Dalam kepercayaan Jawa, konon anak yang dalam kandungan ibunya lebih dari batas masa yang lazim, menjadi pertanda akan keistimewaan si anak. Benar saja, tanah basah Indonesia telah melahirkan sosok paripurna yang padanya terpancar pertautan elok antara paham keagamaan dengan kearifan lokal. Dikandung ibunya selama 14 bulan. Adalah Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari, tokoh nasional terkemuka yang pantas disebut ulama sekaligus kiai. Pengabdiannya pada umat dan bangsa ini tidak diragukan lagi. Dunia internasional pun mengakui.

Zuhairi Misrawi dalam Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan mengutip dari Clifford Geertz (1960), menyebutkan bahwa Kiai adalah produk dari pergulatan antara nilai-nilai keagamaan dan praktik kebudayaan lokal. Demikian Kiai Hasyim, meskipun pernah mendulang ilmu bertahun-tahun di tanah Arab. Tetapi nilai-nilai kultural tradisional lokal tidak kemudian ia benturkan dengan ajaran agama.

Mbah Hasyim, sapaan akrabnya, merupakan seorang yang gandrung ilmu pengetahuan dan memiliki spiritualitas tinggi. Sekalipun berasal dari trah pesantren, ia tidak mencukupkan diri belajar di pesanten ayahnya saja. Mbah Hasyim berguru dari satu pesantren ke pesantren yang lain di tanah Jawa dan pernah tujuh tahun belajar di Hijaz. Sepulang ke Tanah Air, ia mulai mendirikan pondok pesantren. Kiai Hasyim dikenal sebagai ulama progresif dengan pemikiran modern bercitarasa lokal.

Pada masa kolonial, Mbah Hasyim menjadi salah satu motor penggerak perjuangan rakyat melawan penjajah. Keberadaannya, oleh kolonial dianggap sebagai ancaman karena mampu memantik semangat pergerakan massa. Tidak hanya sekali Mbah Hasyim ditawari penghargaan oleh Belanda ataupun Jepang. Namun, upaya penjinakan tersebut ditolaknya mentah-mentah. Ibarat mahasiswa, Kiai Hasyim akan dikenal sebagai paket lengkap, yakni seorang akademis sekaligus organisatoris yang tekun dan teguh.

Mbah Hasyim dikenal keras terhadap segala bentuk penjajahan. Ia selalu menghimbau rakyat dan tokoh masyarakat untuk tidak tunduk ataupun berkongsi dengan penjajah. Ketokohan Kiai Hasyim terus menguat. Banyak langkah-langkah berani dan strategis dalam upayanya memerjuangkan kedaulatan dan kehormatan sebagai seorang Muslim serta bangsa Indonesia. Dikisahkan, Kiai Hasyim pernah dipenjara oleh Jepang karena menolak melakukan seikerei (penghormatan kepada dewa matahari). Ia juga mengeluarkan ultimatum agar umat Muslim tidak berlayar dengan kapal Belanda saat musim haji.

Dalam pandangan Hadratussyaikh, perjuangan secara personal dalam melawan kompeni tidak akan membuahkan hasil yang signifikan. Sebab itu, ia gigih menggelorakan semangat nasionalisme, patriotisme, dan spirit persatuan di tengah masyarakat. Karena dengan modal persatuan dan pertalian batin, bangsa ini dapat bahu-membahu serta bergotong-royong menjemput kedaulatan dan kemakmuran bersama.

Pada 1926, Nahdlatul Ulama (NU) lahir sebagai wadah perjuangan para ulama dalam meraih kemerdekaan serta menyemai nilai-nilai Islam di bumi pertiwi ini. Kehadiran NU tentu tidak lepas dari peran sentral Kiai Hasyim selaku pendirinya. NU lahir dari rahim Islam, kultur, dan pahit getir perjuangan bangsa. Sebab itu, misi ke depannya tak lain ialah menjaga keutuhan bangunan bangsa dan kehidupan keberagamaan umat yang moderat.

Momen emosional yang menjadi simbol kuat bahwa Hadratussyaikh adalah figur ulama dan pejuang sejati adalah dengan dikeluarkannya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 oleh Mbah Hasyim. Indonesia yang kala itu baru mencecap sejenak kemerdekaan, telah kembali diusik oleh Belanda yang tak menyambut baik kemerdekaan bangsa ini. Mendengar hal itu, Mbah Hasyim dengan sigap melakukan konsolidasi dengan para kiai NU se-Jawa dan Madura untuk mengambil sikap atas kondisi saat itu. Tercetus kemudian resolusi tadi yang menyatakan wajibnya memertahankan Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Satu-satunya musuh republik Indonesia kala itu adalah Belanda yang kembali ke Tanah Air dengan membonceng sekutu. Atas dasar ini, seluruh umat Islam terutama NU harus mengangkat senjata melawan Belanda dan sekutu yang hendak melakukan pendudukan lagi. Selain kontribusi fisik, bagi yang berada di luar radius medan jihad wajib menyumbang berupa materi. Fatwa jihad tersebut yang menjadi penyebab meletusnya pertempuran 10 November 1945, dan kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Ultimatum jihad tadi terbukti telah menjadi pemicu efektif yang membakar gelora perjuangan umat untuk melawan penjajah. Perasaan senasib sepenanggungan melahirkan persatuan. Siapapun tentu tak ingin lagi hak-hak dasarnya direnggut.

Langkah Hadratussyaikh tersebut menjadi bukti kecintaannya yang menghujam dalam terhadap bangsa dan negara ini. Jika ditilik lebih dalam, selain komitmen untuk mengusir penjajah, resolusi jihad ini adalah tindak lanjut dari Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1935. Mbah Hasyim dan NU berkomitmen untuk tidak menjadikan Indonesia sebagai negara Islam ataupun negara sekuler.

Kiai Hasyim Asy’ari adalah kiai dan ulama yang lisan dan lakunya selaras, ilmu dan amalnya bersesuaian. Ia benar-benar menampilkan diri sebagai ulama pewaris pendar-pendar kenabian. Menjadi pengayom umat serta penjaga bangsa. Tidak salah jika predikat pahlawan nasional tersemat padanya.

Hadratussyaikh, adalah mahaguru seluruh umat dan seorang negarawan yang loyal. Mbah Hasyim menegaskan, sekalipun nasionalisme adalah produk Barat, tapi tidak sama sekali berseberangan dengan agama. Selalu terngiang di telinga kita kalimat, hubbub al-wathan min al-iman; kecintaan terhadap Tanah Air ialah bagian dari iman. Adalah Kiai Hasyim yang berperan mempopulerkan semboyan tersebut. Kiai Hasyim Asy’ari bukan sekadar ulama yang hanya peduli urusan domestik pesantren saja. Namun ia juga berkontribusi besar untuk wibawa dan kedaulatan ummat serta bangsa. Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: