“Tak terbantahkan, peran dan fungsi bendera Merah Putih merupakan identitas negara paling abadi bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya yang selalu kita peringati dihari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus,” Guruh Sukarno Putra dalam pengantar buku Fatmawati “Catatan Kecil Bersama Bung Karno.” Sekitar 98 tahun yang lalu, lahirlah Fatmawati, ibu negara pertama Republik Indonesia.

Fatmawati, perempuan kelahiran Bengkulu 5 Februari 1923, adalah puteri dari pasangan Hasan Din dan Chadijah. Dia merupakan isteri ketiga Presiden Soekarno, sang Putera Fajar, penggali Pancasila. Fatmawati, dialah yang telah berjasa menjahit bendera pusaka, sang Saka Merah Putih, bendera kebangsaan Indonesia. Dalam sejarahnya, saat itu ia tengah hamil tua, namun tetap ia tuntaskan menjahit bendera pusaka, meski dengan derai air mata.

Dalam satu kutipan Fatmawati yang ditulis Bondan Winarno (2003), dalam bukunya, Berkibarlah Benderaku, Fatmawati mengatakan, “Berulang kali saya menumpahkan air mata di atas bendera yang sedang ku jahit itu,” Tidak terbayangkan betapa beratnya saat itu, menjelang kelahiran puteranya, ia paksakan tugas penting negara. Ia habiskan dua hari untuk sampai pada titik akhir jahitan benderanya.

Menjadi isteri Presiden pertama memang tidaklah mudah, dimana keadaan saat itu dalam kondisi mempertahankan kemerdekaan. Dimana agar keselamatan jiwa tidak terancam, ia harus rela berpindah-pindah tempat. Ia harus rela ditinggal Soekarno setiap yang sibuk melawan penjajah. Jika saja Fatmawati bukan perempuan yang kuat, pastilah dia telah meminta dipulangkan kerumah orang tuanya.

Pergerakan Fatmawati dalam rangka memperjuangkan NKRI tidak hanya menjahit bendera merah putih. Ia tercatat pernah ikut serta menjadi relawan yang memasak, menyediakan makanan untuk para tentara grilyawan. Ia juga kerap menyumbangkan ide gagasan, salah satunya tentang persatuan dan kesamaan hak, yang ia gagas pada 1949. Ia mencetuskan, “Dimana ada persamaan nasib dan persamaan cita-cita, disitulah tempat yang subur bagi rasa persatuan”

Fatmawati berpendapat, perempuan kerap dijadikan objek penderita, pelengkap, pasangan hidup yang biasa disebut dalam analogi dapur, sumur, dan kasur. Hal ini berdampak pada posisi perempuan yang kurang berpengaruh diberbagai bidang. Sampai saat ini, perempuan masih sering dipandang sebelah mata untuk menyelesaikan hal-hal yang biasa diselesaikan oleh lelaki.

Pemikiran tentang kesetaraan jender yang digagas oleh Fatmawati, juga kemudian diteruskan oleh Presiden kelima, yakni Megawati Sukarno Putri yang tak lain adalah keturunan Fatmawati. Dalam satu kesempatan, Megawati menjelaskan pentingnya prinsip kesetaraan. Menilik sejarah, konstitusi UUD 1945 juga telah menyelipkan kesetaraan. Oleh karenanya, Megawati menilai, tak ada alasan untuk merendahkan perempuan.

Megawati pun meminta para perempuan untuk tidak berfikir selalu berada di belakang laki-laki. Ia juga tidak setuju akan falsafah Jawa yang menyebutkan, perempuan harus berada di belakang laki-laki, dengan meminjam sebutan bangsa Indonesia, yaitu ibu pertiwi, bukan bapak pertiwi. Ia menegaskan, negara tidak akan maju selama mindset perempuan masih terus berfikir untuk berada di belakang laki-laki.

Selain meneladani ibu negara pertama Fatmawati dalam hal memperjuangkan kesetaraan jender, kita juga mesti meneladani ketabahan, sederhanaan, dan pengorbanannya. Ini penting, terutama bagi para perempuan-perempuan isteri pejabat negara. Isteri-isteri pejabat negara layak mengikuti jejak Fatmawti yang hidup dengan sederhana, menadi wanita penggerak dan rela berkorban demi bangsa.

Dibangunnya monumen Fatmawati tidak semata untuk wisata, foto-foto, dan ajang pamer belaka. Lebih dari itu pembambangunan monumen Fatmawati adalah untuk mengenang jasa Fatmawati, lalu kemudian kita bisa meneladani hal-hal baik semasa hidupnya kala mempertahankan kemerdekaan.

Kepopuleran budaya asing jangan sampai menghapus memori kita pada jasa-jasa para pahlawan pendiri bangsa. Sebagai generasi muda, tugas kita tidak hanya mengingat jasa-jasa para pahlawan, tetapi meneruskan perjuangannya, menjaga NKRI.

Semangat, perjuangan, kesederhanaan, dan pengorbanan yang ada pada sosok Fatmawati harus terus dihadirkan pada generasi selanjutnya, agar masing-masing dari kita tetap sadar, bahwa untuk menjaga dan mempertahankann sebuah negara, kita butuh sifat yang ada pada diri Fatmawati. Dengan demikian, dalam rangka mengenang 98 tahun kelahiran ibu negara pertama, Fatmawati, semoga akan terus lahir pahlawan-pahlawan selanjutnya seperti Fatmawati ini.

%d blogger menyukai ini: