Hubungan antara kelompok-kelompok etnis dan keagamaan yang berbeda-beda di Tanah Air tampak kian memburuk saja. Umat Islam diadu dengan non-Islam, sementara orang-orang kulit hitam dipertentangkan dan didiskriminasi dengan orang-orang berkulit sawo matang dan kuning langsat. Jika demikian, maka yang dibutuhkan saat ini adalah seorang teladan, yakni Nabi Muhammad SAW yang ajaran-ajarannya menolak kefanatikan dan tindakan-tindakannya mencontohkan hidup berdampingan.

Sekitar lebih dari 14 abad yang lalu, jauh sebelum Undang-Undang tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis lahir, Nabi Muhammad SAW sudah berkecimpung dalam permasalahan-permasalahan rasisme di Arab. Tegas dan berani, Rasulullah SAW membantah gagasan yang menilai orang dan kelompok hanya berdasarkan garis keturunan dan warna kulit saja.

Pandangan anti-rasisme yang diusung Nabi Muhammad SAW secara sederhana terlihat dari persahabatannya dengan Bilal ibn Rabah, seorang budak berkulit hitam asal Habashyah (Ethiopia) yang semula dihina dan diremehkan oleh kaum Quraisy, tetapi kelak dihormati dan dikenal sebagai seseorang terkemuka oleh kalangan Muslim abad ke-7.

Dikisahkan suatu waktu, Nabi Muhammad SAW membela Bilal setelah Abu Dzar al-Ghifari, salah satu sahabat Nabi memanggil Bilal “bocah seorang wanita kulit hitam”. Terganggu dengan cara Abu Dzar yang mengidentifikasi orang berdasarkan warna kulit, Nabi SAW mengkritiknya dengan menyatakan, “Engkau orang yang masih memiliki pembawaan jahiliyah dalam dirimu.”

Ungkapan Nabi SAW yang menyatakan kebodohan Abu Dzar, merujuk kepada masa jahiliyah pra-Islam, sebuah kata dalam bahasa Arab yang berarti “masa sebelum Islam hadir dalam sejarah Arab” atau “keadaan kegelapan tanpa petunjuk Tuhan”. Periode dalam sejarah Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW ditandai dengan merajalelanya ketidakadilan, kebiadaban, dan pelanggaran hukum, sehingga hukum alam berlaku kuat di kalangan masyarakat jahiliyah.

Karakter Rasulullah SAW yang anti-rasis mengeluarkan dunia Arab dari kegelapan menuju cahaya dengan cara menuntun masyarakat Arab pra-Islam ke jalan keadilan dan kesetaraan. Bilal ibn Rabah yang semula dihina dan disiksa habis-habisan oleh Umayyah, tuannya, justru diangkat menjadi muadzin pertama oleh Nabi Muhammad SAW. Terpilihnya Bilal menempati posisi terhormat, yakni bertugas menyeru kepada umat Islam untuk melaksanakan shalat lima waktu, menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW secara jelas melarang masyarakat Islam melakukan marjinalisasi atau eksklusi sosial berdasarkan suku dan ras.

Sebelum Nabi SAW menyampaikan pesannya, orang Arab sangat membanggakan afiliasi kesukuan dan identitas etnis mereka. Bahkan, suku dan etnis merupakan standar sosial dan pola organisasi masyarakat Arab. Ajaran-ajaran Nabi Muhammad kemudian mengganti norma-norma sosial ini dengan cara menekankan pentingnya kesalehan dan ketakwaan, bukan menjadikan suku sebagai acuan penghormatan. Sebagaimana kita saksikan penolakan Nabi SAW terhadap perilaku al-Ghifari di atas.

Lebih lanjut, Nabi SAW menjelaskan kepada para sahabatnya agar menjauhi pencemaran nama seseorang hanya karena ras dan suku. Pasalnya, kesukuan itu membahayakan, sebab ia mendorong manusia untuk melakukan tindakan-tindakan penindasan dan ketidakadilan atas nama kesetiaan pada etnis.

Manifestasi anti-rasisme yang paling mencolok dalam ajaran Islam tercantum dalam khutbah terakhir Nabi Muhammad SAW di Arafah pada 362 M. Pesan terakhir Nabi Muhammad SAW yang menguras air mata para sahabat kala itu sarat makna. Nabi SAW berpesan, “orang Arab tidak lebih unggul dari non-Arab, atau orang non-Arab tidak lebih superior dari orang Arab, kecuali dengan ketakwaan…”

Oleh karena itu, orang kulit kuning langsat atau sawo matang tidak lebih unggul daripada orang berkulit hitam, begitu pula sebaliknya, kecuali karena kesalehan dan amal perbuatan yang baik. Tak terelakkan, Nabi Muhammad SAW mendorong hak asasi manusia di salah satu wilayah yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman praktik anti-rasisme. Alih-alih diam diri, Nabi SAW justru melawan arus gagasan, menyeru kepada seluruh manusia agar bersatu di bawah bendera kemanusiaan.

Walhasil, demi terwujudnya hubungan yang lebih baik antara umat Islam dan Kristen, umat-umat beragama, juga orang-orang dari berbagai ras, sangat penting bagi media menyoroti etos dan contoh-contoh anti-rasisme ala Nabi Muhammad SAW, sehingga setiap insan dapat mengenal dan meneladani sosok yang menginspirasi, menghapuskan kejahatan rasisme dari muka bumi.

%d blogger menyukai ini: