Menjadi pendakwah itu sangat mudah, Anda cukup memakai pakaian koko, soraban, peci, gamis dan bersikap secara Islami, terus mempunyai keberanian bebrbicara di depan orang banyak. Hal itu sudah cukup dikatakan bahwa Anda adalah seorang penceramah atau ustadz. Seseorang mampu berdakwah dari majelis ke majelis, dari masjid ke masjid. Itulah fenomena Ustadz saat ini.

Semenjak para ulama yang alim wafat, banyak bermunculan ustadz dan da’i-da’i yang tidak cukup ilmu agama. Berbicara persoalan agama, dan juga berfatwa, serta seringkali menyesatkan kelompok lain.

Hal demikian pernah diingatkan oleh Nabi Muhammad SAW sejak 1400-an yang lalu. Dalam hadis sahih, sesungguhnya Allah tidak menganggkat ilmu dengan sekali cabutan dari pada hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan (HR. Bukhari).

Jika para banyak Ulama wafat dan orang-orang bodoh menggantikannya, maka mereka menjadikan agama hanya sebatas kepentingan dunia saja, akhirat bukan hal yang diutamakan. Nilai keikhlasan pun bisa dipertaruhkan. Karena itu, ilmu menjadi pondasi dasar untuk pendakwah. Semakin dalam ilmu seseorang, semakin terlihat wibawa dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah.

Dalam Islam, dakwah ini sifatnya mengajak. Menjadi sebuah kewajiban kah kita berdakwah? Tentu hal tersebut harus terus diupayakan oleh seluruh umat Islam. Dakwah artinya mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan, dan hal itu dianjurkan. Dakwah sudah tertuang dalam berbagai ayat dan hadis. Namun, akan lebih baik mendakwah diri sendiri.

Yang menjadi pemahaman ustadz masa kini adalah berdakwah harus melalui mimbar-mimbar, kajian, dan masjid. Tidak penting kedalaman ilmu agama atau tidak. Yang terpenting adalah menyampaikan. Bahkan dengan potongan hadis, balliguni walau ayat, sampaikanlah walaupun satu ayat, menjadi dalil kuat, agar seseorang bergerak untuk menjadi pendakwah. Hanya menguasai satu ayat dan satu dalil, menjadikan seorang merasa layak untuk terjun ke masyarakat dalam berdakwah.

Semudah itu ternyata dakwah. Dahulu kala, para Ulama itu menyiapkan anaknya untuk menjadi penghafal Al-Quran. Kemudian mendalami berbagai aspek ilmu keagamaan, khususnya disiplin ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu nahwu, ilmu shorof, ilmu tauhid,  dan akhlak. Walaupun si anak dirasa ilmunya cukup mendalam, namun sifat tawadhu Ulamanya tidak hilang. Untuk terjun ke masyarakat anak yang sudah alim tersebut belum merasa pantas untuk menyampaikan ilmunya, berbanding terbalik pada zaman sekarang.

Bermodal dari mengikuti kajian dan diskusi, serta menghafal potongan ayat atau hadis, mereka memantaskan diri sebagai penceramah. Lalu, mengisi pengajian di masjid-masjid dan media sosial. Akibatnya, penyampaian terkait persoalan isu tentang keagamaan hanya mengikuti hawa nafsu. Bukan mendamaikan, justru malah memecah belah. Dakwah yang bersifat menyejukkan, berubah menjadi menakutkan. Dakwah yang seharusnya merangkul, jadi memukul. Itu semua, karena tidak dilandasi pengetahuan ilmu agama yang memadai.

Melihat fenomena tersebut, maka dakwah bukan hanya sekedar bicara, akan tetapi berdakwah harus memiliki keilmuan yang mendalam dan meningkatkan ilmu keagaaman. Berisfat rendah hati dan tawadhu.

Oleh: Asep Supandi