Kabar tentang diwajibkannya siswi Non-Muslim memakai jilbab di SMKN 2 Padang sangat memprihatinkan. Jilbab yang dianggap simbol Islam oleh sebagian besar kalangan umat beragama, tentu menjadi persoalan tatkala diterapkan untuk Non-Muslim. Apalagi, hal ini dipraktikkan di lingkungan sekolah. Taman, di mana ilmu pengetahuan dan peradaban lahir. Sekolah merupakan wadah pengejawatahan perbedaan, multikulturalisme, dan jendela khazanah kebangsaan. Bagaimana pun juga praktik diskriminasi dan perpecahan tidak dapat dibenarkan. Sekolah adalah gerbang utama kita mengenal nasionalisme dan jati diri bangsa, bukan intoleransi beragama.

Mengetahui, mempelajari, dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan adalah wajib bagi setiap warga negara. Setiap bangsa memiliki jati diri yang mesti disadari betul oleh warga negaranya. Bangsa Indonesia telah mendeklarasikan, jika jati diri bangsanya adalah multikulturalisme, gotong-royong, dan saling memanusiakan manusia, hal ini yang kemudian menjadi simbol nasionalisme kita. Dan dunia mengetahui kemasyhuran ini. Karena itu, jika ada praktik-praktik intoleransi, diskriminasi, dan perpecahan dapat dipastikan bukan mencerminkan nasionalisme kita. Di samping negara dan keluarga, sekolah pun menjadi instrumen penting yang mengemban beban berat persoalan ini. Yakni, menempa putra-putri bangsa mengenal jati diri bangsanya.

Kebebasan tak terbatas di segala bidang kehidupan yang terjadi di suatu negara diduga sebagai cerminan dari lunturnya semangat nasionalisme yang menjadi identitas bangsa. Kebebasan berpendapat, berpikir, serta pengaruh terhadap budaya transnasional menjadi pemicu pudarnya nasionalisme di kalangan generasi muda. Nilai-nilai budaya bangsa yang mendasari sikap nasionalisme digeser dengan sikap mencintai budaya luar. Akibatnya, nilai-nilai budaya sebagai perekat persatuan segenap energi bangsa pada generasi muda memudar, kian mengurangi pula kepedulian terhadap latar belakang sosial budaya yang ada.

Dunia pendidikan, yang dalam hal ini adalah sekolah, sangat dibutuhkan perannya dalam membangun kembali, semangat nasionalisme pada generasi muda. Peran guru  besar pengaruhnya dalam menentukan nasib bangsa kedepan. Apabila seorang guru juga ikut terlena dengan budaya luar dan melupakan nilai-nilai luhur bangsa atau nilai kearifan lokal (local wisdom) tidak mengherankan, jika praktik intoleransi terjadi di sekolah. Dan jelas bertentangan dengan amanat Undang undang Nomor 20 Tahun 2003.

Peran sekolah dan guru sangat besar dalam melahirkan generasi penerus yang nasionalis. Seorang guru harus dapat menjadi teladan bagi siswa-siswinya, agar dapat menjadi manusia yang berkarakter, berwawasan kebangsaan, berbudaya, serta memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Dalam istilah Jawa seorang guru harus dapat digugu lan ditiru. Kejadian di Padang, menegaskan jika sekolah masih belum dapat merepresentasikan nasionalisme kita.

Nasionalisme merupakan rasa kebanggaan, rasa memiliki, rasa menghargai, dan rasa menghormati kepada sesama. Dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jika dalam hal kecil saja, sekolah belum dapat menjalankan fungsingnya maka patut menjadi pertanyaan besar. Di mana loyalitas dan rasa empati sekolah terhadap bangsa? Karakteristik Nasionalisme melambangkan kekuatan suatu negara dan aspirasi yang berkelanjutan, yaitu mengupayakan peningkatan kemakmuran, pemeliharaan rasa hormat, membanggakan pribadi bangsa, dan sejarah kepahlawanan para pendiri bangsa.

Sebagai warga negara yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom), tentu sudah seharusnya kita bangga dan mencintai Tanah Air. Kebanggaan dan kecintaan terhadap bangsa dan negara bukan berarti merasa lebih hebat dan lebih unggul daripada bangsa dan negara lain. Bung Karno mengingatkan, jika kita tidak boleh memiliki semangat nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme) dan meninggalkan nilai-nilai budaya lokal, tetapi sebaliknya. Kita harus mengembangkan sikap saling menghormati, saling menghargai, mengutamakan kerukunan hidup bersama, berjuang bersama untuk membangun kesejehtaraan bersama secara jujur, dan mampu bekerja sama dengan bangsabangsa lain. Membangun kebiasaan dan kesadaraan ini sebenarnya tidak sulit, jika antara negara, keluarga, dan sekolah dapat menjadi mitra kebangsaan. Terlebih sekolah, karena sekolah merupakan gerbang utama untuk para putra-putri bangsa mengenal apa itu nasionalisme.

%d blogger menyukai ini: