Ilmu ibarat variabel yang akan menghasilkan efek atau bekas, sehingga bisa memberikan pengaruh. Ilmu juga menjadi faktor yang amat determinan atas segala sesuatu. Atas dasar ini, dapat dipastikan bahwa tidak sama antara seorang yang berilmu dengan yang tidak. Baik dari segi cara pandang maupun kedudukannya. Tak heran jika al-Quran menegaskan, dengan nada sedikit menyindir, bahwa adakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tak mengetahui? Perihal ini disebutkan dalam surat az-Zumar [39]: 9. Menunjukkan akan urgensi ilmu yang tak terbantahkan.

Dalam catatan Imam al-Razi pada tafsirnya Mafatih al-Ghaib, orang yang dianggap “mengetahui” dalam ayat tersebut adalah seseorang yang mengisi waktu malamnya dengan sujud dan berdiri. Derajat pemahaman telah mengetuk spiritualitas dan menjadikannya mendekat kepada Tuhan. Adapun seorang yang disebut “tak mengetahui” yaitu mereka yang ketika dilanda kepayahan mengesakan Tuhan, dan menjadi syirik di saat lapang.

Melalui premis demikian, dalam konteks teologis, Allah SWT pun menyifati orang kafir sebagai kalangan yang tidak mengetahui, karena mereka enggan menyibak pengetahuan meskipun Allah SWT telah mendatangkan ilmu itu kepada mereka. Atas dasar ini, Allah SWT tidak menjadikan mereka bagian dari kalangan berakal sehat, karena mereka tak memanfaatkan fungsi akal pikiran dan hati untuk meniti jalan Tuhan.

Ini menunjukkan agungnya kedudukan ilmu, sambung al-Razi. Kemuliaan ilmu berbanding lurus dengan unggulnya derajat si empunya. Dijamin oleh Allah SWT dalam surat al-Mujadalah [58]: 11, di mana orang yang beriman dan orang yang berilmu akan dinaikkan derajat kedudukannya.

Titik tekan yang membuat orang kafir masuk pada kategori laa ya’lamun (yang tak mengetahui hakikat Allah) ialah karena mereka tidak memanfaatkan kemampuan hati dan akal untuk mencapai pengetahuan tentang kuasa dan keesaan Tuhan. Artinya, kebodohan identik dengan status rendah yang disebabkan oleh akal yang mandeg. Hal ini berlaku juga pada selain area teologis.

Ilmu pengetahuan adalah perkara yang luhur, karena ia bekal untuk mengenal Tuhan serta ajarannya. Tatanan bangunan dunia, agama, serta bantalan menuju kemuliaan akhirat pun dipegang oleh ilmu. Berbeda dengan harta benda yang ketika memilikinya, intuisi yang muncul ialah kehendak untuk menjaganya karena khawatir hilang, kita yang sibuk menjadi subyek. Sedangkan dengan berbekal pengetahuan, justru kita yang akan terjaga dari sikap-sikap yang didominasi oleh hawa nafsu.

Ada satu ungkapan inspiratif yang acap kali dianggap sebagai hadis, padahal tidak demikian. Yang berbunyi, “Man arada al-dunya fa’alaihi bi al-‘ilmi, wa man arada al-akhirah fa’alaihi bi al-‘ilmi, wa man aradahuma fa’alaihi bi al-‘ilmi”. Dari perkataan tersebut, dipahami bahwa dunia atau akhirat akan takluk dalam genggaman kita dengan prasyarat ilmu, pun demikian ketika kita mengingini keduanya. Ungkapan motivasi ini disampaikan oleh Imam al-Syafi’i. Ada juga yang menyebutnya sebagai kalimat hikmah dari Sufyan al-Tsauri. Meskipun bukan hadis, namun tidak ada masalah dengan kandungan maknanya. Kita hanya tak boleh menisbatkannya sebagai sabda Nabi Muhammad SAW.

Alkisah, setelah mendengar sabda Nabi bahwa Imam Ali merupakan gerbang dari kompendium keilmuan Rasulullah SAW, muncul kedengkian di kalangan Khawarij karena status unggul Imam Ali ini. Sampai-sampai mereka menyusun rencana untuk menguji wawasan Imam Ali demi membuktikan pernyataan Nabi tersebut.

Cerita ini semacam preseden sederhana, di mana ilmu menjadi faktor yang berpengaruh akan kedudukan sosial seseorang di muka bumi. Sebagaimana sejarah penghormatan para malaikat dengan bersujud kepada Nabi Adam–atas instruksi Allah–, berkat kelebihan yang dimiliki Nabi Adam atas mereka berupa ilmu pengetahuan. Seseorang yang berilmu, dengan sendirinya akan dihargai dan dihormati.

Imam Hakim meriwayatkan satu hadis dari Abdullah bin Mas’ud, bersabda Rasulullah SAW, bahwa Membaca al-Quran adalah amal orang-orang yang dilindungi, dan shalat merupakan amal orang-orang yang tak berdaya, lalu puasa ialah amal orang-orang miskin, dan tasbih adalah amalnya perempuan, adapun sedekah itu amal orang yang murah hati, sedang tafakur merupakan amal golongan lemah. Bersediakah kalian kutunjukkan amalan para pahlawan? Apa itu ya Rasulullah? Tanya seorang sahabat. Nabi menjawab: Menuntut ilmu, karena ia adalah cahaya orang mukmin di dunia dan akhirat.

Menjalankan tugas kekhalifahan di bumi tidak mungkin dengan tangan kosong. Modal dasar yang Allah SWT berikan kepada Nabi Adam tak lain adalah ilmu. Keberadaan ilmu pengetahuan sepenuhnya untuk mengukuhkan keimanan dan menebar manfaat di alam semesta. Untuk itu, proses menuntut ilmu itu sendiri menjadi satu kemutlakan. Bahkan disebutkan, bahwa tidak ada amalan setelah shalat fardhu yang lebih utama dari menuntut ilmu. Ucapan Imam Syafi’i ini menunjukkan tingginya skala prioritas manusia untuk berproses secara intelektual.

Semakin belajar, kita akan semakin menyadari konfigurasi diri kita yang penuh alpa. Itulah mengapa hamba Allah SWT yang paling takut kepada-Nya justru para ulama (orang-orang berilmu), dijelaskan dalam surat Faathir [35]: 28. Karena pemahaman atas jati diri seseorang akan menuntun pada hakikat Tuhan yang Mahasegala, sehingga tak ada ruang bagi manusia untuk bersikap congkak dan seenaknya.

Untuk tujuan jangka panjang, Nabi Muhammad SAW mengabarkan, bahwa orang yang menyusuri jalan ilmu pengetahuan akan dimudahkan baginya perjalanan menuju surga. Imam Ali juga pernah berujar, bahwa pemilik ilmu bisa memberi syafaat pada hari kiamat. Ilmu itu dekat dengan takwa. Dan takwa ialah indikator kemuliaan hamba di sisi Allah SWT.

Hakikat dasar ilmu yang luhur, nyatanya membawa kebaikan beruntun. Seorang yang berilmu akan terang hatinya. Ia akan bertindak hati-hati dan penuh pertimbangan. Menghindarkannya dari perilaku konyol yang merugikan. Dalam konteks global kekinian, manusia yang berpikiran terbuka dan mau belajar akan selamat dari maraknya tipu daya dan pembodohan. Kita akan mereguk kebaikan serta kelapangan melalui penghayatan dan pengamalan akan ilmu. Dialah tiket kemuliaan hidup, kini dan nanti. Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: