Berangkat dari sebagian kalangan yang kerap memperlakukan Islam secara eksklusif. Seolah-olah Islam hanya diperuntukkan bagi pemeluknya saja, atau lebih egoisnya hanya untuk golongan tertentu dalam Islam. Padahal, deklarasi pengutusan Nabi Muhammad SAW terang mengantongi misi cinta universal. Beliau hadir sebagai penggenap risalah ketuhanan yang bertujuan membumikan rahmat bagi semesta, tanpa kecuali. Allah SWT jelas menyatakan dalam QS. Al-Anbiya’ [21]: 107, bahwa Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.

Pola ayat ini adalah nafy-istitsna’ (pengingkaran-pengecualian), yang mengandung faedah menetapkan sifat atas sesuatu dengan menafikan darinya segala sifat selainnya secara menyeluruh. Pendek kata, bahwa Nabi dan risalahnya ialah ajaran rahmat. Maka dari itu, ajaran yang tidak mencerminkan rahmat dan cinta kasih, dapat dipastikan bukan bagian dari risalah Nabi.

Nuansa eksklusif tersebut setidaknya nampak dari narasi tentang kemenangan Islam dan umat Muslim (‘izz al-Islam wa al-muslimin) yang saat ini kerap bergema di sekitar kita. Jika ditelaah, terma kemenangan/kebangkitan Islam bagi umat Muslim, akan memunculkan egoisme komunal. Wacana heroik tersebut pada praktiknya kental dengan nuansa politik. Pasalnya, cita perkauman ini menjadi spirit yang umumnya diusung kalangan Islamis (Islam politik).

Sejak Islam bergulir menjadi wacana kekuasaan–sebagai ideologi kenegaraan–, spirit Islam sebagai agama pembebasan seluruh umat manusia pun tereduksi. Tema pembebasan Islam yang semula bermuara pada tujuan rahmatan lil ‘alamin, secara perlahan bergeser pada cita perkauman seperti tersebut di atas, ‘izz al-Islam wa al-muslimin. Hal ini bukan berarti tidak menghendaki kejayaan Islam. Namun, spirit komunal tersebut tidak mewakili karakter inklusif dan universal Islam, sehingga agenda besar Islam sebagai penebar kasih sayang bagi seluruh makhluk pun tidak menemui jalannya.

Menang tentu meniscayakan pihak yang dianggap kalah. Perasaan superior adalah sesuatu yang inheren dengan narasi kemenangan. Semangat kasih sayang adalah hal yang hampir absen dalam pertarungan memperebutkan siapa yang lebih unggul. Berbeda dengan mandat Islam rahmatan lil ‘alamin yang merangkul dan berwajah egaliter. Simpul kasih sayang akan membawa serta kedamaian bagi semua makhluk. Dalam pengertian ini, sejatinya Islam telah menang.

Formalisasi Islam (syariat Islam sebagai hukum negara) diyakini oleh kalangan Islamis sebagai jalan keluar menuju kemenangan Islam. Memegang kendali utuh melalui badan negara tentu diyakini akan menunjukkan kedigdayaan Islam. Islam dianggap menang. Mereka terlanjur percaya bahwa apa yang terjadi pada periode awal Islam (salaf) itu merupakan acuan yang paling otoritatif bagi umat, dan mengikat secara pasti untuk semua ruang dan waktu. Bersamaan dengan itu, mereka menyangkal fakta-fakta kelam penuh darah yang menyertai sistem pemerintahan Islamis tersebut.

Syariat Islam yang dibingkai secara formal dalam bangunan negara telah menampilkan distorsi di sana-sini. Konsep negara-agama, agama apapun, di dalamnya akan dengan mudah dijumpai perlakuan diskriminatif terhadap warga negara berdasarkan keyakinan. Ambillah contoh seputar isu kedudukan warga negara non-Muslim. Meskipun dalam konsep negara Islam, hak-hak sipil non-Muslim dilindungi, akan tetapi tidak demikian dengan hak-hak politiknya, untuk secara bersama dan sederajat dengan warga Muslim. Dalam konteks tersebut, perspektif kemanusiaan yang inklusif mengalami penyempitan.

Perbincangan yang tak kalah pelik dan panjang pergulirannya adalah isu seputar kebebasan beragama, persisnya pindah agama (murtad). Keyakinan adalah perkara yang paling intim dan personal bagi setiap manusia. Pilihan untuk beragama apapun atau tak beragama sekalipun, merupakan kebebasan yang secara eksplisit dijamin oleh al-Quran.

Surat al-Baqarah [2]: 256 menegaskan, bahwa Tidak ada pemaksaan dalam kepemelukan agama. Seturut dengan itu, Allah SWT memberikan keleluasaan, Bagi siapa yang mau beriman, berimanlah. Dan barang siapa yang mau kufur, kufurlah (QS. Al-Kahfi [18]: 29). Ditutup dengan anjuran toleransi yang tinggi terhadap pemeluk keyakinan lain yang dijelaskan dalam keseluruhan surat Al-Kafirun [109], yang akhir ayatnya berbunyi Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.

Semua ini didasarkan pada premis bahwa mendakwahkan tauhid dan terwujudnya hidayah (petunjuk) Ilahi adalah dua persoalan yang berbeda. Hidayah semata-mata hak prerogatif Allah SWT. Perlu adanya peninjauan ulang dan rekonstruksi pemahaman mengenai hadis yang memfatwakan hukum bunuh bagi seseorang yang murtad agar sejalan dengan prinsip rahmat dan tidak kontradiktif dengan sumber yang lebih otoritatif, yakni al-Quran.

Konsep Islam rahmah (kasih sayang) akan menjadikan seseorang lebih terbuka, toleran, dan akomodatif. Lain dengan fakta yang ditorehkan kalangan Islamis selama ini yang cenderung eksklusif, kaku, dan hitam-putih, sehingga Islam tidak lagi berwajah ramah. Nabi Muhammad SAW dan segala yang menyangkut dengan beliau, baik pribadi, kerasulan, risalah, maupun misi dakwahnya kesemua itu adalah rahmat.

Tugas kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW adalah menduplikasi nilai-nilai kasih sayang itu dan menebarnya dalam tiap sekat kehidupan. Dalam satu kesempatan dialog, Quraish Shihab mengabarkan, bahwa konsekuensi dari rahmat ialah turut merasakan keperihan pihak lain, sehingga mendorong kita untuk bertindak mengentaskan keperihan itu. Islam rahmah mensyaratkan dua hal prinsipil, yaitu kelembutan dan kebaikan nyata. Dengan kata lain, berislam sama halnya dengan membumikan cinta secara aktual.

Sudah saatnya kita berbicara mengenai hal yang lebih substansial dari ajaran Islam agar tidak tersandera dalam pertarungan yang sia-sia. Menjadi pihak yang dominan dalam format negara Islam misalnya, tetapi nyatanya tidak seutuhnya menghadirkan manfaat dan cinta, bukanlah suatu kebangkitan pun kemenangan. Kemenangan yang hakiki ialah saat kita bahu-membahu membumikan kata kunci dari Islam dan pengutusan Rasulullah SAW, yakni rahmat bagi seluruh makhluk dalam tataran kosmis.

Kita tidak boleh egois. Umat Islam harus melakukan transisi paradigma, dari ‘izz al-Islam wa al-muslimin (kemenangan Islam serta umat Muslim) menuju Islam rahmatan lil ‘alamin. Dengan mengukuhkan sistem nilai dan sistem visioner ideal penuh kasih, maka kerahmatan Islam tidak hanya diperuntukkan bagi Islam saja. Namun untuk seluruh alam. Keseluruhan makhluk hidup dan manusia dalam hal apapun serta tanpa memandang perbedaan secuil apapun. Bahkan, dua sifat pertama yang Allah SWT perkenalkan kepada kita adalah rahman dan rahim, pengasih serta penyayang. Maka jelas sudah bahwa muara Islam adalah rahmah (kasih sayang). Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: