Terkait foto Bung Karno bersama tiga pria, salah satunya diklaim sebagai Habib Hussein Shihab, ayah dari Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Muhammad Rizieq Shihab, adalah hoaks. Beberapa media mainstream, telah mengklarifikasi hal ini. Foto tersebut bukanlah ayah dari Habib Rizieq. Tapi Muhammad Asad Shahab, seorang jurnalis yang merupakan pendiri kantor berita Arabian Press Board (APB).

Dalam ceramah Rahmat Baequni, wacana yang ingin disampaikan klaim ini bisa diduga, untuk mengembalikan lagi citra Habib Rizieq di mata umat, yang saat ini masih berada di Arab Saudi. Dengan mengangkat nama Hussein Shihab, diharapkan jadi peringatan bagi mereka (katanya) yang telah mengusir Habib Rizieq dari Tanah Air. Karenanya, kemudian terdengar suara-suara yang ingin mengangkat ayahnya Habib Rizieq itu sebagai pahlawan nasional.

Diakui, kiprah keturunan Arab dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, sangat jelas. Bersama komponen bangsa lainnya, para pemuda keturunan Arab ikut berperan merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah.

Pengakuan terhadap Hussein Shihab sebagai pejuang RI tidak ada masalah. Tapi jika diajukan sebagai pahlawan nasional, saya rasa masih terlalu dini. Karena masih banyak keturunan Arab yang lebih pantas diperjuangkan sebagai pahlawan nasional. Lebih baik pandangan dilayangkan pada sosok H. Mutahar.

Beliau adalah seorang Habib, keturunan Rasulullah SAW. Namanya, Husin Mutahar. Lahir di Semarang pada 5 Agustus 1916. Beliau layak disebut pejuang dan diangkat sebagai pahlawan nasional, karena beberapa hal berikut.

Pertama, beliau adalah seorang pejuang, yang ikut dalam “Pertempuran Lima Hari” di Semarang melawan tentara Jepang, pada 15-20 Oktober 1945. Kedua, seorang ajudan Bung Karno sejak 1946 di Yogyakarta. Beliau diberi pangkat militer Mayor Angkatan Darat. Ketiga, beliau adalah pendiri gerakan Pramuka dan Paskibra. Hingga masa orde baru, beliau masih aktif mengurus Paskibra ini.

Keempat, dikenal sebagai komposer musik, terutama untuk lagu kebangsaan dan anak-anak. Lagu-lagu kebangsaan karya beliau diantaranya HymneSyukurHari Merdeka, dan Dirgahayu Indonesiaku. Dalam hal ini, beliau bukan saja berjuang melalui fisik, namun juga bergerak dan merajut ikatan-ikatan kolektif kebangsaan melalui sarana budaya, yaitu lagu-lagu nasional. Lewat lagu-lagu inilah kita menciptakan mitos bersama akan satu nusa dan satu bangsa dalam ikatan NKRI.

Kelima, penyelamat bendera pusaka ketika Yogyakarta diserbu Belanda. Saya rasa inilah kisah heroik beliau yang semakin menguatkan kepantasan beliau sebagai pahlawan nasional. Bendera merah putih bisa berkibar dengan indah sampai hari ini, berkat jasa beliau.

Ceritanya, dalam agresi militer Belanda yang kedua pada 19 Desember 1948, sebelum ditawan bersama pejabat negara lainnya, Bung Karno menitipkan bendera merah putih kepada beliau. Lalu bendera dibawa dari Yogya ke Semarang, namun di Semarang beliau tertangkap.

Untungnya, beliau sudah membuka jahitan bendera itu menjadi dua, kain merah dan putih terpisah. Tujuannya, agar Belanda menyangka itu kain biasa, jika ketahuan tidak bisa dirampas. Dengan penuh perjuangan, beliau berhasil melarikan diri dengan naik kapal laut menuju Jakarta.

Tibanya di Jakarta, bendera itu dijahit kembali. Terus bendera dititipkan kepada Soedjono untuk diserahkan kepada Bung Karno di Bangka. Dengan ini selesailah misi beliau dalam menyelamatkan sang kaka merah putih. Atas jasanya dalam melindungi bendera merah putih, beliau mendapatkan anugerah Bintang Mahaputera pada 1961.

Terakhir, H. Mutahar diangkat menjadi Duta Besar Republik Indonesia pada Tahta Suci di Vatikan, pada 1969-1973. Biasanya, yang menjadi duta untuk Tahta Suci adalah dari kalangan Katolik. Tapi beliau yang merupakan seorang Muslim, Habib pula, dipercaya memikul jabatan ini.

Dengan meninggalkan cerita inspirasi, beliau wafat pada 9 Juni 2004 pada usia 87 tahun. Walaupun beliau berhak dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata, tapi beliau menolak hal itu dan memilih untuk dimakamkan di TPU Jeruk Purut Jakarta Selatan.

Dari H. Mutahar, kita belajar menjadi orang yang ikhlas dan rendah hati. Bagaimana menjadi Indonesia dan mencintai Tanah Air. Bagaimana mempertahankan kemerdekaan. Bagaimana berjuang dengan tulus. Bagaimana menjaga Pancasila dan NKRI. Bagaimana membela masyarakat. Tanpa harus menyebut saya Indonesia, dari agama, etnis, dan suku tertentu. H. Mutahar, seorang keturunan Arab, Habib pula, telah membuktikan itu semua. Tanpa minta untuk diakui.

Beginilah seharusnya seorang habib itu, bukan seperti sebagian habib-habib yang ada sekarang. Yang terkadang suka membuat kerusuhan, kegaduhan, kemarahan dan seterusnya. Maka jika para Habaib ingin mencalonkan seorang Habib jadi pahlawan nasional, sebaiknya mengusulkan Habib Husin Mutahar.

Oleh: Panji Setiawan