the greatest woman oleh Ali Syariati itu adalah seorang putri dari manusia pilihan, Rasulullah SAW, Siti Khadijah yang berkedudukan dan memiliki kemuliaan dari sekian bangsawan Quraisy, seorang istri dari Imam Ali bin Abi Thalib sekaligus ayah dari cucu kesayangan Nabi, Hasan dan Husain. Maka tidak aneh jika keistimewaan akhlak dan kesempurnaan fisik serta budi pekertinya, agak sulit digambarkan. Sosok wanita yang memiliki sifat bertanggung jawab, menjaga harga diri, kepedulian sosial, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, cerdas, berilmu (alim) atau berpengetahuan luas.

Meski hidupnya terhitung singkat, ia telah mengemban misi kebaikan dan keberkahan bagi seluruh alam semesta. Ia juga figur, cerminan, panutan, teladan dan diteladani secara paripurna bagi wanita di seantero dunia. Tidak lain Nabi Muhammad SAW. sendiri yang mendidiknya sedemikian rupa sehingga menjadi perempuan yang memiliki karakter sempurna. Lebih dari itu, Nabi telah memberikan pendidikan agama dengan melatih ruhaniyahnya sedemikian terbaik, benar dan menempuh jalan lurus. Sebagaimana Siti Aisyah mengatakan, Belum pernah saya melihat seorang pun yang lebih benar bicaranya dibanding Fatimah, kecuali ayahnya.

Kisah cinta bersama Imam Ali bin Abi Thalib, banyak mengajarkan kita, bagaimana mencintai lillahi taala atau mencintai karena Allah, dan bukan karena nafsu sesaat atau karena alasan-alasan lain. Cinta yang berdasarkan karena Allah, dapat menguatkan masing-masing dari fitnah, rasa kecewa, ketakutan-ketakutan dalam mengarungi kehidupan. Selain itu, indahnya cinta Az-Zahra dan Ali memberikan panutan luar biasa tentang bagaimana cinta itu benar-benar datang dari hati.

Az-Zahra, seorang wanita salehah, ibu rumah tangga yang mengurus berbagai hal termasuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, tidak memiliki pembantu atau hamba sahaya, tidak membayar upah kepada orang lain untuk mengerjakan sesuatu, menggiling gandum dan tepung menggunakan tangannya sendiri, membuat roti, mencuci sekaligus membersihkan lantai dengan tenaganya sendiri. Kehidupannya, penuh kerja keras dan penuh perjuangan semenjak ketertindasan ayahnya dari kaum kafir Quraisy.

Suaminya—Imam Ali bin Abi Thalib—memiliki tanggung jawab dan peranan besar dalam perjuangan awal Islam bersama Nabi dan para sahabat lainnya. Az-Zahra sangat mengerti dan memahami kondisi itu. Karena bagaimanapun seorang wanita begitu berpengaruh terhadap segala aktivitas suaminya. Kesenangan dan kesusahan suami, ketenangan dan kesedihannya, kemajuan dan kemundurannya, keberhasilan dan kegagalannya. Semua itu berkaitan erat dengan perlakuan istri terhadap suami di rumah.

Az-Zahra juga harus mendidik kedua putranya—Hasan dan Husein—dengan penuh kasih sayang. Umumnya, orang tua mengajarkan anak saat sang anak dapat membedakan yang baik dan buruk. Tidak demikian dengan pendidikan Az-Zahra. Cinta, kasih sayang, dan perhatian sepenuh hati dari seorang ibu dalam madrasah dan pelajaran pertama di rumahnya.

Karena itulah Hasan terdidik, berjiwa besar serta memiliki etika politik ketika harus melepas tampuk kekhalifahan kepada Muawiyah. Husain yang bersemangat tinggi, penuh kemampuan, dan mengerahkan segala kekuatan ketika harus berhadapan dengan ribuan pasukan Yazid bin Muawiyah bersama segelintir kerabat dan sahabatnya di Padang Karbala. Diriwayatkan bahwa Nabi SAW juga suka bermain-main dengan kedua cucu tercintanya itu.

Ketekunan beribadah, ketabahan menghadapi derita, dermawan, kezuhudan, terjaga kesucian diri, dapat dipercaya dan dapat menjaga rahasia, dan lembut hatinya sehingga menjadi wanita paling tangguh dan sempurna. Az-Zahra merupakan figur yang tidak hanya dapat dilihat dari satu aspek, melainkan dari berbagai aspek dalam kehidupan.

Gaya kehidupan ahlul bait, sederhana karena senantiasa hidup dalam kesulitan dan kesusahan. Mengingat yang kaya harus menolong yang miskin, seperti kaum Ansor Madinah yang menolong Muhajirin Mekkah. Namun demikian, ahlul bait sangat populer akan kedermawanannya kepada anak yatim, para janda serta fakir miskin.

Usaha yang dilakukan Az-Zahra dalam syiar Islam saat khutbah di Madinah kepada wanita Ansor dan Muhajirin, mengajarkan cara mendidik anak, mengajarkan pengetahuan al-Qur’an, pembentukan karakter, pengorbanan, tugas dan kewajiban seorang wanita, aktivitas sosial politik,—khususnya membela hak dan wilayah Fadak—bahkan sampai keikutsertaan dalam pertempuran.

Segala potensi dan kodratnya sebagai seorang wanita, Az-Zahra bersungguh-sungguh dalam menjalani segala kewajibannya. Demikian juga wanita Indonesia harus lebih banyak belajar bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan generasi bangsa dan negara agar memiliki moralitas yang baik, sebab ditangan seorang ibu kebaikan atau keburukan seorang anak ditentukan.

Ada benarnya ungkapan bahwa wanita merupakan tiang agama dan negara. Jika wanita itu baik, maka baik pula agamanya, sebagaimana perempuan agung Fatimah Az-Zahra. Akan tetapi kalau wanita itu buruk, maka akan hancurlah peradaban negaranya. Demikian pula untuk laki-laki harus senantiasa menjaga perempuan dari pengaruh negatif yang merusak, membimbing sekaligus mengarahkan pada jalan keshalihan dan ketakwaan kepada Allah SWT. []

%d blogger menyukai ini: