Raden Sahid adalah nama asli Sunan Kalijaga, yang merupakan putra dari Tumenggung Wilatikta, Bupati Tuban. Meskipun banyak orang mengetahui, bahkan mengunjungi makamnya yang terletak di Desa Kadilangu, Kota Demak, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mengetahui kisahnya.

Kisah awal tokoh yang kelak dipanggil Sunan Kalijaga ini dimulai dengan kisah masa mudanya yang diwarnai kenakalan atau gemar melakukan kegiatan tercela, suka berjudi, minum minuman keras, dan merampok. Ia sampai diusir oleh orangtuanya yang malu dengan kelakuan putranya. Namun, Raden Sahid tidak lantas menjadi baik, justru setelah diusir, kenakalannya semakin menjadi-jadi, yakni menjadi perampok yang membuat kerusuhan di Hutan Jatisari dan membuat orang-orang ketakutan.

Lokajaya adalah julukan Raden Sahid muda yang bermakna “penguasa wilayah”. Suatu Ketika Lokajaya menjumpai seorang target rampokan yang membawa tongkat bergagang emas, yang tak lain adalah Sunan Bonang. Namun, Sunan Bonang tak segan menunjukkan kesaktiannya untuk berdakwah, mengubah buah aren menjadi emas, yang akhirnya membuat Raden Sahid bertobat dan berusaha keras menjadi manusia mulia. Lalu ia menjadi salah satu anggota Wali Songo yang terkenal.

Selain berguru kepada Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dikisahkan sempat berguru kepada Syekh Dara Putih, adik Syekh Jumadil Kubra, sebab pernah pergi ke Pasai dan Malaka. Selama perjalanannya tersebut, Sunan Kalijaga menikah dengan Dewi Sarah, putra Maulana Ishak, yang kemudian melahirkan seorang putra sulung bernama Raden Umar Said, yang kelak dikenal dengan nama Sunan Muria.

Kalijaga  adalah salah satu nama dari ketiga ksetra (wilayah) utama di pesisir utara Jawa, yaitu Kalitangi (di Gresik, Jawa Timur), Kaliwungu (di Kendal, Jawa Tengah), dan Kalijaga (di Cirebon, Jawa Barat) yang sama-sama bermakna ‘Dewi Kali (Sang Bumi) bangun’. Sehingga nama Kalijaga sangat masuk akal jika dikaitkan dengan cerita Sunan Kalijaga yang mengikuti perjalanan Syekh Siti Jenar ke berbagai tempat di Jawa dalam rangka membuat ‘tawar’ kekuatan ksetra-ksetra angker tempat upacara para pemuja Dewi Kali Sang Bumi.

Sunan Kalijaga mengawali dakwahnya di Cirebon, tepatnya di desa Kalijaga. Babad Demak menuturkan bahwa misinya adalah mengislamkan penduduk Indramayu dan Pamanukan (Raden Sahid kinon ngimani/ ing Dermayu lan Manukan/ ing Kalijaga pernahe/). Setelah lama berdakwah, Sunan Kalijaga melakukan uzlah di pulau Upih. Tiga bulan sepuluh hari berlalu, laku ruhani Raden Sahid membuatnya diangkat menjadi wali dan banyak orang menjadi pengikutnya dan mengabdi kepada Tuhan.

Pada mulanya, Sunan Kalijaga tinggal bertahun-tahun di Desa Kalijaga menyamar sebagai pembersih Masjid Sang Cipta Rasa. Fase yang mempertemukannya dengan Sunan Gunung Jati, yang kemudian menikahkannya dengan adiknya yang bernama Siti Zaenab. Menurut sumber yang diyakini penganut tarekat Akmaliyah yang ditulis oleh Kiai Agus Sunyoto dalam Suluk Malang Sungsang (2004-2005) sesungguhnya adalah putri dari Syekh Datuk Abdul Jalil yang masyhur dengan nama Syekh Lemah Abang atau Syekh Siti Jenar.

Gerakan dakwah Sunan Kalijaga, seperti wali-wali lain adalah dengan cara mengenalkan Islam kepada penduduk melalui pertunjukkan wayang, sebab pertunjukan wayang sangat digemari masyarakat yang masih menganut kepercayaan agama lama. Sejak abad ke-10, wayang telah dikenal masyarakat, saat itu lakon-lakonnya masih berkisar kisah Ramayana dan Mahabrata. Selain wayang kulit, ada pula wayang kertas yang disebut dengan wayang beber. Sunan Kalijaga kemudian menyempurnakan wayang kulit sampai yang kita kenal sekarang.

Dalam dakwah Islam, Sunan Kalijaga dikenal suka menyamar dalam bertindak, menampilkan kelemahannya untuk menyembunyikan kelebihan yang dimilikinya. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, Sunan Kalijaga sengaja menunjukkan tindakan yang seolah maksiat untuk menyembunyikan ketakwaannya yang begitu tinggi.

Kegiatan dakwah yang memanfaatkan pertunjukan tari topeng, barongan, dan wayang yang dilakukan Sunan Kalijaga dengan cara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Dari wilayah Pajajaran sampai wilayah Majapahit. Siapa saja yang hendak nanggap wayang, bayarannya bukan harta, tetapi cukup membaca dua kalimat syahadat, sehingga Islam berkembang cepat berkatnya.

Sunan Kalijaga merasakan empat kekuasaan, yaitu masa akhir Majapahit, Kesultanan Demak, Kesultanan Pajang, dan awal Kesultanan Mataram. Selama itu pula, Sunan Kalijaga mengenalkan tokoh-tokoh kuno buatannya, Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, dan Bilung sebagai punakawan yang mengabdi kepada ksatria.

Selain menjadi dalang pertunjukkan wayang, Sunan Kalijaga juga kerap menggubah tembang-tembang, salah satu yang sederhana, mengandung ajaran spiritual, dan banyak dihapal masyarakat Jawa adalah tembang Kidung Rumeksa ing Wengi dan tembang Ilir-ilir. Suaranya yang indah meresap ke dalam hati orang-orang yang menyaksikannya, membangun ketakwaan atas keesaan Tuhan.

Sunan Kalijaga terkenal dengan keahliannya dalam sejumlah bidang keilmuan sebagai sarana dakwah dan paling besar pengaruhnya di kalangan masyarakat, sebab selain dikenal sebagai dalang, penggubah tembang, penari topeng, desainer pakaian, perancang alat-alat pertanian, penasihat sultan, dan pelindung ruhani kepala-kepala daerah, Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai guru ruhani, mengajarkan tarekat Syathariyah dari Sunan Bonang dan tarekat Akmaliyah dari Syekh Siti Jenar.

Kisah paling fonemenal tentang Sunan Kalijaga adalah kisah pertemuannya dengan Nabi Khidr as. Itu adalah peristiwa penemuan jati dirinya. Peristiwa saat diri telah mencapai nafs muthmainnah. Ketika kesadaran kosmis, eksistensi dan esensi, berpadu lahir batin. Bahwa seluruh jagat bumi dan galaksi ini termaktub dalam jagat diri. Alam dunia yang terindra oleh manusia sebagai makhluk Tuhan sangat terbatas, sedangkan dimensi alam lain yang tak terindra jauh lebih luas. Kisah penemuan jati diri ini diabadikan dalam lakon Dewa Ruci, yakni Nabi Khidr as.

Selanjutnya, Suluk Linglung pupuh menggambarkan ada empat jenis cahaya (hitam, merah, kuning, putih) yang disaksikan Sunan Kalijaga dalam diri Nabi Khidr as. Makna ruhani dari setiap warna dijelaskan, cahaya hitam cenderung marah, mudah sakit hati, dan menutup jalan menuju kebaikan. Cahaya merah pancaran nafsu tidak baik, sumber segala hasrat keinginan, mudah emosi, sehingga menutup hati yang sudah jernih. Sedangkan cahaya kuning berpotensi menghalangi timbulnya pikiran yang baik, cenderung merusak, menelantarkan, membawa ke jurang kebinasaan.

Ketiga cahaya yang merupakan pancaran hati yang menghalangi manusia menuju Tuhan, secara berurutan dalam dikenal dengan nafsu lawwamah, nafsu ammarah, dan nafsu sufliyah. Adapun cahaya putih, pancaran dari hati yang jernih, sama dengan nafsu muthmainnah.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Sunan Kalijaga adalah wali pelindung Jawa, karena perhatian dan kontribusinya yang begitu besar terhadap perkembangan pendidikan kesenian, budaya, dan ruhani di Jawa. Menghidupkan nilai-nilai etis masyarakat, membuat pakaian yang sesuai, serta memberi keindahan dan kedamaian kepada siapa saja yang menyaksikan pertunjukannya.

Terakhir, tidak ada yang menetapkan kapan Sunan Kalijaga wafat, kecuali bahwa wali termasyhur ini wafat dan dikebumikan di Kadilangu dekat Demak. Namun, tidak hanya makamnya yang dimuliakan oleh masyarakat Muslim Tradisional di daerah pedalaman Jawa, tetapi juga warisan seni budaya dan ajaran spiritual yang ditinggalkannya.

%d blogger menyukai ini: