Secara sosiologis, Islam hadir pada masyarakat kapitalis. Elite Mekkah ialah kelas pedagang yang memerintah dengan sistem plutokrasi (dikuasai pemodal). Suku Quraisy, pada gilirannya memegang tali kendali sosial, politik, dan ekonomi. Wewenang istimewa pengelolaan Ka’bah dan penyediaan air untuk jemaah haji ada di tangan mereka. Dalam pembahasan Rodinson, suku Quraisy ialah suku yang memiliki privilege, dan atas dasar itu mereka leluasa mengakses kekuasaan di Mekkah.

Kota ini, selanjutnya berkembang menjadi pusat ekonomi dan perdagangan paling besar di Jazirah Arab. Keberadaan Ka’bah dan sumur zam-zam peninggalan Nabi Ibrahim AS menjadikan Mekkah sebagai destinasi wisata ruhani lintas kepercayaan serta pasar berskala global yang strategis.

Monopoli pasar internasional di kota ini berada di bawah kendali komunitas Quraisy. Ka’bah pun dikapitalisasi semaksimal mungkin. Semua berhala yang dibawa dari beragam keyakinan diterima dan disusun mengelilingi Ka’bah. Para peziarah yang juga mitra bisnis orang Quraisy, memiliki berhala dan tempat sesembahan masing-masing.

Mekkah menjadi ceruk keuntungan bagi para pebisnis. Di kota ini praktik kapitalisme purba dibangun dan berkembang. Pedagang dari berbagai penjuru dunia mendatangi Mekkah sembari memboyong kebiasaan hidup mewah dan beragam kejahatan amoral. Fernand Braudel menyatakan, bahwa kaum kapitalis merupakan spekulator dan pemegang monopoli yang berada dalam posisi untuk memperoleh keuntungan besar tanpa menanggung banyak risiko. Demikian juga pemuka Quraisy. Status sosial yang tinggi memungkinkannya berkuasa dan ditakuti.

Seturut tambah makmurnya Mekkah, masyarakat menjadi semakin materialistis, individualis, dan eksploitatif. Harta menjelma menjadi berhala baru. Ketamakan menghalangi pemerataan kekayaan untuk anggota-anggota klan. Namun ditimbun untuk kantong pribadi. Si kaya merampas hak-hak kaum papa, yatim, dan janda. Bani Hasyim, klan leluhur Nabi Muhammad SAW, termasuk salah satu yang terpinggirkan dalam persaingan sengit kapitalisme Mekkah.

Dengan eksisnya sistem ini, karakter kehidupan padang pasir yang bebas, egaliter, dan mandiri, berubah menjadi menindas dan strukturalis. Dari sini kemudian lahir perbudakan, sistem kasta, serta peradaban jahiliyah dengan segala kebejatannya.

Predikat jahiliyah bukan berarti mereka orang-orang bodoh dan tidak berpendidikan. Philip K. Hitti dalam A Short History of The Arabs menceritakan bahwa masyarakat Arab selatan telah mengenal peradaban, seperti baca-tulis. Menjadi tidak tepat jika mengartikan jahiliyah di sini sebagai nir-intelektualitas.

Jahiliyah adalah keadaan masyarakat yang primitif karena identik dengan tatanan sosial yang amoral dan sistem tribal yang kental. Dalam Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim, Zuhairi Misrawi menyebutkan bahwa istilah jahiliyah lebih tepat dimaknai sebagai masyarakat yang tidak memiliki otoritas hukum, nabi, dan kitab suci.

Muhammad SAW Al-Musthafa hadir di tengah tingginya kapitalisme dan materialisme kota Mekkah. Demikian tutur Karen Amstrong dalam Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis. Sejak masa pengutusan, misi dasar Rasulullah SAW adalah menempa moralitas yang unggul. Tujuan luhur ini menuntut perubahan untuk mewujudkan tatanan sosial, politik, dan ekonomi yang berkeadilan. Asghar Ali Engineer dalam Islam dan Teologi Pembebasan menyebut, bahwa Islam lahir sebagai sebuah gerakan pembebasan atas kondisi masyarakat Arab jahiliyah dengan pelbagai permasalahannya.

Nabi didaulat untuk melakukan perubahan revolusioner dari kehidupan yang bercorak paganisme-despotik menuju tauhid. Upaya Nabi menghancurkan praktik paganisme di sekitar Ka’bah bisa dimaknai sebagai penggaungan tauhid sekaligus langkah perlawanan atas kapitalisme serta borjuis Quraisy, seperti Abu Sufyan dan Abu Jahal kala itu. Mengingat, peziarah pasti akan berkurang jika berhala-berhala dihancurkan, yang otomatis akan mengusik laju bisnis. Dobrakan atas resistensi Quraisy ini mendapat penentangan keras dan sengit. Mereka bahkan menyuap Nabi agar menyudahi dakwahnya.

Setidaknya terdapat tiga karakter dasar kapitalisme. Pertama, eksploitasi yang berarti pengerukan secara besar-besaran sumber daya alam ataupun sumber daya manusia. Kedua, akumulasi, yakni penumpukan kekayaan tanpa pemerataan. Ketiga, ekspansi yang bermakna perluasan jangkauan pasar. Menanamkan modal untuk menancapkan kendali pasar seluas-luasnya.

Islam sangat menekankan umatnya untuk menjalankan roda perekonomian secara baik, sehat, dan menguntungkan satu sama lain. Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang yang membawa tali ke bukit dan membawa pulang seikat kayu bakar, lalu menjual dan menikmati hasil penjualannya serta menyedekahkan yang lebihnya, itu lebih baik dari meminta-minta kepada manusia, baik diberi maupun ditolaknya”. (HR. Bukhari).

Dari perspektif teoretis ekonomi, hadis di atas dapat dipahami sebagai rangkaian produksi, distribusi, konsumsi, serta tindakan amal sosial untuk memberikan manfaat kepada sesama. Di samping itu, dalam kehidupan sosial-ekonomi, Rasulullah SAW juga memberlakukan zakat dan pajak serta menganjurkan untuk bersedekah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mengambil peran dalam tanggungjawab sosial. Keadilan, kemanusiaan, dan pemerataan adalah prinsip dasar Islam.

Islam merupakan agama pembebasan bagi keadaan masyarakat Arab yang degradatif. Praktik monopoli perniagaan Quraisy yang kini disebut kapitalisme, telah dilawan dengan tatanan baru melalui dakwah Islam yang digawangi Rasulullah SAW. Penghancuran berhala adalah penumpasan kapitalisme itu sendiri. Islam melalui Nabi Muhammad SAW, membela kaum proletar dengan menghapus riba, penindasan, serta kelas-kelas sosial untuk kehidupan sosial-ekonomi yang berkeadilan. Menjadi tugas kita untuk melanjutkan perlawanan atas segala ketidakadilan. Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: