Kemunculan media sosial menjadi ruang baru (new media). Ia bisa menawarkan berbagai macam kemudahan. Sayangnya, kebebasan dan kemudahan itu tidak diimbangi dengan kecerdasan bermedia. Arus informasi yang mengalir terkadang menjadi liar dan tak terbendungkan. Tak jarang, berita yang ditampilkan berisikan isu hoaks yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dalam Cambridge Dictionary (2017) disebutkan, hoaks adalah rencana untuk menipu sekelompok besar orang, bisa juga diterjemahkan sebuah tipuan. Pada intinya hoaksadalah informasi yang bukan berdasarkan fakta atau data melainkan tipuan dengan tujuan memperdaya masyarakat dengan model penyebarannya yang secara luas, popular, dan masif.

Perkembangan teknologi membuat kesadaran masyarakat terhadap resiko akibat media sosial, salah satunya hoaks begitu rendah. Ironisnya, tak sedikit orang kecil dan kaum awam yang sepenuhnya belum paham dan mengerti tentang informasi yang diberikan. Kemudian menelan informasi secara mentah-mentah, tanpa menyaring dengan pemahaman yang seharusnya.Oleh sebab itu, diperlukannya kesadaran bersama untuk bisa memiliki tingkat literasi media sosial yang tinggi.

Tanpa literasi media, seorang tidak bisa memberdayakan informasi dengan tepat. Karenanya, diperlukan upaya penguatan untuk memahami informasi yang beredar. Dengan memberikan pengetahuan serta bertujuan meminimalisir sisi negatif dari media sosial. Dalam hal ini, spirit pesantren patut menjadi teladan. Ratusan tahun sejak berdirinya, pesantren telah mewariskan nilai-nilai anti hoaks yang terus dipupuk dan dijaga hingga saat ini.

Adapun spirit dan nilai-nilai pesantren dalam melawan hoaks adalah sebagai berikut, pertama informasi pengetahuan yang dibangun di dunia pesantren tentunya berbasis ilmiah, yakni melalui berbagai macam kitab para ulama dari masa dahulu hingga sekarang sebagai rujukannya. Hal ini lazim disebut kitab kuning. Bagi kalangan santri, istilah kitab kuning (classical books) sangat akrab di telinga sewaktu mereka di pesantren.

Teks berbahasa Arab yang ditulis atau dicetak di atas kertas berwarna kuning berisi tema-tema keislaman dari berbagai disiplin keilmuan yang dipelajari. Bahkan tak sedikit memiliki hubungannya dengan geliat intelektual pesantren pada saat ini. Dalam pandangan Martin van Brueinessen dalam tulisannya berjudul, Pesantren and Kitab Kuning: Maintenance and Continuation of a Tradition of Religious Learning memaparkan bahwa kitab kuning menjadi karakter khas untuk menyebut teks klasik ini dan menyematkannya sebagai warisan intelektual dan membentuk iklim ilmiah.

Tradisi mengambil rujukan dari kitab kuning ini semestinya bisa menginspirasi para pengguna media sosial. Di dalam menyebarkan sebuah informasi seharusnya kita merujuk terlebih dahulu pada sumber yang jelas. Sumber yang tidak absah, tidak disertai rujukan, tidak perlu disebarkan (share). Apalagi, informasi yang mengandung  ujaran kebencian, SARA, dan atau menyinggung pihak lainnya. Jelas, harus merujuk pada sumber yang benar agar tidak menimbulkan fitnah.

Kedua, dalam setiap persoalan informasi yang simpang-siur, pesantren kokoh dengan tradisi dan nilai tabayyun yang dimiliki. Para kiai atau santri saling silaturahim, berdialog, dan atau saling check and recheck informasi satu sama lain. Mereka saling bertukar pikiran dalam suasana kekeluargaan dan keharmonisan. Dengan demikian, isu yang menyebar bisa digali kebenaran sumbernya, sehingga persoalannya mudah terselesaikan.

Dari sini,  nilai yang dimiliki pesantren perlu dilakukan para pengguna media sosial. Tidak hanya berkoar-koar dengan tawuran opini melalui media sosial saja. Tapi juga dilakukannya dialog dan verifikasi informasi dengan berbagai pihak agar isu yang berkembang bisa menemukan titik-temu. Karena sejatinya, isu bisa berputar bebas yang pada ujungnya menimbulkan ketidakharmonisan dan perpecahan antar sesama.

Ketiga, nilai-nilai keilmuan pesantren memiliki mata rantai (sanad) yang saling berhubung, misalnya ilmu yang didapatkan dari satu guru memiliki keterhubungan dengan guru yang lain. Pesantren berpedoman bahwa ilmu, terutama ilmu agama, dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Karena itu, jelas harus mengetahui siapa guru yang mengajarkannya, dan atau dari mana guru tersebut mendapat ilmu.  

Jika jelas mata rantai keilmuan yang dimiliki sang guru, maka ia bisa menggali ilmu darinya. Oleh sebab itu, bisa kita teliti antar pesantren satu dengan yang lain pasti saling memiliki hubungan dengan guru. Tentunya, Nilai-nilai ini bisa kita implementasikan dalam bermedia sosial. Informasi yang kita terima harus dapat  diperjelas dari siapa dan dimana kita mendapatkannya.

Dengan cara ini, maka kita tidak mudah terprovokasi untuk menyebarkan informasi sebab pertanggungjawabannya berat. Sebelum kita membagikan informasi tersebut, lebih baik kita filter terlebih dahulu mana yang benar-benar valid dan mana yang hoaks agar tidak menjadi bagian dan pelaku berita bohong tersebut.

Syahdan, nilai spirit yang diterapkan pesantren untuk melawan hoaks dapat menjadi inspirasi bagi para pengguna media sosial. Jika nilai-nilai ini mampu diterapkan dalam bermedia sosial, alangkah damainya bangsa ini. Segala persoalan bisa teratasi dengan baik tanpa perlu terjadi perang urat saraf. Informasi yang diterima bisa dirujuk kebenarannya untuk disikapi lebih jauh. Pun suasana kehidupan tetap selaras dan harmonis, serta persoalan terselesaikan tanpa perlu memperkeruh suasana.

%d blogger menyukai ini: