Ketika mendengar nama Raden Ajeng Kartini, pasti kita langsung teringat dengan kalimatnya yang begitu menginspirasi dan melegenda, yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dalam banyak suratnya kepada Nyonya Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya”. Asal kalimat yang ia temukan dalam surah al-Baqarah ayat 257 yang berarti, “Allah pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman Islam). Sumber inspirasi itu didapatnya dari aktivitas mengaji kepada Kiai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang.  

Kartini adalah seorang anak priyayi yang harus mengikuti dan tunduk dengan adat istiadat yang dianut oleh keluarga bangsawannya. Ia lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, dan ibunya bernama M.A Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.  

Pada masa kecilnya, Kartini memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji. Ia pernah dimarahi oleh guru ngajinya karena menanyakan makna dari ayat-ayat al-Quran yang diajarkan kepadanya. Maka, sejak saat itu timbul rasa pergolakan pada diri Kartini.

Dalam berbagai sumber, di tuliskan surat bertanggal 6 November 1899 kepada Stella Zihandelaar, sahabat pena pertamanya di Belanda, Kartini menulis, “mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang ummatnya mendiskusikannya dengan ummat agama lain. Lagi pula, sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apapun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini, orang diajar membaca al-Quran, tetapi tidak mengerti apa yang dibaca. Kupikir, pekerjaan orang gilakah orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati. Bukankah begitu Stella?”

Kemudian, dilanjut dengan surat yang dikirimnya kepada Nyonya Abendanon bertanggal 15 Agustus 1902, ia menulis, “dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.”

Sampai suatu ketika, takdir mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholeh Darat. Pertemuan yang terjadi saat acara pengajian di rumah pamannya, yakni Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga merupakan seorang Bupati Demak. Pada saat berkunjung ke rumah pamannya, Kartini ikut mendengarkan pengajian. Ketika penyampaian materi yang disampaikan oleh Kiai Sholeh Darat mengenai tafsir al-Fatihah, mampu membuat Kartini terkesan. Hal ini bisa dipahami, sebab selama ini Kartini hanya membaca al-Fatihah, tanpa pernah tahu makna dari ayat-ayat itu.

Kemudian, setelah acara pengajian selesai, Kartini menemui Kiai Sholeh Darat untuk mempertanyakan semua kegelisahannya selama ini. Ia memohon kepada Kiai untuk menerjemahkan al-Quran ke dalam Bahasa Jawa, karena Kartini merasa tidak ada gunanya membaca kitab suci jika tidak mengetahui arti dan maknanya.

Akhirnya, Kiai Sholeh Darat pun mewujudkan apa yang menjadi permintaan Kartini. Kitab tafsir dan terjemahan al-Quran yang diberi nama Faidur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa non-Arab. Kitab ini dihadiahkannya kepada Kartini pada saat ia menikah dengan R.M. Joyodiningrat, Bupati Rembang. Kartini pun sangat menyukainya dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikit pun maknanya. Tetapi, sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam Bahasa Jawa yang saya pahami.”

Dari sini, Kartini menemukan terjemahan al-Baqarah ayat 257 yang membuat ia terkesan dengan kata-kata Minazh-zhulumaati ila nur yang berarti dari gelap kepada cahaya. Hal ini dikarenakan Kartini merasakan sendiri bagaimana proses perubahan yang terjadi pada dirinya, dari pemikiran tak berketentuan kepada pemikiran hidayah.

Setelah mempelajari Islam secara seksama dan penuh keseriusan, Kartini mulai melancarkan kritikan-kritikan pedas terhadap Barat melalui surat-suratnya. Kartini memang sosok pemikir yang kritis. Dalam keislamannya, justru ia memprotes kebakuan dan ketidakterbukaan ajaran Islam pada waktu itu. Agama sebagai pedoman hidup merupakan kelengkapan bagi kesempurnaan hidup seseorang. Agama yang bersumber kepada keyakinan tentang adanya Tuhan, menjadi cahaya bagi kehidupan seseorang. Kartini pada zamanya adalah pemeluk Islam dalam keadaan yang masih sangat sederhana. Tidak seperti saudara laki-lakinya yang memperoleh pendidikan pesantren, ia sama sekali tidak mendapatkan pelajaran agama secara ilmiah.

Dengan demikian, Kartini yang awalnya merasa kecewa karena hanya diajari Islam secara dogmatis, akhirnya dipertemukan dengan Kiai Sholeh Darat yang merupakan sosok ulama yang sangat mumpuni dan menginspirasi. Hal itu yang kemudian membuat Kartini tergugah dan terinspirasi oleh ajaran Islam yang diperkenalkan Kiai Sholeh Darat kepadanya. Kartini menjadi pendorong dalam kemunculan tafsir al-Quran di Nusantara.

Jika pada saat itu Kartini tidak pernah “memprotes” karena tidak mengerti Bahasa Arab, mungkin sampai sekarang tidak pernah ada tafsir al-Quran untuk kaum pribumi. Maka dari itu, Kartini pun ngaji kepada Kiai yang mampu membawa ia memahami Islam secara tepat dan penuh makna.

%d blogger menyukai ini: