Gus Dur kecil dipanggil dengan nama Abdurrahman al-Dakhil yang berarti sang penakluk. Merujuk pada sejarah Dinasti Umayyah, nama Abdurrahman al-Dakhil dikenal sebagai sosok pemimpin yang menaklukkan Cordoba di abad ke 8M. Ia bahkan dijuluki Rajawali dari Quraisy karena kepandaian dan keberaniannya.

Energi dari nama tersebut ternyata mewujud dalam kiprah perjalanan hidup Gus Dur. Ia dikenal sebagai figur dengan pemikiran yang melampaui zamannya. Cerdas dan berani, menjadi karakter yang melekat kuat padanya.

Gus Dur adalah sosok yang multidimensi. Ia merupakan perwujudan dari citra ideal Islam Indonesia yang sanggup menjembatani ortodoksi keislaman dengan gagasan-gagasan modern. Gus Dur mampu secara cakap dan arif membaca titik terdalam dari esensi agama dan realitas manusia. Sosok yang hanya ingin dikenang sebagai pejuang kemanusiaan ini, telah menyumbang beragam pemikiran yang futuristik dan masih patut dipertimbangkan untuk menjawab tantangan sosial keberagamaan negeri ini.

Saat ini, diskursus mengenai religiositas menjadi wacana yang laku diperbincangkan oleh masyarakat luas. Mulai dari kalangan santri, abangan, priyayi, juga masyarakat urban. Dinamika tersebut bisa dibilang merupakan salah satu fenomena post-modernisme, di mana manusia mulai berbondong-bondong merapat pada hal-hal yang berbau agama. Rasa dahaga setelah berkejaran dengan realitas budaya modern yang cenderung mekanistik dan bendawi, membuat kebanyakan manusia mencari hal yang bisa menjadi penawarnya.

Spirit keagamaan masyarakat ini terartikulasi dalam beragam versi dan dosis militansinya. Adapun yang kerap menyita perhatian publik adalah gerakan keagamaan kalangan fundamentalis-patologis yang cenderung kaku dan tertutup. Praktik dan cara pandang mereka terhadap agama sering menyebabkan Islam kehilangan watak dinamisnya. Orientasi keberagamaan mereka cenderung bersifat ekstrinsik-simbolik, mengacu pada perilaku menggunakan agama sebagai pelindung, pembelaan diri, pelarian, dan status sosial.

Kita tentu masih ingat kasus Ahok yang disinyalir melakukan penistaan terhadap al-Quran. Setelah itu pecahlah fenomena yang dilabeli sebagai aksi bela Islam. Aksi tersebut digelar berjilid-jilid, bahkan menghasilkan reuni dan alumni. Kalangan grassroot awam mungkin menganggpnya sebagai aksi heroik dan simbol persatuan umat. Tanpa sadar atau enggan mengakui bahwa gerakan itu sebenarnya amat kental dengan muatan politik.

Selain itu, aksi kekerasan, vandalisme, dan perusakan Wihara serta kelenteng sebagai reaksi dari adanya protes seseorang atas volume toa masjid, bukanlah bentuk membela agama. Peristiwa ini terjadi pada 2016 silam di Sumatera Utara. Pengeras suara tidak ada hubungannya sama sekali dengan ajaran agama, karena ia sekadar produk kebudayaan manusia yang tidak sakral.

Kalangan yang menyebut diri sebagai pembela agama ini justru menjadi penyumbang maraknya kekerasan baik verbal maupun fisik, menguatnya isu sektarianisme, serta meningkatnya sentimen keagamaan. Mereka identik dengan keberpihakan yang membabi buta terhadap agama yang diyakini. Kemudian kecenderungannya, agama tersebut terepresentasikan tidak dalam nilai-nilai moralitas, melainkan dalam identitas kelompok.

Nalar fundamentalis-patologis semacam ini didorong oleh tendensi yang tidak murni dalam beragama, sehingga nilai kemanusiaan dalam agama dipinggirkan oleh mereka. Apa yang mereka lakukan bukan sedang membela agama, melainkan membela kepentingan dan pandangan pribadi atas nama agama.

Bagi Gus Dur, Islam adalah mata air inspirasi. Agama diartikan sebagai sumber pedoman kehidupan guna mengembangkan ajaran agama itu sendiri. Semangat humanisme universal atau spirit kemanusiaan yang bersumber dari Islam adalah acuan utama Gus Dur dalam membahasakan agama pada tataran kehidupan sosial masyarakat.

Gus Dur menemukan universalisme Islam dalam ajaran kemanusiaan. Artinya seluruh nilai utama yang meliputi tauhid, fikih, dan akhlak menunjukkan kepedulian mendalam atas nasib kemanusiaan. Humanisme menempatkan manusia sebagai pusat realitas dengan fungsi ganda, yakni subjek dan objek sekaligus atas alam. Gagasan humanisme tersebut diturunkan dalam beberapa terma penting, seperti jaminan kebebasan dalam beragama, jaminan adanya perlindungan hak-hak dasar kemanusiaan, budaya demokratis, serta perlindungan terhadap kalangan minoritas.

Penghayatan atas agama, dalam sudut pandang Gus Dur akan melahirkan penghargaan atas hak-hak dasar manusia. Seluruh agama mengajarkan moralitas dan budi yang sama. Maka dari itu, menghargai pluralisme dan multikulturalisme adalah langkah mengukuhkan nilai agama itu sendiri.

Klaim bela agama pun konflik yang mengatasnamakan agama terjadi karena jati diri agama tidak dipahami sebagaimana mestinya. Agama memiliki tiga tataran, sebagaimana dipaparkan oleh KH. Masdar Farid Mas’udi dalam bukunya Kiai Masdar, Membumikan Agama Keadilan. Tataran ketiga dari konsep tersebut adalah dimensi agama sebagai realitas empiris dalam arena kehidupan manusia.

Kenyataannya, agama sebagai fenomena sosial ini telah mengalami distorsi hebat. Instrumen agama, seperti manusia pilihan selaku utusan serta kitab suci, yang keduanya berfungsi mengantarkan manusia pada hakikat agama, kemudian justru dipandang sebagai Tuhan itu sendiri. Agama yang semula adalah komitmen kemanusiaan dengan karakter substansial-inklusif, kemudian berubah menjadi komitmen golongan yang formal-eksklusif.

Membela agama, sebenarnya hal tersebut adalah klaim absurd yang justru ‘menyerang’ kemuliaan agama itu sendiri. Di tengah maraknya konflik sektarianisme dan ujaran kebencian, masyarakat membutuhkan pemahaman yang positif dan konstruktif terhadap isu-isu keagamaan.

Seluruh gagasan serta sepak terjang Gus Dur telah menunjukkan bahwa ia berjuang mengukuhkan dimensi agama pada posisinya masing-masing. Berupaya memegang teguh komitmen kemanusiaan dan moral untuk menjadi insan beragama seutuhnya.

Gus Dur menandaskan, bahwa agama itu dihayati dan dikembangkan, bukan ‘dibela’ dengan teriakan berapi-api. Jangan mudah memasang nama Tuhan atau agama dalam sebuah gerakan. Alih-alih membela agama (Tuhan), yang terjadi kemudian justru tindakan yang kontraproduktif terhadap nilai dan ajaran agama.

Mengenai Tuhan, Gus Dur pernah berpesan bahwa Allah SWT tidak butuh pembuktian atas kebesarannya. Dia Maha Besar karena kewujudan-Nya, dan apa yang diperbuat orang atas-Nya tidak akan berpengaruh pada wujud dan kekuasaan-Nya.

Agama adalah institusi buatan Tuhan yang berisi nilai etik, moral, dan prinsip-prinsip dasar kehidupan, berfungsi untuk memandu dan membela manusia. Ajarannya baik, indah, dan mulia. Kedudukan tinggi ini tidak lagi butuh akan pembelaan. Manusia hanya bertugas membahasakan agama tersebut ke dalam bentuk praktik yang berorientasi pada pemanusiaan manusia untuk mencapai hakikat beragama yang sesungguhnya. Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: