Aksi emak-emak ‘jihad’ di media sosial nampaknya kian menyimpang saja. Mulai dari video viral yang berisi sekelompok emak-emak minta ditahan gantikan Imam Besarnya di tahanan, sampai seorang emak berinisial RW (53 tahun), membuat konten berupa video di aplikasi TikTok yang menyebut polisi Dajjal karena telah menahan Muhammad Rizieq Syihab (MRS), membuat saya geleng-geleng kepala melihatnya.

Jihad seorang emak, baik sebagai emak yang menggeluti pekerjaannya di ranah publik alias wanita karir, maupun emak yang aktif di ranah domestik alias ibu rumah tangga, sama-sama memegang jihad yang sama, yaitu mengayomi keluarga. Bukan ramai-ramai membela seorang tersangka yang memang harus dihukum karena telah melakukan pelanggaran. Ataupun nyinyir, menebar ujaran kebencian di media sosial.

Rasulullah SAW bersabda, setiap jerih payah istri di rumah, sama nilainya dengan jerih payah suami di medan jihad [HR Bukhari dan Muslim]. Hadis ini menggambarkan bagaimana seharusnya seorang istri bagi suaminya sekaligus ibu bagi anak-anaknya berjihad di jalan Allah (jihad fi sabilillah). Yakni mengayomi keluarga, apapun bentuknya, baik membesarkan, mendidik, dan merawat anak, hingga melakukan pekerjaan rumah tangga serta menjaga keharmonisan rumah tangga.

Secara sosial-historis, saat hadis ini diturunkan, peran penting seorang ibu kebanyakan dilakukan di rumah. Di samping faktor pendidikan yang masih lemah, juga dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat pada masa itu. Emakemak, identik dengan pekerjaan domestik. Hanya segelintir emak-emak yang aktif di ranah publik.

Namun kini, berapa banyak emak-emak yang juga aktif di ranah publik. Yang tentu saja tidak menyurutkan semangatnya untuk selalu melindungi dan menjaga keluarganya. Tanpa disadari, kebiasaan seorang emak dalam mengayomi keluarganya adalah bentuk jihad fi sabilillah yang begitu besar pahalanya.

Lantas, mengapa emak-emak jaman now malah jihad jauh-jauh sampai nyasar di jalan yang salah? Padahal jihad emak-emak begitu sederhana dan dapat dilakukan di rumah. Jerih payahnya mengandung, melahirkan, dan menyusui saja adalah bentuk jihad. Mengherankan jika emak-emak lebih memilih ditahan demi bebasnya MRS daripada jihad mengayomi keluarga.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW berpesan, kalian semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan tersebut. Setiap Imam adalah penanggungjawab terhadap orang yang dipimpinnya. Laki-laki adalah pemimpin dari keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya dari orang yang dipimpinnya. Perempuan adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan pemimpin bagi anak-anaknya dan tentunya akan dimintai pertanggungjawaban pula [HR Bukhari dan Muslim].

Peran utama perempuan, yang disebutkan dalam hadis di atas, sebagai pemimpin bagi anak-anaknya, yakni merawat, membina, dan mendidiknya adalah bentuk jihad. Begitu juga laki-laki sebagai kepala keluarga. Peran penting keduanya dalam mengayomi keluarga, jika dilaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh (jihad), maka mereka akan mendapatkan pahala.

Oleh karena itu, emak-emak jangan mau terpengaruh jihad abal-abal yang mengatasnamakan Tuhan, padahal oknum tersebut hanya memanfaatkan ketidaktahuan emak-emak demi tercapainya tujuan. Jika mendapatkan suatu berita hendaknya dipastikan dahulu kebenarannya, jangan mudah terprovokasi, sampai akhirnya merugikan diri sendiri. Sebagaimana yang dialami seorang emak berinisial RW tadi, yang menghina polisi dan berakhir ditangkap polisi.

Dengan demikian, jangan belokkan substansi jihad fi sabilillah. Jihad di jalan yang benar bagi emak-emak, bukan meneriakkan bahwa polisi itu dajjal di media sosial, bukan juga membuat video berisi permintaan untuk membebaskan MRS dan menyatakan siap untuk ditahan menggantikan posisinya. Jauh lebih dekat dan sederhana daripada itu semua. Mengayomi keluarga adalah jihad sesungguhnya emak-emak.[]

%d blogger menyukai ini: