Menjadi kodrat semua manusia dilahirkan sudah memiliki ketergantungan dengan manusia lainnya. Manusia tidak dapat mengelak, dari keniscayaan Allah SWT dalam pranata sosial kehidupan di dunia ini. Al-Quran sendiri secara mendasar mengajarkan manusia akan pentingnya saling mengenal sebagai makhluk sosial. Kemampuan manusia teramat terbatas, tentu dalam upayanya memperoleh sesuatu kesempurnaan hidup, manusia membutuhkan bantuan orang lain.

Tidak saja manusia membutuhkan pihak lain untuk memenuhi kebutuhannya secara horizontal, secara vertikal manusia pun memerlukan bantuan dari Allah SWT. Dalam Al-Quran tertulis terang benderang, Hai Manusia, kamulah yang berkebutuhan kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji (QS. Fathir : 15). Semua dari kita atas kendali-Nya, dan karena itu, kita semua semua membutuhkan kuasa-Nya sebagai upaya menjalani kehidupan sosial. Sebagaimana kita kenal dengan istilah hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan sesama manusia).

Dalam konteks ini, Islam selaku ajaran dan ideologi manusia, dapat kita tarik menjadi pelengkap untuk kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.  Perlunya manusia untuk saling kenal-mengenal agar dapat terjadi untuk menjalani kerjasama meraih manfaat. Demikian pula hubungan secara vertikal kepada Allah SWT. Sikap syukur manusia atas kehidupan yang diberikan-Nya, menjadi basis moralitas dalam kultur-sosial di tengah masyarakat, sebab manusia bukanlah makhluk sempurna.

Hubungan sosial-masyarakat secara inklusif itulah yang sebenar-benarnya Islam. Manusia yang eksklusif; tidak membutuhkan manusia lainnya; enggan menjalin hubungan dan mengenal sesamanya, menjadi sumber malapetaka bagi manusia itu sendiri. Untuk menghindari sikap eksklusivisme dalam diri manusia, perlu untuk saling mengenal sehingga akan lahir kasih sayang dan adanya saling menopang kehidupan.

Upaya memperkuat kehidupan sosial menuju idealisme kehidupan sosio-kultur dalam masyarakat yang berbeda, Nabi Muhammad SAW merumuskan buah pikiran yang sangat brilian, yakni Piagam Madinah sebagai pengejawantahan ajaran Islam. Syariat sosial dengan moralitas tinggi dalam kesetaraan manusia yang kemudian menjadi hukum positif dalam negara Madinah, menentukan arah kemajuan dan peradaban Islam. Tentu saja Nabi diturunkan ke muka bumi, tujuan utamanya tidak lain adalah membangun etika dan moralitas yang dalam bahasa lain disebut akhlak.

Jika kita amati secara seksama, berdirinya bangsa Indonesia dengan dasar ideologi negara Pancasila, butir-butir yang terkandung di dalamnya mengandung intisari dari Piagam Madinah yang telah dirumuskan Nabi. Bahkan gagasan Pancasila yang diusulkan Soekarno, sudah sangat sesuai dengan kondisi dan situasi yang tertanam dalam kemajemukan bangsa Indonesia. Soekarno terlebih dahulu mengatakan bahwa dasar negara Indonesia ini, haruslah ditemukan dalam lubuk hati dan jiwa bangsa Indonesia jauh sebelum bangsa ini merdeka. Soekarno mau mengatakan bahwa niat dan keinginan merdeka itu haruslah bulat, akan tetapi dasar yang akan dipakai bagi  Indonesia haruslah sesuatu yang sudah mendarah-daging dan ada dalam semua sanubari rakyat Indonesia (Soemarno, 1990: 42). Soekarno telah lama memikirkan untuk mendukung tegaknya negara berdasarkan kultur dan budaya yang ada.

Selanjutnya, Soekarno membangun pondasi yang diperlukan untuk Indonesia. Yakni, ketuhanan Yang Maha Esa, kebangsaan atau nasionalisme, kemanusiaan, musyawarah mufakat, dan keadilan sosial. Gagasan Soekarno ini yang melahirkan lima butir Pancasila seperti yang kita ketahui bersama. Hasilnya bukan hanya mempersatukan bangsa Indonesia, juga saling menopang kehidupan, bahu membahu dalam perilaku keseharian masyarakatnya, saling tolong-menolong, dan gotong royong.

Realitas ini tentu sudah sangat tepat didukung oleh apapun dan ajaran manapun. Begitupun Islam sendiri. Bahkan jika tidak ada dasar Pancasila pun cukup dengan ajaran Islam, sudah dapat dipastikan spirit moralitas umat Islam, sudah seharusnya menanamkan nilai-nilai luhur yang ada dalam kandungan Pancasila dalam etika dan moralitas sosial. Karena kebenaran Islam yang mutlak dari Allah, bukan berada pada ruang hampa yang bebas nilai dan otonom, melainkan realitas obyektif yang signifikan sangat mempengaruhi interpretasi dan aktualisasi dari ajaran Islam itu sendiri.

Tidak sedikit umat Islam justru mendistorsi ajaran Islam sebagai basis moral. Islam hanya dijadikan objek tunggangan untuk meraih kepentingan-kepentingan individu yang bersifat destruktif bagi kemanusiaan. Pembenaran secara sepihak ini yang mengakibatkan bencana bagi semangat kebersamaan dan kebersamaan sosio-kultural masyarakat yang berbudaya. Sinergitas Islam dan moralitas umat, selayaknya menjadi ideal dalam kehidupan multikultural sebagai realitas sosial yang tidak dapat dihindari. Islam bukan hanya ritus, penghafal kitab suci, dan mengutuk para pendosa. Lebih dari itu semua, Islam memekarkan semangat kejujuran, anti-korupsi dalam membangun etik-moral, bermusyawarah dalam mencari mufakat, semangat menegakkan keadilan, dan  penghargaan kepada orang lain sebagai sesama anak bangsa dan sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi, keterkaitan secara vertikal, maupun horizontal, manusia tidak dapat mengelak dari realitas tersebut. Ketergantungan dan kebutuhan manusia dalam semangat memanusiakan manusia, dan semangat mengillahikan manusia, menuntun kita pada ritus peribadatan yang tertransendensi ke perilaku keseharian dalam hubungan sesama manusia. Maka dari itu, dampak dari ajaran Islam sebagai sipirit moralitas sosial, akan terasa pada suatu kemuliaan, kesejahteraan serta keselamatan dan kedamaian duniawi dan ukhrawi sebagai imbas dari takwa. yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa, demikian banyak dikumandangkan dalam khutbah agama.

Spirit Islam adalah spirit etika dan moralitas, dalam mengarungi kehidupan sosial di dunia agar selamat di akhirat kelak.

%d blogger menyukai ini: