Ruang publik saat ini masih terdominasi oleh pemandangan yang bernuansa sentimentil. Kluster sumbu pendek yang reaktif menyalurkan tanggapan sembrono atas informasi atau kejadian, bahkan caci maki, begitu menjamur. Masyarakat semakin amnesia akan etika dalam berinteraksi seiring dengan kehadiran media sosial. Kondisi ini tak lepas dari adanya pertarungan keras politik, di mana selanjutnya menyisakan residu konflik yang sukar terurai, utamanya di kalangan arus bawah. Karakteristik media sosial yang amat bebas dan terbuka juga turut andil dalam melatarbelakangi keterbelahan masyarakat.

Diseminasi spirit keadaban publik penting untuk terus digalakkan, agar relasi harmonis bisa terus dikejar. Menilik pesan kitab suci dapat menjadi salah satu pilihan. Surat al-Hujurat telah membukakan jalan bagi kita untuk menyadur spirit etik dalam rangka membangun keadaban publik. Al-Hujurat merupakan salah satu surat yang intens membahas seputar akhlak dan etika dalam pergaulan sosial di tengah masyarakat.

Merosotnya keadaban publik menjadi sesuatu yang memalukan di tengah entitas masyarakat yang mengaku berkeyakinan. Terlebih Islam dianut secara dominan di negeri ini. Oleh karena itu, sebagai warga Muslim, kita bertanggung jawab lebih untuk mentradisikan moral unggul sebagaimana teladan Rasulullah SAW. Pembumian paradigma etika qurani ini sejalan dengan pandangan dunia Islam yang memiliki tujuan rahmatan lil ‘alamin. Kekuatan Islam arus moderat harus berperan aktif dalam memerangi langgam yang kontraproduktif dengan nilai-nilai Islam.

Secara global, surat yang butir ayatnya berjumlah 18 ini mengupas tentang adab dan akhlak. Memuat nilai-nilai etis sebagai pondasi untuk membangun komunikasi dan relasi sosial yang selaras. Lima ayat pertama dari surat ini setidaknya menerangkan bagaimana etika untuk berkomunikasi dengan Nabi Muhammad SAW, sekaligus berlaku manusia pada umumnya dalam konteks yang lebih luas.

Umat Islam dididik agar tidak meninggikan suara di hadapan Nabi SAW. Bunyi firman tersebut adalah, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi (al-Hujurat [49]: 2). Turunnya ayat ini berkenaan dengan momen perdebatan yang pernah terjadi antara Abu Bakar dan Umar bin Khattab di hadapan Rasulullah SAW. Tentu tidak etis jika seorang yang berpredikat mukmin beradu mulut di hadapan Nabi SAW yang mulia. Di ayat selanjutnya disebutkan, bahwa menurunkan suara saat di sisi Nabi ialah bagian dari ujian ketakwaan.

Nada teguran dari ayat Allah ini mengirimkan pesan moral untuk bersikap tenang dan merendahkan suara di hadapan Nabi sebagai bentuk penghormatan kepada beliau. Sikap santun dengan lawan bicara, terlebih di muka seseorang yang mulia adalah pesan abadi yang berlaku pula bagi kita sebagai umatnya. Seorang mukmin harus menghadirkan suasana aman. Dalam hal ini dengan menjaga komunikasi verbal. Tak boleh berujar cacian, kebencian, maupun kata-kata kasar.

Kemudian, penulis rasa kandungan ayat ke enam begitu penting untuk diperhatikan dalam konteks hari ini. Di tengah hiruk pikuk informasi yang tidak jelas validitasnya, ayat ke-6 ini menyeru agar kita tidak mudah percaya pada ihwal yang sumbernya masih kabur. Harus ada proses verifikasi terlebih dahulu, karena cara kerja hoaks begitu mengerikan. Kita tentu melihat, bagaimana masyarakat yang akur bisa berbalik saling sinis dan pukul. Informasi hoaks bisa dengan mudah memicu segregasi umat.

Narasi utuhnya berbunyi, Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu (al-Hujurat [49]: 6). Ayat ini menggambarkan, betapa kecerobohan seseorang karena tidak melakukan klarifikasi dapat mencelakakan banyak pihak. Di dunia serba virtual seperti sekarang, akhlak tabayyun (klarifikasi) menjadi begitu mendesak ditekankan untuk menghindari kesalahpahaman.

Menginjak fase ketika ada dua pihak berseteru atau bertikai, kita diperintah untuk mendamaikan keduanya dan berlaku adil dalam proses islah tersebut. Sebagaimana yang tertera pada ayat 9-10. Ketika noktah kecil pertikaian dibiarkan, hal itu bisa menyulut konflik akbar. Untuk itu, proses mendamaikan adalah bagian penting dari misi untuk meredusir konflik dan meningkatkan kualitas persaudaraan. Secara psikologis, orang-orang yang terlibat pertikaian akan cenderung saling menjauhi dan canggung, bahkan untuk sekadar menyapa. Oleh karena itu, mediator yang adil menjadi hal yang begitu penting.

Dalam penggalan dua ayat tersebut dinyatakan terang, bahwa Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya…(49: 9). Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (49: 10). Ayat ini mengajarkan kita untuk peduli pada kesulitan yang dialami saudara. Kepedulian akan menumbuhkan kasih sayang dan hubungan yang hangat.

Sebagai manusia, tidak jarang kita merasa lebih unggul daripada orang lain sehingga muncul nada merendahkan. Ayat ke-11 jelas Allah melarang seorang mukmin mengolok-olok orang lain. Kita terlarang pula memanggil seseorang dengan sebutan yang buruk karena akan menyisakan luka di hatinya. Perilaku zalim demikian ibarat bumerang, dampak buruk akan berbalik pada orang yang melakukan.

Syahdan, kebiasaan buruk lain yang harus digarisbawahi ialah mencari-cari kesalahan orang dan berprasangka buruk. Ketika rasa curiga dijadikan premis dasar, maka di situ pikiran seseorang akan sempit. Ia enggan menerima cara pandang yang berbeda. Tipikal seperti ini umumnya mudah menyalahkan yang tak berprinsip sama. Dua larangan di atas diterangkan dalam ayat 12.

Etika sosial yang juga menjadi perhatian surat al-Hujurat adalah seni hidup berdampingan dengan perbedaan. Fitrah manusia sebagai himpunan kebhinekaan ditegaskan dalam ayat 13 ini. Perbedaan memungkinkan adanya pertukaran dan pengayaan satu sama lain. Manusia sosial tidak boleh alergi dengan keberagaman. Poin ini begitu penting bagi corak bangsa ini yang majemuk.

Etika sosial kita telah terdistorsi sedemikian rupa. Kapan waktu ada informasi yang tak berkenan di benak masyarakat, banyak dari mereka yang menjadi begitu buas dan pongah saat melempar tanggapan. Budaya mengumpat seakan telah menjadi gerakan arus utama yang dinilai lumrah. Keburukan yang dilakukan secara berkala, lama-kelamaan bisa diasumsikan menjadi kebenaran dan dianggap kaprah.

Pesan moral dari surat al-Hujurat harus benar diaktualisasikan. Al-Hujurat mengajarkan tradisi untuk klarifikasi, islah, berlaku adil, dan berpikiran terbuka demi mencapai masyarakat yang maju secara lahir dan batin.

Ringkasnya, al-Hujurat merangkum spirit etis sosial kemasyarakatan yang tahan bantingan zaman. Surat ini nampak berorientasi pada pembentukan komunitas publik yang beretika dan beradab di atas lapis iman, sebagaimana tatanan paripurna masyarakat madani yang digagas oleh Rasulullah SAW. Situasi saat ini menuntut manusia untuk hidup dalam dua dunia sekaligus; nyata dan maya. Hal ini mendorong kita untuk lebih meningkatkan skill dalam pergaulan. Dan menghidupkan spirit al-Hujurat adalah pilihan. Wallahu a’lam. []

%d blogger menyukai ini: