Otonom adalah salah satu sifat salehah seorang Muslimah. Barangkali belum banyak yang mempercayainya. Sebagian masyarakat lebih percaya ketundukan dan ketergantungan pada suami, misalnya, sebagai kesalehan bagi seorang isteri. Hal ini memang tidak sepenuhnya salah, khusnya menurut pandangan tradisioanl. Di lain sisi, hubungan dominasi-subordinasi itu, sebenarnya telah lama membuat perempuan rentan terhadap kekerasan. Posisi perempuan sebagai pihak yang diatur oleh laki-laki, setidaknya telah berkontribusi pada derita tersembunyi yang disebut-sebut dengan hostage syndrome.

Di tengah modernitas saat ini, dibanding ‘ketergantungan’ perempuan, otonomi perempuan jauh lebih dibutuhkan. Bukan saja oleh perempuan itu sendiri, tetapi juga oleh laki-laki dan masyarakat secara umum. Potensi kemaslahatan dari peningkatan otonomi perempuan sangat besar. Misalnya, secara empiris, otonomi perempuan berdampak pada pembangunan ekonomi jangka panjang, sebagaimana hasil analisis sejarah dari Jorg Baten dalam kolomnya The Positive Impact of Female Autonomy.

Otonomi perempuan berkaitan erat dengan keberdayaan seorang perempuan dalam pengambilan keputusan. Perempuan berhak dan berkuasa untuk menentukan arah dan tindakannya secara mandiri. Muslimah, sebagai populasi perempuan yang dominan di negeri ini, perlu memperoleh pemahaman tentang pentingnya memiliki otonomi. Pemahaman itu perlu pula diperoleh dari sumber agamanya sendiri. Esensi kesalehan dari otonomi perempuan, sebenarnya telah diinformasikan di dalam al-Quran melalui sosok wanita surga, Asiyah, isteri Fir’aun.

Karakter otonom dari Asiyah adalah kesalehannya yang sangat menonjol dan khas. Wanita salehah kebanyakan dikelilingi oleh lingkungan keluarga yang saleh pula, berbeda dengan Asiyah, ia merupakan wanita berjuang sendiri merawat keimanan dan kesalehannya. Keimanan Asiyah berbanding terbalik dengan kejahatan dan kesesatan yang tersebar luas di sekitarnya. Sebagai seorang isteri Firaun, ia tidak terpengaruh sedikitpun dengan kekafiran suaminya. ini adalah contoh otonomi diri yang sangat subversif. Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman (QS. At-Tahrim: 11)

Musthafa Al-Maraghi dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa Allah SWT menjadikan istri  Fir’aun sebagai perumpamaan bahwa hubungan  orang-orang dengan orang orang mukmin tidak akan membahayakan orang-orang mukmin sedikitpun, jika jiwa orang-orang  mukmin  itu  bersih  dari  kotoran.  Asiyah diminta Fir’aun untuk memeluk berhala yang mereka anut, serta mengakui uluhiyah  Fir’aun. Tetapi  Asiyah menolak dan berjihad secara bersungguh-sungguh kepada Allah SWT sehingga dia menemui Tuhannya dalam keadaan beriman.

Otonomi Asiyah sudah ditandaskan sejak awal kehadirannya dalam skenario penyelamtan Nabi Musa AS. Ia berperan penting dalam menyelamatkan seorang bayi yang kelak menjadi nabi bagi zamannya (Musa AS). Fir’aun, suaminya, saat itu telah membuat kebijakan untuk membunuh setiap bayi bani Israil yang terlahir pada masa itu, Asiyah mencegahnya untuk membunuh seorng bayi yang ia temukan hanyut di sungai. Dan berkatalah isteri Fir’aun, “Ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari (QS. Qashash: 9)

Berkat intervensi Asiyah itulah, bayi Musa AS selamat. Keterlibatan Asiyah yang telah memengaruhi pengambilan keputusan Fir’aun merupakan bukti bahwa ia memiliki kekuatan dan keberdayaan atau otonomi diri. Asiyah mampu terlibat dalam otoritas, bahkan di hadapan suami yang sebenarnya sangat otoriter. Penyelamatan bayi Nabi Musa AS memang masa lalu, namun independensi Asiyah, kemampuannya dalam membuat keputusan, menyuarakan suatu opini, serta memiliki partisipai yang tinggi dalam dikusi keluarga, merupakan pesan universal yang bergema hingga saat ini.

Secara umum, perempuan dalam al-Quran sering berbicara dengan otoritas, wawasan, dan kecerdasan. Tokoh perempuan dalam al-Quran, seperti Asiyah, mengartikulasikan pikiran mereka dengan jelas dan efektif dalam situasi sulit. Salah satu pesan penting yang ditekankan al-Quran melalui narasi-Nya tentang Asiyah yaitu takdir dan spiritualitas seseorang ada di tangannya sendiri. Jenis kelamin dan hubungan tertentu tidak membantu ataupun menghalangi seseorang dalam perjalanan menuju Tuhan. sebaliknya, keyakinan, tindakan, dan upayanya sendiri yang membebaskannya, mengantarkannya pada keselamatan.

Asiyah adalah sosok perempuan spiritual yang mencapai pengalaman mistik dan kedekatan kepada Tuhan seperti seorang sufi. Doanya diabadikan di dalam al-Quran, “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim” (QS. At-Tahrim: 11). Kata-kata saleh Asiyah ini sangat mirip dengan doa Nabi Musa AS dalam QS. al-Qashshas ayat 21. Bukan kebetulan, karena ia adalah wanita pertama yang beriman kepada Nabi Musa AS.

Tabataba’i memaknai bahwa perkataan Asiyah sebagai perkataan yang mengikuti kata hatinya. Ada kemungkinan ia menjadi teladan bagi jihad politik-agama, Asiyah menolak untuk tunduk pada kekuasaan politik dan agama otoriter, dan dia menentang tirani dengan keteguhan dalam iman dan doanya. Spiritualitasnya menjadi fondasi jihad aktifnya dalam memberontak pada setiap pemaksaan dan ancamn Fir’aun.

Oleh karena itu, tindakan kita adalah milik kita sendiri dan kita sendiri yang akan bertanggungjawab untuk itu. Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah Allah, maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk keselamatan dirinya sendiri, dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri (QS. Al-Isra’: 15).

Amina Wadud, dalam Women and Qur’an, menegaskan bahwa perempuan adalah individu yang mempunyai otonomi kekuasaan atas dirinya sendiri, sama seperti laki-laki. Otonomi ini mencakup kedudukannya sebagai seorang individu yang tidak pernah dibedakan dengan individu yang lain oleh penciptanya, ia berhak untuk beribadah dan melakukan hal lain sesuai dengan pemikiran dan kehendaknya sendiri. Oleh sebab itu, menurut Amina, hubungan antara Allah dengan individu diungkapkan al-Quran dengan tidak menggunakan terminologi jenis kelamin. Al-Quran menanamkan nilai-nilai kesetaraan manusia.

Idealita otonomi perempuan mengadapi hambatan sepanjang zaman. Dalam buku ‘Sejarah Penindasan Perempuan’, Qasim Amin, seorang tokoh feminis Islam, berkeyakinan bahwa untuk bisa mengakhiri segala masalah perempuan harus ada pembebasan terhadap diri mereka (emansipasi). Kebebasan yang dimaksud Qasim Amin ialah independensi pemikiran, kehendak dan tingkah laku, selama tidak melebihi batas keabsahan dan mampu memelihara standar moral masyarakat.

Dengan demikian, otonomi perempuan adalah bagian kesalehan Muslimah yang direkomendasikan oleh al-Quran, serta sangat dibutuhkan bagi kemajuan peradaban kita saat ini. Budaya ketergantungan pada laki-laki sudah sangat lapuk di tengah modernitas saat ini. Seorang Muslimah harus memiliki sifat otonom dan berdaya bagi suami, anak-anak dan masyarakatnya. Asiyah dipilih dan disebutkan secara khusus di dalam al-Quran sebagai contoh positif bagi pentingnya otonomi perempuan. Al-Quran dan Nabi Muhammad SAW banyak meninggalkan warisan reformasi sosial untuk kepentingan perempuan dan anak perempuan. Walau masa turunnya wahyu telah berakhir, revolusi itu belum berhenti dan mesti dilanjutkan.

%d blogger menyukai ini: